252. ‘Kehilangan Besar’

Viewed : 927 views

Hari-hari ini terasa suasana batin semakin mendung. Jauh dekat terdengar bunyi senandung. Jerit nada pilu dalam rangkaian ritme kidung. Korban sudah tidak lagi terhitung. Tempat Pemakaman Umum tidak cukup luas lagi untuk dapat menampung. Baik di kota hingga pelosok yang paling ujung. Si Corona menebar maut bak angin pitung beliung. Semua dilibas hingga buntung.

Namun dibalik awan kelabu. Di seberang topan yang menderu. Kala jema’at mulai siuman dari situasi yang serba kaku. Terungkaplah sesuatu yang tidak disadari sejak dulu. Perkara esensi yang terkandung dalam kitab Perjanjian Baru. Rahasia Bait Allah yang bukan dari kayu. Justru si viruslah yang menyadarkan jema’at hingga tahu.

Allah mencari tempat. Sebagai Sang Tunawisma yang ke sana ke mari mencari alamat. Namun belum juga dapat lokasi yang tepat. Setelah enam hari DIA seakan-akan bekerja berat. Badan basah karena keringat. Aaahhh, badan letih terasa penat. DIA butuh tempat untuk istirahat. Rumah Tuhan yang telah lebih dari 1.700 tahun salah dimengerti umat.

Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu. (1 Korintus 3:16,17)

‘TIdak tahukah kamu?’ kata Alkitab. Tidak mengertikah kamu wahai umat? Bukankah itu sudah jelas terlihat? Itu bukanlah perkara-perkara katagori kelas berat. Rahasia yang hanya dapat dipahami mereka dari golongan ahli Taurat! Apalagi harus pakar untuk dapat menangkap arti ayat-ayat.

Itu jelas, singkat, dan padat! DIA tidak mencari rumah dari batu yang dipahat. Apalagi bangunan megah setinggi langit. Ataupun bahan bangunan dari material kualitas nomor wahid. ‘TIdak tahukah kamu,’ bahwa era bangunan itu sudah lewat?

Namun umat tidak sadar dan sudah lebih dari 17 abad terikat. Bentuk ibadah jema’at terperangkap. Ritual ibadat bak ke bangunan itu semua berkiblat. Dari generasi ke generasi berlalu, tetap saja bangunan itu sangat memikat.

‘TIdak tahukah kamu?’ Ketidaktahuan. Kesalahpengertian. Kaum elite rohani mengajarkan. Umat mendapat pengetahuan. Puluhan abad terlewatkan. Hingga umat di era pandemi ini disadarkan. Abainya kenyataan yang sedemikian. Itu begitu pentinganya bagi kemurnian iman.

Jema’at kehilangan besar. Dalam rukun iman, hal itu sangat akbar. Perkara yang sebegitu sangat mendasar. Fondasi tiang ibadah umat percaya itu telah buyar. Tidak ada lagi pegangan yang cukup kekar. Si Corona telah membuktikan bahwa sinyalemen ini benar. Bukankah sudah lebih 7 bulan ibadah di bangunan telah bubar? Ayo, sadar!

Umat kehilangan besar. Akibatnya, goyanglah pilar-pilar. Ekspresi ritual dingin laksana besi. Umat terjebak dalam irama tata liturgi. Aturan-aturan ibadah kaku bak batu. Kehangatan relasi cinta dengan DIA menjadi beku. Jema’at larut terhisap dalam rangkulan urutan-urutan. Ibadah menjadi rangkaian tahapan-tahapan. Itu berubah bak menjadi suatu pementasan. Ibadah layaknya menjadi parade tujuhbelasan.

Ibadah telah kehilangan makna. Sang Tunawisma tersingkir ke pojok gereja. Liturgi dan persembahan puja puji ambil alih kursi Sang Raja. Emosi dan kepuasan logika menjadi tujuan utama. Itulah yang menjadi ukuran kerhasilan ibadah satu-satunya. Umat jadinya tidak lagi peka. Kasih sesama hilang entah ke mana.

Jema’at tidak disengaja menjadi budak aturan dari urutan-urutan. Umat bak penonton pasif dalam suatu pertunjukan. Ibadah telah terpisah dari kehidupan nyata sehari-hari dari seorang insan. Manusia menjadi objek kegiatan-kegiatan. Ini kehilangan besar yang tak terkatakan.

Akibat kronisnya lebih parah dari yang diduga. Aku dan dikau tidak lagi sepenuhnya menjadi manusia. Jama’ah seakan-akan telah kehilangan cinta. Kasih sesama pelan-pelan tergerus hingga sirna. Hidup jadi egois untuk diri sendiri saja. Yang lainnya sudah hilang dari agenda. Saling memanfaatkan itu pun sudah biasa.

Namun, siapa sangka? Si Corona merubah segalanya.

‘TIdak tahukah kamu, bahwa kamu adalah rumah Allah?’

Ini gagasan tiada dua. Alkitab dengan jelas bersuara. Terang benderang artinya tidak dapat diartikan berbeda. Itu pun tidaklah berbelit-belit untuk dapat dicerna. Allah mencari manusia. Sejak itu, DIA tidak dapat lagi lepas dari Saudara.

DIA tergila-gila untuk tinggal bersama Andinda. Itulah Allah sesembahan Abraham, Ishak, dan Yakub yang esa. Allah yang tidak dapat lagi terlepas dari manusia. Hati-NYA telah terpaut dengan Adinda. DIA begitu rindu diam bersama-sama Anda. Karena Rumah Tuhan itu, ya Saudara!

Begitulah rencana-NYA sedari sebelum ada ciptaan. Allah tengah mencari tempat kediaman. Rumah tempat DIA dapat nyatakan diri apa adanya. Tempat DIA merasa diterima. Syukurlah, melalui wabah ini umat disadarkan.

Karena itu, ibadah tidaklah dapat lagi dilepaskan dari kemanusiaan. Bukankah DIA berkenan ditemukan dalam konteks kemanusiaan? Daku tidak dapatkan DIA dalam kegiatan. Apalagi jika dikau rasa itu cukup melalui belajar Firman Tuhan. Temukanlah DIA di rumah Tuhan! Di dalam relasi sesama insan. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Samuel Martins on Unsplash

Comments

comments