Hari, minggu, dan bulan-bulan dalam tahun ini akan dikenang sepanjang masa. Sejarah akan mencatat itu sebagai peristiwa yang amat sangat langka. Kejadian begitu global yang belum pernah ada. Generasi yang mengalami dapatlah disebut mendapat perlakuan istimewa. Itu semacam kehormatan untuk merasakan suka duka di bawah ancaman kematian si Corona.
Era di mana setiap orang merasa maut sudah di depan mata. Ikut gemetar menyaksikan si virus menyapa teman dan tetangga. Syukurlah bagi mereka yang dapat pulih seperti sediakala. Namun ikut meneteskan air mata melihat mereka yang harus berakhir di rumah duka. Pemakaman pun dilakukan dengan tergesa-gesa. Keluarga hanya dari jauh menatap dengan hati iba.
Jika saja ada kesempatan untuk diam. Merenungkan peristiwa ini dalam-dalam. Perhatikanlah catatan sejarah perjalanan umat Tuhan. Tidak ada peristiwa yang bersekala besar yang tidak menyangkut umat beriman. Semua itu ibarat kabar dari teman. Pesan alarm dari alam. Tanda-tanda zaman khusus ditujukan untuk dikau dan daku yang hidup dalam bayang kelam.
Yesus menjawab, “Kalian memang pandai melihat gejala-gejala cuaca di langit. Langit merah pada senja hari menandakan besok cuaca akan cerah, langit merah pada pagi hari menandakan cuaca buruk sepanjang hari. Tetapi tanda-tanda zaman yang begitu jelas tidak dapat kalian pahami. (Matius 16:2,3 FAYH)
Kemungkinan dalam hitungan bulan wabah ini akan selesai. Dengan kemajuan teknologi, dalam waktu relatif singkat, vaksin telah tersedia. Pemerintah berlomba-lomba agar vaksin segera siap pakai. Jika harapan itu tidak lagi sebatas andai-andai. Maka syaraf kekhawatiran yang telah berbulan-bulan tegang dapat segera santai. Semoga dengan tanda-tanda itu umat Tuhan tidak abai.
Namun sejarah lebih sering bercerita lain. Umat Tuhan acap kali lalai. Jauh lebih mudah mengatisipasi gejala-gejala alam. Seperti mengurai DNA si virus untuk akhirnya didapat vaksin. Dari pada memahami maksud dibalik penderitaan. Mengerti pesan teman yang tersembunyi dalam lipatan tanda-tanda zaman.
Sebagaimana catatan sejarah yang terjadi dalam kitab Kejadian. Air bah dalam zaman Nuh seakan-akan memaksa mulai lagi peradaban. Babak baru dalam kehidupan. Namun sayang, belum beberapa generasi. Manusia berulah kembali. Bukankah menara Babel itu simbol perlawanan? Kengerian air bah begitu cepat terlupakan. Manusia kembali menantang Tuhan.
Sejarah lanjut berkisah. Sekitar 400 tahun di Mesir bangsa Israel dijadikan kelas bawah. Diperbudak, ditekan, ditindas hingga tak sanggup membantah. Diperlakukan seenaknya oleh penguasa yang haus disembah-sembah. Akibatnya parah! Dari generasi ke generasi umat Israel secara psikis tertawan. Begitu juga secara rohani sudah tidak ada harapan. Hingga datang tulah dan wabah.
Berjatuhanlah korban anak sulung. Sepanjang malam di seluruh Mesir terdengar isak tangis meraung-raung. Bak si Corona menyapa rumah demi rumah dari satu desa ke lain kampung. Berabad-abad tertawan. Terperangkap tidak dapat melawan. Hanya semalam bangsa Israel terlepas dari kurungan.
Cerita sejarah belum juga terhenti. Salomo dengan cerdas kemudian mendirikan Bait Suci. Di kota Yerusalem itu gagah berdiri. Ke tempat suci inilah umat berdatangan dari segala penjuru negeri. Tidak tertinggal juga datang penziarah dari luar negeri. Sejak itu, Bait Allah telah menjadi pusat ibadah umat selama hampir 1 milenium.
Ke bangunan itulah jiwa raga dan hati umat tertambat. Pelan tapi pasti, bangunan itu berubah menjadi keramat. Seiring berjalannya waktu, tidak dapat lagi dibedakan, apakah jema’at menyembah Allah ataukah tempat? Ke dua-duanya sudah melekat erat. Sampai jiwa umat terperangkap! Hingga kemudian DIA datang DIA ditangkap. DIA disiksa hingga wafat.
Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. (Yohanes 2:21)
Sekali lagi umat Tuhan terlepas dari kurungan. Terbebaslah jema’at dari keharusan beribadah di bangunan. Ritual, jabatan, dan fungsi keimaman tidak lagi diperlukan. Sekarang jema’at tidak lagi dikendalikan oleh material batu-batuan. Sejak itu, Bait Allah di Yerusalem tinggal kenangan. Itu sebagai ingat-ingatan. Ingat Bait Allah, ingat Kristus yang dibangkitkan.
Sejarah kembali bersuara gaduh. Sebagaimana generasi setelah era nabi Nuh. Hanya dalam tenggang 300 tahunan setelah Mesias bangkit, umat kembali terikat dengan bangunan. Ritual, jabatan, dan fungsi keimaman kembali dihidupkan.
Setelah itu masa-masa suram, abad kegelapan, menimpa kekristenan. Lebih dari 1.700 tahun jema’at kembali terikat dengan bangunan. Jiwa umat terperangkat dalam ketidaktahuan. Tidak ada tokoh iman yang mumpuni untuk membebaskan. Hingga si Corona muncul ke permukaan.
The Greatest Escape! Pelarian terbesar dalam peradaban. Sekitar 25 juta umat percaya di tanah air dipaksa kabur dari keharusan beribadah di dalam bangunan. Dan sekitar 2,5 milyar orang Nasrani di dunia ngacir dari penjara tradisi mingguan. Jema’at didesak untuk tidak lagi terikat ke ritual dan aturan-aturan.
Berapa lamakah kesadaran ini akan bertahan? Itu pilihan! Kemanakah arah perubahan? Akankah umat berkeliaran gak karuan? Sahabat sudah cukup dewasa untuk menentukan langkah ke kiri atau ke kanan. Namun, itupun terserah puan dan tuan. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |




