507. Melting Point

Viewed : 208 views

Meski Eden hilang dari pandangan, gema cinta-NYA tetap berdenyut dalam sejarah. Markas Sidang Ilahi di bumi telah dijarah. Proyek perluasan Taman Eden ke segala arah terhentilah sudah. Namun hati-NYA tidak berubah. Dengan tangan terbuka DIA mengundang peradaban untuk kembali pulang ke rumah.

Diperkirakan alam semesta lahir sekitar 15,5 miliar tahun silam, sejak dentuman besar, big bang, yang menyalakan galaksi demi galaksi hingga tata surya tempat bumi berdiam. Kala itu bumi masih gelap, kabut menutupi wajah mentari, angin berhembus menghela tirai kabut hingga sinar matahari menembus permukaan bumi. Maka dimulailah proses kehidupan: mikroba berdenyut, tumbuhan bersemi, dan fauna menjelma (Kejadian 1:1–25).

Walau masih banyak teka-teki, satu hal pasti: YHWH begitu teliti menyiapkan kediaman bagi si buah hati. Sebuah taman nan indah dipersiapkan di sebelah Timur Eden. Dari sana mengalir sungai besar yang membasahi taman, lalu bercabang menjadi empat. Dua di antaranya, Tigris dan Efrat, tetap mengalir hingga kini di tanah Irak modern (Kejadian 2:8–14).

Konon, bagi budaya kuno di kawasan Irak, Suriah, Israel, Yordania, dan Mesir yang dikenal sebagai kawasan Ancient Near East (ANE), istilah “taman” memiliki makna tersendiri. Penulis Kitab Kejadian, khususnya pasal kedua, tidak canggung menggunakan istilah populer kala itu untuk menjelaskan maksud ilahi.

Alkitab Ibrani ditulis dalam lanskap budaya yang telah lama mengenal konsep Gunung Allah dan Taman para dewa. Penulis Kitab Suci memakai bahasa budaya yang sama, namun dengan maksud profetik: menegaskan bahwa YHWH-lah TUHAN sejati, jauh di atas para dewa.

Bagi budaya ANE, istilah taman bukan sekadar deskripsi geografis, melainkan simbol teologis yang kaya. Sungai dan air dipandang sebagai lambang sumber kehidupan, ciri khas tempat tinggal sang ilahi. Demikian pula gunung: puncaknya dianggap sebagai kediaman para dewa, titik pertemuan langit (alam ilahi) dan bumi (alam insani).

…taman Eden, yaitu taman Allah… gunung kudus Allah… (Yehezkiel 28:13,14)

Mungkinkah itu sebabnya Taman Eden disebut sekaligus sebagai gunung? Ingat Musa di gunung Sinai, begitu pula Yerusalem berdiri di atas gunung Sion. Bisa jadi Sinai dan Sion merupakan replika profetik dari Taman Eden yang telah hilang entah ke mana, jejak surgawi yang masih beresonansi di bumi.

Dalam pandangan ini, Taman Eden bukan sekadar taman bunga tempat bersantai, melainkan markas besar pemerintahan ilahi. Markas bertemunya makhluk supernatural dengan natural untuk mengeksekusi rencan-NYA, yaitu menjadikan Taman Eden meliputi seluruh bumi (Habakuk 2:14).

”Eden was the headquarters of the cosmic King, the place where the celestial staff met to carry out the business of the global estate.” — Michael S. Heiser (The Unseen Realm)

Taman Eden semacam kantor pusat Sidang Ilahi, melting point perjumpaan makhluk surgawi dengan ciptaan yang segambar dan serupa dengan Sang Pencipta (imago Dei). Di sanalah harmoni kosmik terjalin, kerjasama dua alam dalam bisnis ilahi: penaklukan seluruh muka bumi (Kejadian 1:28).

Dalam cara berpikir ini, pemberontakan Adam dan Hawa sungguh fatal! Itu bukan sekadar pelanggaran aturan makan buah, melainkan tindakan bergabung dengan pemberontak—semacam kudeta politik di pusat pemerintahan ilahi. The first rebellion ini mengacaukan tata kelola kerajaan-NYA di bumi. Adam dan Hawa kehilangan akses atas hak istimewa sebagai anggota Sidang Ilahi, terputus dari relasi langsung dengan Sang RAJA Semesta.

Dapatlah dikatakan, kegagalan tugas Adam dan Hawa membuat proyek perluasan Eden berhenti total. Status mereka sebagai petugas kerajaan-NYA masuk ke dalam mode: non-aktif. Adam dan Hawa seakan “dipecat,” diusir dari gunung kudus-NYA, kehilangan hak istimewa yang dahulu mereka nikmati.

Namun hati Sang RAJA tidak berubah, cinta tanpa suara tetap bergema memanggil daku dan dikau untuk kembali pulang ke rumah. Seperti sejak semula, inipun sebuah pilihan: keputusan untuk ikutserta menghadirkan kerajaan-NYA ada di tangan Puan dan Tuan. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments