Trailer perkawinan campur antara alam dimensi roh dengan dunia fisik, bisa jadi, jauh lebih dahsyat pengaruh kerusakannya dari drama di Taman Eden. Kalau pemberontakan di Eden menyebabkan alam kematian menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup umat manusia, jikalau perkawinan campur ini, sejauh manakah gerangan kehancuran yang diakibatkan kepada alam ciptaan?
The first rebellion di Eden berkaitan dengan si ular dan Adam Hawa. Ambisi si kerub untuk menyaingi Sang Maha Kuasa diwujudkan dengan merebut keberadaan manusia yang pertama. Dan si paspampres berhasil, bukankah begitu yang terbaca di kitab Kejadian pasal ke tiga?
Adam Hawa tergoda, peradaban ternoda. Namun, si ular salah sangka! Dikira DIA akan menganulir rencana keberadaan manusia dan merevisi rencana semula. Jika ini yang terjadi, artinya rencana-NYA gagal. Bukankah itu menandakan DIA angkat bendera putih, sebagai tanda menerima kekalahan?
Sebaliknya, YHWH malahan bermurah hati memberi kesempatan ke dua dengan menjanjikan keturunan Hawa-lah yang akan membalikkan sejarah umat manusia (Kejadian 3:15). Si ular kalap, ambisi meluap-luap sehingga lupa siapa yang ada di puncak.
Alih-alih terbang tinggi mengatasi bintang-bintang di angkasa untuk menyamai Sang Maha Tinggi, dia tercebur ke liang kubur, ke dunia orang mati (Yesaya 14:15). Seperti yang dia kehendaki, kematian menghampiri alam ciptaan, begitulah dia menjadi lurahnya alam maut.
The second rebellion mengisahkan cerita lain. Tidak jelas, apakah pemberontakan pertama mengilhami yang ke dua? Alkitab bisu seribu bahasa. Mungkinkah makhluk-makhluk surgawi yang lain terinspirasi dengan drama di Eden?
Maaf, daku tidak tahu!
Yang pasti, perwujudan free will baik dari makhluk alam sana maupun sini masih berlanjut setelah drama Eden. Kehendak bebas untuk memilih memihak YHWH atau mengikuti sikap lurah alam maut. Hukum alam ini masih berlaku bahkan sampai sekarang hingga masa yang akan datang.
So, pemberontakan pertama barulah awal dari pembangkangan seri-seri berikutnya dari makhluk adikodrati. Fakta ini menjadi benang merah yang menjalin rapi narasi kitab Kejadian hingga kitab yang penghabisan.
Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik; (2 Petrus 2:4,5)
Rasul Petrus juga setali tiga uang dengan Yudas, mengingatkan bahwa malaikat-malaikat dapat berbuat dosa. Segerombolan malaikat bermufakat untuk beramai-ramai melibas tabir tabu. Huru-hara terjadi di alam sana, menembus pembatas antara alam spiritual dan dunia fana.
Malaikat-malaikat berbuat dosa dikaitkan dengan kejadian di era air bah. Mungkinkah ini juga maksudnya drama yang terjadi di ayat-ayat pertama kitab Kejadian pasal ke 6? Sekelompok makhluk dari alam roh mewujudkan kehendak bebas dengan mengambil jurus mabok!
Ramai-ramai menjadi serupa dengan manusia! Jurus mabok menembus tembok, tabir tabu jadi rontok. Bukankah hanya dengan jurus mabok perkawinan campur itu dimungkinkan? Percampuran aneh ini menghasilkan keturunan yang tidak wajar, yang kelak akan mengharubirukan peradaban di era antediluvian. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
