244. ’Dorongan Besar’

Viewed : 857 views

Wabah telah merubah segala-galanya. Tidak ada lagi yang sama. Yang dulu-dulu mungkin ada di masanya begitu berjaya. Menjadi idaman kaum remaja. Kiblat tanda achievement para anak muda. Obsesi kaum eksekutif muda. Karena menjadi inspirasi sukses dalam bekerja. Sekarang itu telah sirna. Bak lampu teplok kehilangan nyala. Dan akhirnya dilupakan begitu saja. Akankah kejayaan masa lalu tersingkir selama-lamanya?

Yang hendak bertahan harus merubah paradigma. Seakan-akan semua mendadak dituntut menjadi sarjana. Setiap orang dianggap cukup pintar untuk menyesuaikan pola. Tahu bagaimana harus bergaya. Memutuskan sendiri perkara. Kala hidup di bawah bayang-bayang mara bahaya.

Tidak terlihat namun sangat terasa. Maut ada di mana-mana. Setiap hari semakin bertambah saja yang terkena. Hidup mati layaknya sudah setipis belahan tujuh bulu mata. Kematian sudah begitu nyata. Sungguh terasa maut telah menjelma. Tidak lagi asing bak telah menjadi tetangga. Kapan saja dapat ditegor sapa. Dan melayanglah nyawa.

Kalau sudah menyangkut nyawa. Kalau hidup mati taruhannya. Entah dikau professor ternama. Dokter spesialis serba bisa. Atupun hanya kaum dari kelas ekonomi biasa-biasa. Bahkan hingga rakyat papa nan jelata. Tak pandang rupa. Semua tekuk lutut tak berdaya. Pasrah begitu saja. Ikuti aturan baru dari si Corona.

Sungguh si virus digdaya. Makhluk tak kasatmata tiada dua. Laksana Sang Kuasa dalam bentuk nyata. Bagaikan malaikat pencabut nyawa. Menjemput setiap anak pertama. Dari keluarga Mesir di malam gelap gulita. Di zaman Firaun yang jumawa. Tangisan terdengar di mana-mana. Semua gentar dengan sapaannya. Terbirit-birit ikuti kehendak sang kuasa. Usulan baru si virus pencabut nyawa.

Semua kembali ditata. Tidak hanya sekadar bagaimana cara tegor sapa. Ataupun pola baru dalam bekerja. Malahan hingga yang paling pribadi dari seorang insan manusia. Perkara sensitif di dalam dada. Yaitu bagaimana dalam menjalankan syariat agama. Beribadah kepada Sang Pencipta.

Dulu itu dianggap haram hanya sekadar untuk didiskusikan. Baru tingkat wacana saja untuk dipertimbangkan. Masih jauh dari untuk menjadi suatu ketetapan. Apalagi menjadi pedoman umum kebaktian. Itu sudah jauh-juah ditengarai menyalahi aturan. Syariat agama yang dipegang teguh dari turunan ke turunan.

Sekarang itu bagaimana?

Tidak beribadah di gedung seperti biasa. Apalagi usia lansia dilarang keras ke gereja. Dipaksa melupakan nostalgia lama. Kenangan indah beribadah bersama-sama. Betapa senangnya dengar khotbah berapi-api dari pendeta. Bulu kuduk berdiri dengar senandung pujian dari paduan suara. Sungguh membuat ibadah begitu bermakna.

Sekarang itu bagaimana?

Hari Minggu di rumah saja. Tidak ada lagi greget perjamuan kudus. Bak sudah lupa persembahan khusus. Perpuluhan pun tidak lagi harus. Dan semua menerima itu begitu saja. Tokoh-tokoh agama diam kaku tak bersuara. Sinode pun tidak berdaya. Layaknya sekarang sudah tidak ada aturan. Masing-masing umat dianggap cakap menentukan pilihan. Sila jalan sendirian.

Sekarang itu bagaimana?

Tidak sedikit ambil langkah pengganti. Ikuti ibadah virtual sendiri-sendiri. Tidak lupa siap-siap dengan pakian rapi. Ikuti layar kaca dengan teliti. Kadang duduk lain kali berdiri. Mata melotot melihat layar tv. Setelah satu jam selesailah ibadah di Minggu pagi. Betapa lega hati. Telah menjalankan perintah ilahi.

Sebagian ambil langkah agak santai. Angkat kaki sambil minum kopi. Ritual dan pakaian mereka tidak peduli. Sambil rileks pilih channel sesuka hati. Cari khotbah yang dikehendaki. Dari kaliber pengkhotbah kelas teri. Hingga pembicara ternama dari luar negri. Sila pilih suka-suka hati. Semua hanya sejauh ujung jari!

Sekarang itu bagaimana?

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

Versi bahasa Inggris The Message:

So here’s what I want you to do, God helping you: Take your everyday, ordinary life—your sleeping, eating, going-to-work, and walking-around life—and place it before God as an offering. Embracing what God does for you is the best thing you can do for him.

(Terjemahan bebas: Inilah yang Saudara harus lakukan. Persembahkanlah kehidupan sehari-harimu -seperti tidur, makan, bekerja, bahkan jalan-jalan- sebagai ibadah yang berkenan di hadapan-Nya. Lakukan semuanya itu dengan niat suci nan tulus. Itulah ibadah yang sesungguhnya.)

Ibadah bukan lagi di mana ataupun kapan. Apalagi lagi bagaimana! Ibadah adalah kehidupan. Kebiasaan dalam keseharian. Tidak ada ritual ataupun urut-urutan. Setiap tarikan napas adalah suatu persembahan. Setiap kata yang keluar dari mulut adalah suatu kebaktian. Setiap detik setiap jam adalah ibadah kepada Tuhan.

Ini dorongan besar. Nyawa taruhannya. Memaksa setiap insan yang takwa. Agar kembali belajar. Menemukan makna ibadah yang hakiki. Ayo, pilih ibadah sejati. Itupun terserah pilihan hati. Setiap orang sila putuskan sendiri. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Edward Cisneros on Unsplash

Comments

comments