Adinda sudahlah maklum, siasat si ular mengoda Hawa sudah menjadi pengetahuan umum. Di dunia fisik, itulah kejatuhan manusia pertama. Begitu juga di alam langit, tindakan si ular menjadi perlawanan perdana kepada Sang Pencipta.
Bisalah dikatakan kalau pemberontakan ini sebagai wujud buah pilihan anugerah free will. Baik Adam Hawa, begitu juga si ular, alih-alih menjadi kawan, mereka memilih untuk melawan. Mengapa DIA merelakan mereka bertindak tidak sesuai dengan kehendak-NYA? Dan ini yang membuatku terus bertanya, mengapa seakan-akan DIA tutup mata membiarkan drama berlangsung begitu saja?
DIA tidak malu-malu, apalagi itu dianggap tabu. Alkitab bercerita lugas bagaimana kehendak bebas itu dieksploitasi di alam langit yang dampaknya sangat terasa di dunia fisik. Walau begitu, daku lebih sering ragu, berharap terjadi tidak seperti itu. Bagaimana mungkin layaknya DIA tidak tahu ataukah tertipu?
Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. (Kejadian 6:5,6)
Jika Alkitab dianggap suatu buku, maka inilah pertama kali terbaca DIA mengaku. Hati-NYA pilu bak disayat simbilu! Itu tidak begitu, tatkala Adam Hawa dan si penggoda melawan, DIA diam. Taman Eden sirna, si ular menjadi penguasa alam fana, DIA-pun tidak berkata-kata.
Dalam rangkaian peradaban, trailer Taman Eden dapatlah dianggap babak kesatu, drama berikut dalam Kejadian pasal 6 ini bak babak baru. Kira-kira apa yang berlaku, sampai-sampai Sang Maha Tahu pun curhat isi kalbu: ’AKU menyesal menjadikanmu!’
DIA rasa-rasanya tidak tahan lagi, manusia semakin tidak tahu diri. Mungkinkah trailer yang terjadi lebih sengit dari yang di taman ilahi? DI Taman Eden, DIA mencari-cari, Adam Hawa lari bersembunyi. DIA memanggil-manggil, manusia pertama terpaku menggigil (Kejadian 3: 8,9).
Di Kejadian 6: 5,6, DIA muak dengan kelakuan mereka! Kesal dengan tabiat yang kecenderungan hati hanya ke kejahatan belaka. Dan DIA menyesal telah menjadikan manusia! Adakah pernyataan lain yang lebih vulgar tentang keadaan yang sedang berlangsung?
Apa yang sedang terjadi?
Sebagaimana polanya, keruwetan di bumi merupakan dampak langsung dari kekacauan di alam adikodrati. Ke dua alam saling kait mengkait, apa yang terjadi di unseen realm terekspose nyata di di alam 3 dimensi.
Mungkinkah kebejatan hati manusia itu sebagai akibat perlawanan di alam sana? Bisa saja, ini bukan lagi pemberontakan seorang diri si ular, namun ini pembangkangan rame-rame di alam spiritual. Dari a single rebellion (Kejadian 3) kemudian diikuti a corporate rebellion (Kejadian 6) di alam roh.
Si ular menghadirkan alam fana di bumi, itu takdir yang menimpa setiap manusia, semua yang bernyawa akan mati. Si ular bermimpi menyamai Sang Maha Tinggi, sebaliknnya yang terjadi. Ke perut bumi, dunia orang mati, dia kini (Kejadian 3: 13; Yesaya 14:13-15).
Namun, siapa nanya, setelah ribuan masa, perlawanan di alam sana berhasil membuat-NYA kecewa! DIA kecewa hingga sampai kepada level menyesal menjadikan manusia! Sebagaimana sejak di Taman Eden, sekarang pun tidak berbeda. Pilihan tetap ada di tangan Puan dan Tuan. Pilihan untuk membuat-NYA kecewa ataukah gembira? Sila tentukan langkah, ke kiri atauukah ke kanan? Ingat jalan tengah bukanlah pilihan! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
