Kawan! Apa kabar? Bagi Sahabat yang sudah di atas 60 tahun, sapaan itu banyak artinya. Hidup ini seperti ‘Balok Es.’ Dipakai atau tidak. Cepat ataupun lambat. Es akan mencair! Adakah hidup lebih bermakna selain mengenal Sang Khalik?
Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN, (Hosea 6:3).
Dalam hubungannya dengan umat manusia, mungkin supaya kita dapat merasakannya hingga ‘sumsum tulang’, Allah menyamakan diri-Nya dengan seorang tunangan bahkan seperti mempelai laki-laki yang menantikan kekasihnya:
Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki, (Yohanes 3:29).
Dan sang Mempelai Laki-laki, sebagaimana wajarnya laki-laki. Dia inginkan cinta kekasihnya eksklusif 100% untuk Dia seorang.
Jangan menyembah [patung], sebab Aku, Allah, TUHANmu, adalah TUHAN yang tidak mau diduakan, (Keluaran 20:5, terjemahan SB2010).
Wow wow wow. Allah tak happy diduakan! Memangnya, siapa yang suka diduakan? Apalagi dalam hal cinta! Kalau ada yang diduakan, artinya ada yang dinomorsatukan, bukan? Jadi, nomor satu ataupun dua, prinsipnya ada yang disingkirkan. Apa mau dikata. Sudah kodratnya. Manusia cenderung menyingkirkan Dia bahkan dalam usaha kita untuk menomorsatukannya! Maksud lo?
‘Penghalang yang paling utama dalam mengasihi TUHAN adalah melayani-Nya!’ (Henri Nouwen)
Aaahhh. Pernyataan di atas berat sekaligus membingungkan. Terutama bagi yang begitu rindu mengasihi Tuhan! Tunggu tunggu tunggu dulu ya! Aku kok bingung. Saudara? Bagi yang senang berdebat dan bediskusi bahkan belajar Alkitab hingga ikut pemuridan bisa jadi doktrin-lah yang menjadi tuhannya. Doktrin dan kegemaran berdebat telah menggeser Allah itu sendiri. Tentu hal-hal itu baik adanya. Tapi kalau itu tak menuntun kita selangkah lebih maju dalam mengenal dan serupa dengan Mesias, maka Tuhan sedang diduakan!
Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN, (Yeremia 7:4)
Umat Israel terjebak sindroma yang dikatakan Henri Nouwen. Bangga dengan kemegahan Bait Suci, tapi Allah telah disingkirkan (Yeremia 7:3). Bangga dengan metoda pelayanan. Jumawa dengan doktrin denominasi. Sombong dengan kemegahan ritual. Membusungkan dada akan kemegahan bangunan tempat ibadah. Bangga bangga bangga, namun Allah tersingkir!
Ibarat kekasih, Allah hanya dibutuhkan kala ‘kepepet’! Kala lancar? Kita gandrung dengan berkat-NYA. ‘Jangan percaya dengan perkataan dusta,’ kata nabi Yeremia di tengah-tengah umat begitu takjub dengan kemegahan Bait Suci sebagai simbol kehadiran Allah. Namun dusta itulah yang kita nikmati! Karena cemburu-Nya, Allah sakit hati terpojok tersingkir.
Ibarat syair sebuah lagu jadul. Cintamu hanya pelarian. Kau butuh kau datang. Namun sisanya engkau menduakan Aku. Baiklah! Seandainya begitu: ‘Peluklah Daku dan lepaskan!’ Wah wah wah. Cintaku baru setaraf cinta pelarian. Semoga cinta Sahabat bukan seperti daku!
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by StockSnap from Pixabay




