240. ’Lompatan Besar’

Viewed : 840 views

Ini era informasi. Hampir tidak ada lagi yang tersembunyi. Semua terbuka bagi yang mencari. Bak semua terang benderang di bawah sinar matahari. Hanya dengan satu ‘click’ data sudah tersaji. Bagi yang haus akan mendapati. Bahwa sesungguhnya, dunia telah berada di ujung jari.

Siap-siap jika informasi datang bertubi-tubi. Menghujani kalbu tak henti-henti. Kabar baru datang silih berganti. Berita sudah antri setiap pagi. Kalau viral itu bahkan diulas sepanjang hari. Begitu serunya kupasan para ahli. Sehingga tidak jarang itu terbawa dalam mimpi.

Setiap orang diperhadapkan dengan warta terkini. Sepertinya manusia di zaman ini. Di masa-masa pandemi. Semua tidak bisa lagi hidup tanpa informasi. Kejadian di belahan dunia lain, segera tersiar ke pelosok negeri. Dunia semakin menyatu di bawah perkembangan IT.

Jangan tanya mana yang benar. Apakah nyata ulasan berita yang disampaikan para pakar? Ataukah semua kesasar? Jangan begitu saja percaya apa yang didengar. Tanggapi semua dengan sabar. Ingat! Setiap sumber akan mengakui datanya paling akurat. Beritanya yang paling tepat.

Waktu-waktu ini memang paling mencengangkan. Perubahan peradaban yang menakjubkan. Jika saja dikau rehat sebentar sambil merenungkan. Generasi ini beruntung dapat menyaksikan. Karena yang seperti ini belum pernah terjadi dalam peradaban.

Di waktu manakah dalam sejarah kala seluruh siswa dapat dipaksa? Entah pelajar SD itu berada di desa. Dari keluarga petani yang sederhana. Ataupun mereka dari kelas menengah dari pinggiran kota. Jangan ditanya lagi keharusan itu untuk mahasiswa. Sejatinya, masyarakat umum pun sama saja. Semua dipaksa untuk harus ada akses ke dunia maya.

Jangan kaget! Spontan desa yang tidak ada listrik pun mulai melek. Anak-anak hingga nenek-nenek. Semuanya mulai sibuk bicara tentang internet. Walau signal telepon lelet. Namun, di tangan HP terus lengket. Bak semua terkena pelet. Hidup tak lagi bisa lepas dengan gadget.

Dalam skala waktu terbentuknya kebudayaan. Peralihan kebiasaan ini terjadi dalam kecepatan yang tak terbayangkan. Peradaban internet tengah melanda seluruh kehidupan. Bukannya hanya di perkotaan. Namun juga menyeluruh hingga ke pedesaan. Generasi baru tengah dalam tahap pembiakan!

Perubahan ini dahsyat. Akan melibas semua lapisan masyarakat. Dari cara bisnis hingga model hiburan. Bentuk silaturahmi sesama insan. Pula di bidang pendidikan. Tidak ada yang dikecualikan. Termasuk dalam bidang kerohanian. Semua diatur ulang menurut si Corona usulkan.

Perilaku ibadah setiap insan manusia harus menyesuaikan diri dengan si Corona buat. Apa boleh buat. Mau setuju ataupun tidak. Sekarang dipaksa untuk taat. Hukumnya mutlak. Tidak bisa ditolak. Merubah kebiasaan turun temurun dari umat. Yang selama ini itu dipegang erat-erat. Sekarang itu hilang direnggut dalam sekejab.

Si virus mengingatkan kembali. Adanya lompatan besar dalam iman umat Nasrani. Perubahan fondasi. Peralihan profesi golongan elite rohani. Kesetaraan umat dalam berbakti. Sekitar 2.000 tahun yang silam. Kala itu Mesias muka-Nya merah padam. Lompatan besar itu sudah terjadi.

Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus. (Yohanes 2:21,22)

Sejak itu. Umat pengikut ajaran baru. Itu sangat berbeda dengan agama terdahulu. Ritual lama sudah berlalu. Umat tidak lagi terbelenggu. Bebas merdeka ekpresikan iman sesuai selera individu. Tidak dingin beku. Ataupun kaku terpaku. Kepada ritual yang pas hanya di dalam ruangan dari kayu.

Perubahan dahsyat melanda bangunan dari batu. Dari ukiran kayu ke tubuh Kristus yang baru. Tidak dibutuhkan lagi paku. Tidak diperlukan syarat adanya bangku. Apalagi mengharuskan adanya mimbar ini dan itu. Karena ibadah sejatinya ada di kalbu. Di hati dimana Kristus bertahta selalu. Itulah ibadah yang jitu. Bukan yang palsu.

Kaum elite rohani penjaga pintu. Mereka-mereka yang setia untuk menerima tamu. Tampil di depan untuk melantunkan puja puji dengan syahdu. Profesi itupun sudah tidak perlu. Itu bukan keharusan ataupun aturan baku.

Itulah lompatan besar. Perubahan mendasar. Dari bangunan bersifat physical. Dari kayu berubah bentuk ke spiritual. Dari pola jasmani. Menuju ke hal-hal yang bersifat rohani. Dari ritual sesuai urutan prosesi. Mengarah kepada ekspresi seturut apa yang ada dalam hati.

Yes! Ini perubahan signifikan. Tentu banyak berita yang akan membingungkan. Bisa jadi masing-masing saling bertentangan. Maklumlah karena ini era keterbukaan. Lebih-lebih lagi setiap penjelasan akan didasarkan. Dilengkapi uraian dari Firman Tuhan.

Di zaman Informasi begitu padat. Sangat dibutuhkan akal sehat. Agar tidak tersesat. Harap setiap berita diseleksi. Sekarang terserah daku dan dikau untuk putuskan sendiri. Ikutilah ibadah yang sejati. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Sammie Vasquez on Unsplash

Comments

comments