156. ’The Lost Romance’

Terlalu sulit untuk dimengerti. Tak sampai akal budi untuk dapat memahami. Bagaimana mungkin Dia biarkan itu terjadi? Ibaratnya seperti Dia lepas kendali. Sang Cinta tutup mata dan membiarkan mau-mu sendiri. Seolah-olah Dia sembunyi. Seperti tak peduli apapun yang akan terjadi. Itu terjadi di taman sorga lagi! Kala belum ada iri. Apalagi dengki. Telah terjadi sakit…

155. ’The Lost Eden’

Taman Eden, taman sorga. Di taman itulah bersinggungan dimensi sorga dengan dunia. Sorga ada di dunia. Spiritual dan fisik terjalin menyatu sempurna. Tuhan dan Adam bertegor sapa. Sang Ilahi dan manusia saling tatap muka. Ooo, cinta terjalin mesra. Bahkan langkah kaki-Nya terdengar dan terasa. Cinta, sejatinya, adalah kebebasan. Mungkinkah itu sebabnya aku dan dikau bukan…

154. ’Rewrite The Story’

Setiap kita datang dari latarbelakang berbeda. Masing-masing menjadi dewasa dengan jalan unik dan istmewa. Kembarpun tidak sama. Tidak ada seorangpun sebelumnya dapat menduga. Tak ada yang dapat mereka-reka. Kelak kita akankah jadi apa? Mungkinkah semuanya sudah ditentukan? Apakah nasib keturunan Adam sudah dipastikan? Dan jalan hidup setiap insan sudahkah dituliskan? Entahlah! Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu,…

153. ’Pandora Box’

Sahabat! Dari sejak semula. Semenjak awal. Sebelum ada segala sesuatu yang tercipta. Original design. Manusia diciptakan untuk tinggal di Taman Eden, Taman Sorga. Itu maksud abadi Sang Ada (Efesus 3:11). Itulah rindu dendam-Nya. Keinginan dan kehendak-Nya yang terdalam. Cita-cita abadi-Nya, tak lain tak bukan, adalah untuk ‘bergandengan tangan’ dengan umat Adam. Bercengkrama sambil ngobrol ‘ngalur…

152. ’Selamat Datang Cinta!’

Sahabat! Sejatinya, aku dan dikau tercipta karena cinta. Sebab cinta-Nya, maka dari semula dikau didisain tinggal di taman Nirwana. Metabolisme dan fisiologi tubuh diciptakan tepat sesuai dengan atmosfir nirwana. Jadi, dari awal memang dikau itu cocoknya tinggal di taman sorga. Taman diciptakan khusus untuk dikau dan hamba. Taman semua serba ada. Bekerja karena hobi semata-mata….

151. ’Pahitnya Cinta’

Cinta ternodai. Cinta Terluka. Belahan hati tak setia. Hati mendua. Betapa sakitnya! Ketika kekasih hati ingkar janji, tak tahu lagi kemana harus pergi! Langit runtuh. Impian berlalu. Jiwa layu. Kalbu kelabu. Ke siapa harus mengadu? Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah…

150. ’Cinta Rindu Cinta Pilu’

Sudahlah! Tak perlu sedih. Tak ada guna meratapi. Ini telah terjadi. ‘Nasi telah jadi bubur.’ Sejarah habis ditoreh. Nasib. Takdir setiap insan telah pasti. Tak dapat diulangi. Yang lalu tak mungkin kembali. Adam telah tentukan pilihan. Ritme dan nada telah diputuskan. Tarian setiap insan. Tarian duka. Tarian manusia. Sepanjang masa. Adam yang memilih. Tentukan nasib…

149. ’Hati Terluka’

Anganku melayang tak terkira. Melayang tinggi ke angkasa. Siapakah yang bersedia turut serta? Ini perjalanan yang tidak biasa. Melampaui doktrin agama. Lepas dari kaidah kaum ulama. Tak perlu cendekia. Tak harus dewasa. Siapa saja bisa! Karena ini kisah cinta. Ceritera hati. Perjalanan nurani. Kala cinta dikhianati. Siap? Ini riwayatku. Dan memorimu. Nostalgia cinta di taman…

148. ’Tarian Duka’

Tarian Adam telah dimainkan. Adam telah tentukan pilihan. Jalan hidup setiap orang. Sejak lahir hingga nyawa melayang. Tak ada yang mampu mengelakkan. Tangan telah diayunkan. Kaki telah dihentakkan. Naskah telah dituliskan. Manuskrip telah dibukukan. Peran bagi setiap bani Adam. Entah engkau setuju. Ataupun ingkar melulu. Itu tetap berlaku. Dahulu kala begitu. Sekarangpun seperti itu. Tarian…

147. ’Paradoks Ilahi’

Gendang telah ditabuh. ‘Dung dung dung… kplaakk kplaakk kplaakk.’ Dawai telah dipetik. Tari telah dimainkan. Kaki telah dihentakkan. Tangan telah diayunkan. Ikuti ritme. Irama dendang ilahi. Tak ada yang luput. Semua ikut. Setiap insan turut. Adam di Taman Sorga begitu. Di abad ke 21-pun seperti itu. Tak ada yang bisa mengelak. Apalagi menghindar. Entah dikau…

146. ’Cinta Itu Kebebasan’

Dalam kesunyian. Sebelum ada segala sesuatu. Belum ada yang tercipta. Yang ada hanya Sang Pencipta. Sang Ada. Allah Yang Maha Esa. Tritunggal Yang Maha Kudus. Cukup dengan diri-Nya sendiri. Puas dengan diri-Nya sendiri. Mulia. Agung. Indah. Gemilang. Luhur. Maha Bijaksana. Suci Suci Suci. Sesungguhnyalah Dia tak memerlukan apapun di luar diri-Nya. Dia bebas sebebasnya. Mutlak….

145. Edesi Duka Lion Air: ’Keengganan Ilahi’

Hati duka. Jiwa lara. Hati siapa yang tak luluh melihat begitu banyak yang berc ucuran air mata? ‘Malang tak dapat ditolak.’ Tapi, apakah musibah kecelakaan dengan korban seratusan orang tak dapat dihindari? Satu dua orang mungkin terluput karena nasib ‘buruk’ terjebak kemacetan lalulintas sehingga tertinggal pesawat. Mengapa hanya satu dua oarang? Bukankah tidak terlalu sulit…