Semakin ke sini semakin terasa. Ternyata memang ini fakta. Si Corona sungguh perkasa. Sekitar 7,5 milyar penduduk dunia dibuatnya tidak berdaya. Walau keberadaan vaksin sudah di depan mata, namun bagaimana hidup ke depannya masih tanda tanya.
Akankah hidup kembali seperti sebelumnya? Mungkinkah bisnis akan balik lagi seperti tidak ada apa-apa? Dapatkah tradisi talisilaturahmi antar sesama bertahan seperti semula? Tegor sapa antar handaitolan dengan tatap muka ataukah akan lebih sering melalui dunia maya? Masihkah ritual ibadah boleh dilakukan seperti sedia kala? Bakalkah gedung dengan sistem jabatan gerejani dapat kembali bekerja?
Dan Saulus senang juga atas pembunuhan itu [Stefanus]. Hari itu juga jemaat di Yerusalem mulai dikejar-kejar, sehingga semua orang beriman, kecuali rasul-rasul, terpencar-pencar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. (Kisah Para Rasul 8:1 BIS)
Khotbah Petrus yang lantang membuahkan ribuan orang menjadi percaya (KPR 2:41). Dan dengan tekun dan sehati jema’at yang baru ini bersekutu setiap hari di Bait Allah (KPR 2:46). Singkatnya, Bait Suci di Yerusalem tak lagi dapat dilepaskan dari ritual umat mula-mula. Hingga datang musibah!
Stefanus, martir pertama, dibunuh dengan kejam. Kalau sudah menyangkut keyakinan, justru golongan elite rohanilah yang cenderung berprilaku tak berprikemanusian. Stefanus disiksa dengan metoda dirajam. Si korban akan tewas dengan luka yang dalam. Itu kematian dengan cara perlanhan-lahan karena bertujuan agar yang lainnya menjadi ketakutan.
Umat percaya generasi pemula mengalami aniaya. Ketakutan dengan cepat menyebar ke mana-mana. Ribuan umat kocar-kacir meyelamatkan nyawa. Mereka tak henti dikejar-kejar. Akibatnya terjadi pelarian besar. Umat percaya kabur terpencar-pencar. Jama’ah berhamburan lari ke luar dari kota Yerusalem.
Bait Allah di Yerusalem tinggal kenangan. Sambil ngacir sebagian umat melirik ke belakang. Bangunan nan begitu megah terpaksa ditinggalkan. Sulit dijelaskan! Namun, sebagian umat terlihat air mata berlinang. Ikatan batin dengan Bait Tuhan tidak dapat dilukiskan. Sambil lari ketakutan, sebagian jema’at masih terngiang-ngiang dengan ungkapan: “Lebih baik sehari dipelataran rumah Tuhan dari pada seribu hari di tempat lain.” Ternayata memori indah ini hanya tinggal khayalan.
Sejak peristiwa itu, terlepaslah umat percaya dari kerinduan berat untuk bertemu di bangunan Bait Suci. Keinginan itu terpaksa ditinggal jauh-juah kalau ingin menyelamatkan diri. Akhirnya, jema’at tidak lagi ikuti ritual yang menjadi eksklusif tanggungjawab suku Lewi. Jema’at bak dipaksa lepas dari aturan ibadah di Bait Suci.
Mulailah era baru pemisahan tajam antara ritual para imam dengan iman dari umat yang sedang dalam pelarian. Iman jalanan ini tidak lagi membutuhkan secara khusus bangunan. Demikian juga ritual-ritual tidaklah lagi suatu keharusan. Fungsi yang hanya dimiliki secara istimewaan bagi suku Lewi sudah ditiadakan.
Bukankah sekarang pun perkara yang serupa menimpa warga jema’at dari seluruh denominasi gereja? Ancaman kematian menimpa umat mula-mula. Tidakkah umat abad 21 ini mengalami hal yang sama dengan munculnya si Corona? Layaknya jema’at pada abad pertama berlarian ke segala arah. Demikian juga jema’at dewasa ini lari tunggang langgang dari wabah. Dan umat dipaksa untuk tinggal di rumah.
‘The Christian faith has nothing to do with knowing a creed, or having a set of moral law, or believing certain doctrines, but rather to do with knowing person.’
Ini ekspresi iman yang mengherankan. Itu satu-satunya macam keyakinan yang ada di peradaban. Ibadah tidak membutuhkan tempat atupun bangunan. Tidak ada urut-urutan dalam menghadap Tuhan. Karena iman ini bukanlah perkara aturan, doktrin, ataupun ritual kebaktian.
Esensi iman ini adalah masalah hubungan dengan seseorang. Dan pribadi itu adalah Sang Mesias, si orang jalanan. Lahir-Nya pun di kandang. Sepertinya DIA tidak suka diperlakukan sebagai orang terpandang. DIA lebih suka sebagai tunawisma bak pengemis musiman menjelang lebaran. Dengan sengaja DIA habiskan waktu-Nya di jalanan.
Si Pengembara yang tidak betah diam di suatu tempat. DIA senantiasa bergerak dari saat ke saat. Sebentar DIA ada di rumah sahabat. Lain kali DIA sedang berdiri di pelataran Bait Allah untuk berdebat. Namun, DIA lebih sering ada di jalanan. Dengan demikian, DIA lebih mudah ditemukan oleh orang kebanyakan.
Sejak semula, iman jalanan itu memang dihadirkan dari rumah ke rumah. Ia enggan terperangkap dalam bangunan Bait Allah. Sebaliknya, itu gamblang dipertontonkan di sepanjang jalan. Sehingga ada peluang bagi setiap orang untuk menemukan. Itulah Berita Sukacita bagi sekalian insan.
Apakah Allah tengah mengingatkan daku dan dikau apa yang terjadi pada jema’at mula-mula? Peristiwa 2000 tahun lalu kembali nyata. Adakah yang cukup bijak belajar dari sejarah? Berani ambil sikap di tengah-tengah serangan wabah.
Ingat iman jalanan, iman yang tak terikat bangunan. Dengan demikian, ada kesempatan bagi mereka, yang berpantang ke bangunan, untuk mengenal Tuhan. Di tanah air, bukankah yang seperti itu yang kebanyakan? Moga daku dan dikau siuman. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |



