‘Sudah terjadi! Sudah terjadi! Sudah terjadi!’
Bak nabi Yeremia berteriak di pintu gerbang Bait Suci. Suaranya terdengar di seantero bait ilahi. Memperingatkan mereka yang hendak berbakti. Gagah. Lantang. Seorang diri! Walau suaranya mengganggu jamaah yang lagi khusuk beribadah di tempat suci. Sang nabi tidak peduli.
Setiap yang lewat bertanya dalam hati. ‘Apa yang terjadi pada nabi?’ Jamaah geleng-geleng kepala tidak mengerti. Iba melihat nabi yang sudah rambut putih dari tadi berdiri. Tidak satu hari. Akan tetapi sudah beberapa hari. Terus-menerus terkena terik sinar matahari. Hingga jamaah yakin suara bising si pak tua itu akan berhenti.
Namun, nabi tidak peduli. Dia kukuh tegak terus berdiri. Pandangannya lurus tak terpengaruh kejadian kanan kiri. Semakin banyak yang merasa dia tidak waras lagi. Nada suaranya justru bertambah tinggi. ‘Sudah terjadi! Sudah terjadi! Sudah terjadi!’ Seakan dia merasa semua orang sudah tuli.
Firman yang datang kepada Yeremia dari pada TUHAN, bunyinya: “Berdirilah di pintu gerbang rumah TUHAN, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada TUHAN! (Yeremia 7:1,2)
Ini kabar tentang kisah sedih. Fakta sejarah yang membaca akan merintih. Bagaimana ritual umat tak dapat lagi dipisahkan dengan bangunan. Gedung monumental simbol kejayaan iman. Lambang kehadiran Tuhan. Kebanggaan para elite rohaniawan. Bait Allah di kota Yerusalem. Pusat ibadah umat Tuhan. Hilang begitu saja dari penglihatan. Hancur berantakan. Tidak ada yang disisakan.
Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN, (Yeremia 7:4)
Jangan percaya kepada dusta. Walau kata-kata diucapkan oleh para tokoh agama. Seakan penyataan berdasarkan iman. Itu bak membela kebesaran Tuhan. Bagaimanakah mungkin rumah-Nya diratakan? Pasti yang Maha Kuasa akan ambil tindakan. Tidak mungkin itu dibiarkan. Bukankah disitu nama-Nya diangung-agungkan? Kehadiran-Nya dinanti-nantikan.
Pasti! Teriakan nabi Yeremia. Membuat reputasi para iman tercela. Pejabat rumah Tuhan geram tiada tara. Kelompok elite rohani dicela. ‘Ini penistaan agama!’ Teriak mereka. Pelakunya harus dijebloskan ke penjara. Dihukum tanpa ada kesempatan membela. Karena jika itu jadi fakta. Sama saja para iman menjilat ludah sendiri.
Umat juga akan gundah gulana. Tidak tahu ibadah akan bagaimana. Ritual yang sudah menjadi kebiasaan. Dari turunan ke turunan terus tak putus itu dilakukan. Akankah hilang begitu saja dari ritual iman? Itu sama sekali tidak dapat dibayangkan. Akan terjadi kebingungan. Kekacauan ibadah yang dipikirkan saja. Itu sudah mengerikan.
Dan benar saja! Yang ditakutkan menjadi kenyataan. Kemegahan Bait Allah sirna seketika. Raja Nebukadnezar datang (2 Tawarikh 36: 17-19). Kemegahan bangunan itu ditendang. Diratakan hingga tidak dapat lagi dipandang. Simbol kejayaan iman telah hilang.
Ritual iman umat tanpa bangunan!
‘Sudah terjadi! Sudah terjadi! Sudah terjadi! Lagi!’
Ini bukan lagi sekadar narasi. Apalagi mimpi. Nubuatan dari dulu sudah terbukti. Terjadi lagi. Kejadian bak perioda ribuan tahun berulang kembali. Bait Allah ditantang untuk diratakan lagi. Kabar kali ini bukan dari nabi Yeremia. Ini penentu nasib perjalannan iman umat percaya. Sekali untuk selama-lamanya!
Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Yohanes 2:19,20)
Benar saja! Pada tahun 70 M, bangunan ini kembali ditimpa kemalangan. Pasukan Romawi di bawah Kaisar Titus berperan bak raja Nebukadnezar. Bait Allah kembali dihancurkan. Diratakan. Tidak ada yang disisakan. Tinggal puing-puing yang kelihatan. Bait Allah yang megah hilang dari peradaban.
‘Sudah terjadi! Sudah terjadi! Sudah terjadi! Lagi! Dan lagi!’
Sekitar 2000 tahun sudah berlalu. Bait Allah rata kembali seperti yang lalu-lalu. Kali ini raja Nebukadnezar datang dalam wujud yang baru. Bentuk virus seperti si Corona itu. Ini terjadi di masa kini. Di generasi ini. Daku dan dikau alami sendiri.
Sudah berbulan-bulan umat di banyak tempat tidak lagi ibadah di gereja. Ataukah lebih tepatnya? Umat tidak lagi melakukan ritual mingguan seperti biasa. Akibatnya ada kegamangan di mana-mana. Tidak tahu harus bagaimana. Elite rohaniawan pun bingung harus bagaimana.
Sebagian kecil yang terpelajar ambil alternatif ibadah ikuti dunia maya. Memang agak canggung mata fokus ke layar kaca. Itu ritual yang sebelumnya tidak pernah ada. Tidak dikenal dalam sejarah umat percaya. Tidak tahu yang seperti ini akan bertahan berapa lama. Namun itu pun lumayan sudah nyaman di dada. Hingga terasa lega. Tidak merasa bersalah karena ibadah alpa. Tanda tidak terlena dengan hal-hal dunia.
Ini perioda turbulensi. Waktu daku dan dikau harus tentukan sendiri. Bentuk ritual ibadah jadi kemelut. Daku dan dikau dituntut. Untuk masing-masing cari bentuk. Teriakan nabi Yeremia mengiang kembali! Sudah lagi terjadi kini. Sekarang terserah Adinda tentukan sendiri. Mau dengar ataukah daku terus pura-pura tuli? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Photo by Mateus Campos Felipe on Unsplash




