“Cinta pertama di Eden berakhirlah sudah, relasi terluka parah. Namun hati-NYA tidak berubah, meski harus menunggu sepanjang sejarah. Sang BAPA tetap menanti dengan tangan ramah, siap menyambut Adinda yang pulang kembali ke rumah.”
Aaahhh… dasar manusia tidak tahu dirasa. Adam dan Hawa memilih berpaling dari Sang ADA, meninggalkan pelukan kasih dan bermain-main dengan api asmara. Drama kosmik itu terjadi di dalam rumah yang DIA bangun sebagai altar cinta. Betapa pilu sukma, cinta pertama ternoda, surga pun seakan tercemar dosa.
Rumah tiada tanding, taman di Eden sebelah Timur (Kejadian 2:8). Taman misterius, persilangan alam adi-kodrati dan ranah insani, dua dimensi yang tak sebangun namun saling bercumbu di Taman Eden. Betapa ajaib, tatkala langkah ‘kaki’ Sang Pencipta dari alam baka terdengar oleh makhluk debu tanah, kala DIA berjalan di sejuknya senja (Kejadian 3:8). Taman Eden menjadi panggung intim, di mana kehadiran-NYA menyentuh bumi dengan bisikan cinta yang tak terlukiskan.
Adam dan Hawa pun bersembunyi di balik rimbun dedaun taman, seakan dapat luput dari hadirat-NYA. Romantis sekaligus miris, kisah ini membuat penglihatan-NYA seolah terbatas, seakan DIA tak melihat mereka berdua. Bak permainan petak umpet anak-anak Sekolah Minggu, Sang Maha Melihat harus berseru: “Di manakah engkau, duhai kekasihKU?” (Kejadian 3:8).
Ah, cinta memang tak tunduk pada logika—ia bisa membuat yang abadi seakan terhalang oleh dedaunan fana.
“Hate to say good bye!” Namun begitulah narasi cinta pertama—cinta duka di Taman Surga. Adam dan Hawa memilih mengikuti yang lainnya, meninggalkan Sang ADA. Tinggallah DIA terpaku dingin, menatap langkah anak-anak yang pergi dari rumah yang dengan kasih telah dipersiapkan bagi mereka berdua
Siapakah yang paling hancur oleh perpisahan ini?
Bak seorang ayah, DIA-lah yang paling remuk hati-NYA. Bayangkan seorang bapak yang banting tulang tanpa kenal lelah, berangkat pagi dan pulang larut malam, rela makan seadanya demi menabung bagi masa depan permata hatinya. Dan tatkala harapan terbentang luas, masa depan cerah menanti, tiba-tiba sang anak memilih pergi, meninggalkan rumah kasih yang telah dipersiapkan dengan segenap cinta.
Seakan segala kepiawaian Sang Maha Bijaksana, seluruh kuasa Sang Maha Perkasa dicurahkan demi menyiapkan masa depan Adam dan Hawa. Alam semesta pun bersorak gembira, bintang-bintang turut bernyanyi, binatang melata menari bersama irama sukacita. Begitulah suasana rumah-NYA, Taman Surga, kala Adam dan Hawa duduk mesra sambil bercanda.
Hari senantiasa sejuk, dan dari kejauhan terdengar sayup siulan burung nuri dan kaswari, bak orkestra agung yang mengalun seperti maha karya Beethoven: “Symphony No. 9 in D minor, Op. 125.” Irama itu menambah kehangatan dan keceriaan rumah-NYA. Air jernih yang gemercik mengalir, melengkapi atmosfer Taman Surga—tempat di mana alam bersatu dalam harmoni, merayakan cinta yang tak lekang oleh masa.
”Sejak kepergianmu, rumah ini tak lagi sama. Kehangatan candamu lenyap, berganti sunyi yang membeku di relung batin. Ya… segala masih ada: burung bernyanyi, matahari bersinar, sungai mengalir, pohon kenari tetap berdiri. Namun semua terasa hambar, hampa, kehilangan ruh. Kehadiranmu adalah jiwa rumah ini, dan tanpamu, segala keindahan hanya tinggal bayang semu tanpa nyawa.”
“Sejak engkau pergi tanpa kata, tanpa sempat mengucap ‘good bye,’ hati ini terluka. Air mata jatuh tanpa lagi sempat menangis, senyum pun berubah menjadi perih. Canda tawamu kini hanya bayang yang mengiris-iris jiwa. Tampilan luar tampak gagah, namun di dalam hancur lebur oleh perpisahan. Dan sakit ini tak berhenti—ia mengalir sepanjang sejarah, menjadi luka kosmik yang tak kunjung sembuh.”
“Hatiku takkan pernah berubah. Tanganku senantiasa terbuka, menanti engkau kembali pulang ke rumah. Setiap sore aku berdiri di pintu gerbang kota, tahun berganti tahun, menantimu hingga usia merambat senja. Sampai kapan engkau menyimpan benci terhadapku, duhai Adinda?” demikian keluh Sang BAPA.
Aaahhh… sejak awal Sang Bapa merindukan relasi mesra dengan manusia, bukan ritual agama kaku tanpa nyawa. Namun cinta pertama berakhir lara, relasi dengan Adam dan Hawa pun turut terluka.
Dan DIA berbisik: “Hate to Say Good Bye!”
Namun cinta tak pernah bisa dipaksakan. DIA rela menunggu sepanjang peradaban, dengan tangan senantiasa terbuka, siap merangkul Adinda yang suatu hari ingat kembali pulang—ke Taman Eden, rumah BAPA. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
