Dari Taman Eden daku dan dikau telah ditendang. Entah bagaimana. Ini fakta. Eden telah hilang. Pahit. Penyakit merajalela. Nestapa di mana-mana. Itulah dunia sekarang. Nasib mujur dan sial, sama saja. Kaya miskin juga tidak berbeda. Cepat atau lambat, semua akan pergi ke ujung ‘sana.’ Pergi ke antah berantah di balik cakrawala.
Di luar Eden, daku dan dikau jadi bimbang. Ragu dan gelagapan. Hidup tak jauh dari sekedar bertahan. Kalang kabut menghadapi persaingan. Namun hati selalu merindukan yang telah lama melayang. Suasana Eden, kapankah itu kembali menjelma? Tegor sapa dengan Sang Pencipta. Itu bak hidup di sorga tapi di dunia.
Angan-angan itu telah lama terbang. Itu bak hidup dalam halusinasi rohani. Mengimpikan yang telah lama pergi. Tinggal lamunan sendiri. Masing-masing menyelamatkan diri. Sayang! Tapi itu harus diakui. Daku dan dikau tak tahu jalan pulang. Kembali ke Eden yang telah hilang.
Tidak heran banyak tawaran. Berjubel usulan. Kaum elite rohani berani menjanjikan. Tokoh-tokoh agama tak sangsi meyakinkan. Nasihat-nasihat yang begitu menggiurkan. Semua menjanjikan jalan pulang.
Aaahhh! Akhirnya sadar ketika jiwa terdiam.
I took another walk around the neighborhood and realized that on this earth as it is—The race is not always to the swift, Nor the battle to the strong, Nor satisfaction to the wise, Nor riches to the smart, Nor grace to the learned. Sooner or later bad luck hits us all. (Pengkhotbah 9:11, the Message)
Terjemahan bebas dan paraphrasing:
Aku mengamati sekeliling. Pahit. Inilah fakta kehidupan. Perlombaan lari tidak selalu dimenangkan yang tercepat. Pertempuran tidak selalu direbut yang kuat. Kenikmatan hidup, sayang, itupun sering bukan kepada yang berhikmat. Kelimpahan hidup acap kali bukan kepada yang pandai. Nasib mujur kerap bukan kepada yang terpelajar. Orang baik-baik malahan sering terkapar. Sial! Cepat atau lambat, nasib buruk menghantam semua.
Ups! Kalau begitu, untuk apa hidup?
Kalau kecepatan bukan untuk memenangkan pertandingan. Jika kekuatan bukan faktor penentu tampil di depan. Bila pengalaman tak menjamin selamat di perjalanan. Pandaipun tak dapat membawa keberuntungan. Yang bijaksana tidak mesti dilimpahi makanan. Keberhasilan tidak ditentukan oleh pendidikan.
Saat saudarapun tidak dapat diandalkan. Orangtuapun bisa mengabaikan. Kecantikan mendatangkan kecelakaan. Keramahtamahan berujung permusuhan. Banyak teman jadinya merepotkan. Kebaikanpun tak mendapat balasan. Justru kejujuran menjerumuskan. Ketulusan disalahgunakan. Banyak harta tidak menguntungkan.
Ups! Kalau begitu, untuk apa hidup?
Yang lambat ataupun cepat. Lemah bersama yang kuat. Yang tidak berpendidikan sama dengan yang berpengetahuan. Yang miskin sebaringan dengan yang berlimpahan. Yang di belakang sejajar dengan yang selalu tampil di depan. Semua duduk sama rendah. Berdiri sama tinggi.
Tak peduli! Sendirian. Ataupun banyak keturunan. Yang muda ataupun telah ubanan. Kaum elite rohaniawan sama saja dengan orang kebanyakan. Tidak ada yang diistimewakan. Tidak ada perbedaan. Akhinya di ujung ‘sana’ daku sendiri yang harus berhadapan. Kenyataan hidup yang menyakitkan. Kematian!
Penyesalan sering kali datang belakangan. Pertanyaan dari dulu hingga sekarang. Kalau demikian untuk apa hidup? Jika semua akan redup. Bak sebuah buku akan juga segera ditutup. Semua sedang berjalan. Menuju satu tempat dipinggiran. Arah yang tidak mungkin dibengkokkan. Tempat akhir semua orang. Kuburan!
Boleh-boleh saja dikau dipuja-puja. Dikenal sebagai penemu start-up ternama. Aplikasimu ada di mana-mana. Bisnis tak pernah nomor dua. Unicorn pertama di Indonesia. Pemegang saham tersenyum gembira. Keuntungan melimpah ada di depan mata. Namun karena tuntutan semakin menggila. Makan tidur tak teratur karena tuntutan kerja. Tak diduga! Siapa sangka. Dikau tiada. Di usia muda pula. Tinggal kenangan. Sial! Segera juga dikau dilupakan.
‘The greatest tragedy in life is not death, but a life without a purpose.’ (Myles Munroe: Tragedi terbesar dalam hidup bukanlah kematian, tetapi hidup tanpa tujuan)
Celaka! Hidup sirna tujuan. Aaahhh! Untuk apa hidup?
Sejatinya, tujuanlah yang memberi semangat. Itu melahirkan motivasi murni tidak berkarat. Memberi harapan walaupun dalam keadaan darurat. Kemauan semakin gila jika dilaknat. Itu yang membuat. Tak menyimpang ke kiri dan kanan walau sesaat. Selalu muncul inspirasi walau sadar tersesat. Puas walau yang diimpikan belum didapat. Tujuanlah yang membuat dikau kuat. Berlayar di badai kehidupan yang hebat.
Walau lemah terasa kuat. Tetap jalan meski berat. Tetap ceria biar sekarat. Lapang dada kendati dituduh sesat. Baik hati walau air tuba yang didapat. Tak putus asa kalaupun matahari tak tampak. Selalu ada harapan walau sekitar gelap. Yang diimpikan tahu akan hilang lenyap. Hidup hanya sekejap. Tersenyum ceria ketika semua sudah lewat. Itulah hidup yang ada tujuan. Tetap menyala walau sudah sekarat. Semoga daku dan dikau terhindar dari tragedi hebat. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by StockSnap from Pixabay

