496. Deepfake!

Viewed : 360 views

Sejarah peradaban bermula dari drama tipu-menipu, umpan rayuan maut yang mematikan. Author kitab Kejadian memilih tragedi ini dibandingkan narasi lain yang lebih mulia. Sejoli polos terperangkap dalam jebakan, dan dari sana lahirlah kisah manusia yang tak pernah lepas dari bayang-bayang tipu daya.

Adam dan Hawa tergoda oleh apa yang terlihat (Kejadian 3:6). Yang kasat mata membuahkan akibat
yang mengubah peta pertarungan di alam tak terlihat. Alam duniawi sejatinya terikat dengan alam rohani. Dua alam yang tak terpisah: apa yang terjadi di sini menggetarkan yang di sana (Matius 16:19; Lukas 15:10). Dan sebaliknya!

Mengapa peradaban dimulai dengan trailer trik licik, tipu-menipu? Apakah tak ada kisah lain yang lebih bermartabat? Ataukah Sang Pencipta hendak menyingkap bahwa dunia semacam inilah
tempatku berjuang? Bahwa sejak awal, panggung manusia adalah arena tipu menipu.

Yang tampak menarik bisa jadi hanyalah jebakan. Yang terdengar belum tentu semerdu yang diduga.
Segala yang dirasa, yang dikecap, yang diraba tak selalu seperti adanya. Tercium aroma surgawi—ternyata itu umpan, kail yang menjadikan daku tunduk, bahkan rela mati demi harumnya sebuah keyakinan.

Betapa mudahnya panca indra terkecoh! Bukankah itu dulu, di era purbakala? Bukankah kini peradaban sudah sebegitu maju, hingga yang aspal dapat dikenali sejak awal? Apalagi, yang KW dari yang orisinil!

Aaahhh..! Tidaklah demikian! Jangan terkecoh! Daku dan dikau hidup di dunia yang membingungkan.
Kemajuan teknologi AI (Artificial Intelligent) begitu pesat, mempengaruhi kehidupan bukan hanya perkara realita sehari-hari, melainkan juga merambat hingga ke isu-isu rohani.

Deepfake! Dengan teknologi AI, hampir-hampir tak lagi dapat dibedakan antara realitas dan ilusi.
Manipulasi gambar dan suara sudah sedemikian majunya, hingga daku mudah terkecoh oleh apa yang terlihat dan terdengar. Terlalu sulit untuk percaya bahwa yang tampak nyata ternyata hanyalah bayangan belaka, sebuah ilusi yang menipu indera.

Setuju! Teknologi AI itu netral— dapat sangat menolong, namun sekaligus mampu menjebak. Ia bagaikan pedang bermata dua: membuka jalan terang sekaligus menjerat dalam kabut.

Tak perlu lagi belajar bertahun-tahun dalam ilmu homiletika atau hermeneutika untuk menyiapkan khotbah berkualitas tinggi. Daku tak perlu pergi ke perpustakaan demi mencari referensi peristiwa purba. Dikau tak perlu jauh-jauh memburu seri buku puluhan jilid British Encyclopaedia. Kini semuanya hanya sejauh ujung jari, seakan hikmat purba tersimpan dalam genggaman.

Sayang, sudah kodratnya: lingkungan peradaban tempat teknologi berkembang telah lebih dahulu tercemar oleh drama tipu-menipu. Sebagaimana bidang lain—penemuan energi dahsyat dalam teknologi nuklir—demikian pula dengan AI. Siap-siaplah di depan, jika teknologi ini semakin diwarnai
oleh manipulasi peradaban dengan kemampuan deepfake-nya!

Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. (Amsal 4:12)

Kehidupan beriman di tengah perkembangan AI terasa membingungkan. Manusia mengembangkan kecerdasan buatan untuk mereplika bayangan diri sendiri—entah untuk menyelamatkan, atau justru menggantikan. Sayang, teknologi ini cenderung menggantikan penciptanya daripada menyelamatkan. Bisa jadi, tumpuan iman umat pun akan beralih dari DIA yang baka kepada AI yang fana. Dikira jalan lurus, tak tahunya maut.

Selamat datang di era AI, di mana realitas dan ilusi tak lagi dapat dibedakan. Bayangan dan kenyataan berbaur dalam satu layar, menyisakan kebingungan antara yang sejati dan yang semu.

Syukurlah, DIA tidak tertarik pada konten khotbah, sistematika, atau metode presentasi. DIA mencari hati! Dulu begitu, sekarang pun tetap seperti itu. Karena hanya hati yang murni menjadi altar sejati di hadapan Sang Ilahi . (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments