53. ‘Ada Apa Dengan Anting-anting’

Viewed : 857 views

Sahabat! Tulisan sebelum ini, kita mencoba untuk memahami Allah, Sang Kasih. Allah begitu vulgar alias tanpa teding aling-aling mengungkapkan perasaan-Nya. Bagaimana Dia dapat menyesal. Cemburu. Sakit hati. Bahkan hingga Dia dapat merasakan sakit hati secara pahit (Hosea 12:15). Walau harus diakui, banyak hal kita tak mengerti. Masih gelap dan tersembunyi dalam kabut misteri. Namun, apa daya. Hati yang rindu dan haus ini, memaksa kaki untuk terus melangkah walau tertatih-tatih. Jadi, kalau logika sudah buntu, biarlah hati yang bicara!

Bagaimana mungkin Sang Pencipta dapat menyesal dan cemburu? Apalagi sakit hati dikarenakan sikap ulah manusia? Tindakan cinta-Nya, sering kali sulit dipahami. Karena itu bertolak belakang bahkan berlawanan dengan kemahakuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Singkatnya itu kontradiksi dengan jati diri keberadaan-Nya sebagai Sang Pencipta! Bolehlah disimpulkan bahwa kelihatannya, Allah lebih banyak ruginya dengan menciptakan manusia. Maaf, maksudnya apa?

Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. (Yesaya 1:14)

Menjadi beban? Allah kepayahan! Allah sudah lelah (terjemahan BIMK). Pernah rasakan perangai rekan sejawat yang menjadi beban? Yang memberatkan. Kita jadi kepayahan, lelah bahkan memuakkan? Seperti itulah, Allah Yang Maha Kuasa dapat merasakan. Pertanyaan besarnya adalah: Mengapa Allah membiarkan semua ini dan menerima akibatnya? Mengapa Dia bersedia dan rela kepayahan bahkan hingga sakit hati? Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa seolah-olah Allah kalah tak berdaya? Kemanakah arah semua ini menuju? Ada apa di ujung ‘sana’ dalam keabadian?

Sahabat. Disinilah misteri cinta itu. Di sepanjang Alkitab, cinta-NYA yang ‘gila’ itu, tergambar dengan jitu. Dan misteri respon dari mereka yang hatinya tersentuh cinta ilahi. Semuanya tersembunyi rapi terbungkus dalam sa’ir, puisi, gurindam, dan ceritera kehidupan sehari-hari anak insani!

Setiap orang Israel yang membeli budak dari bangsa sendiri, maka si budak hanya diwajibkan bekerja selama 6 tahun. Dalam tahun ke-7, ia harus dibebaskan tanpa membayar apa-apa (Keluaran 21:1-6). Namun, jika si budak ‘mencintai tuannya,’ karena itu ia ‘tak mau dibebaskan’, maka prosesi berikut yang harus dia lakukan. Budak itu di bawa ke tempat ibadah. Kemudian, disuruh bersandar ke tiang pintu. Lantas, tuannya menindik telinga budak tersebut. Untuk apa? Untuk dikenakan anting-anting di telinga yang berlobang tersebut. Itulah lambang ikrar sang budak bahwa dia akan menjadi budak tuannya seumur hidupnya dengan rela. 

Mengapa dia tak memanfaatkan kebebasan di tahun ke tujuh tersebut? Bagi seorang budak, kebebasan dari status budak adalah segala-galanya. Apapun diusahakan agar merdeka. Aaahhh. Ternyata cinta telah merubah semua cara pandang budak tersebut. Yang dicari orang. Yang berharga ternyata menjadi tak berarti karena cinta. ‘Itu semua kuanggap sampah, kata rasul Paulus (Filipi 3:8).

Ups! Kuraba cupingku. Apakah tadi hanya mimpi? Ataukah sekedar khayalan? Ataukah hanya dalam tataran wacana di dunia maya alias medsos? Jangankan anting-anting, ternyata, telingapun belum berlubang! Wah wah wah. Rupanya cintaku baru sebatas cinta pelarian yang membuat Dia kepayahan. Cinta sang budak! Bagaimana dengan cinta Sahabat?

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Milada Vigerova from Pixabay

Comments

comments