Sahabat! Sejatinya, aku dan dikau tercipta karena cinta. Sebab cinta-Nya, maka dari semula dikau didisain tinggal di taman Nirwana. Metabolisme dan fisiologi tubuh diciptakan tepat sesuai dengan atmosfir nirwana. Jadi, dari awal memang dikau itu cocoknya tinggal di taman sorga. Taman diciptakan khusus untuk dikau dan hamba. Taman semua serba ada. Bekerja karena hobi semata-mata….
Category: Cinta
151. ’Pahitnya Cinta’
Cinta ternodai. Cinta Terluka. Belahan hati tak setia. Hati mendua. Betapa sakitnya! Ketika kekasih hati ingkar janji, tak tahu lagi kemana harus pergi! Langit runtuh. Impian berlalu. Jiwa layu. Kalbu kelabu. Ke siapa harus mengadu? Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah…
150. ’Cinta Rindu Cinta Pilu’
Sudahlah! Tak perlu sedih. Tak ada guna meratapi. Ini telah terjadi. ‘Nasi telah jadi bubur.’ Sejarah habis ditoreh. Nasib. Takdir setiap insan telah pasti. Tak dapat diulangi. Yang lalu tak mungkin kembali. Adam telah tentukan pilihan. Ritme dan nada telah diputuskan. Tarian setiap insan. Tarian duka. Tarian manusia. Sepanjang masa. Adam yang memilih. Tentukan nasib…
149. ’Hati Terluka’
Anganku melayang tak terkira. Melayang tinggi ke angkasa. Siapakah yang bersedia turut serta? Ini perjalanan yang tidak biasa. Melampaui doktrin agama. Lepas dari kaidah kaum ulama. Tak perlu cendekia. Tak harus dewasa. Siapa saja bisa! Karena ini kisah cinta. Ceritera hati. Perjalanan nurani. Kala cinta dikhianati. Siap? Ini riwayatku. Dan memorimu. Nostalgia cinta di taman…
148. ’Tarian Duka’
Tarian Adam telah dimainkan. Adam telah tentukan pilihan. Jalan hidup setiap orang. Sejak lahir hingga nyawa melayang. Tak ada yang mampu mengelakkan. Tangan telah diayunkan. Kaki telah dihentakkan. Naskah telah dituliskan. Manuskrip telah dibukukan. Peran bagi setiap bani Adam. Entah engkau setuju. Ataupun ingkar melulu. Itu tetap berlaku. Dahulu kala begitu. Sekarangpun seperti itu. Tarian…
147. ’Paradoks Ilahi’
Gendang telah ditabuh. ‘Dung dung dung… kplaakk kplaakk kplaakk.’ Dawai telah dipetik. Tari telah dimainkan. Kaki telah dihentakkan. Tangan telah diayunkan. Ikuti ritme. Irama dendang ilahi. Tak ada yang luput. Semua ikut. Setiap insan turut. Adam di Taman Sorga begitu. Di abad ke 21-pun seperti itu. Tak ada yang bisa mengelak. Apalagi menghindar. Entah dikau…
146. ’Cinta Itu Kebebasan’
Dalam kesunyian. Sebelum ada segala sesuatu. Belum ada yang tercipta. Yang ada hanya Sang Pencipta. Sang Ada. Allah Yang Maha Esa. Tritunggal Yang Maha Kudus. Cukup dengan diri-Nya sendiri. Puas dengan diri-Nya sendiri. Mulia. Agung. Indah. Gemilang. Luhur. Maha Bijaksana. Suci Suci Suci. Sesungguhnyalah Dia tak memerlukan apapun di luar diri-Nya. Dia bebas sebebasnya. Mutlak….
145. Edesi Duka Lion Air: ’Keengganan Ilahi’
Hati duka. Jiwa lara. Hati siapa yang tak luluh melihat begitu banyak yang berc ucuran air mata? ‘Malang tak dapat ditolak.’ Tapi, apakah musibah kecelakaan dengan korban seratusan orang tak dapat dihindari? Satu dua orang mungkin terluput karena nasib ‘buruk’ terjebak kemacetan lalulintas sehingga tertinggal pesawat. Mengapa hanya satu dua oarang? Bukankah tidak terlalu sulit…
144. ’Keindahan Cinta’
Bagaimanakah insan fana ini dapat mengerti? Sulit sekali. Bagaimana dapat memahami. Apalagi untuk dimaklumi. Mengapa Dia sembunyi? Berdiam diri. Seolah-olah Dia menarik diri. Dan membiarkan dikau berjalan sendiri. Tentukan ritme hentakan kaki. Lantas? Dia pergi. Bukanah itu yang dirasakan hidup di bawah sengatan matahari? Setiap insan. Sepanjang zaman. Tak ada yang dikecualikan. Mau tak mau….
143. ’Tarian Cinta Ilahi’
Cinta memang sulit dianalisa. Tidak mengikuti logika. Sulit dicerna. Dia tak mengikuti norma. Cinta bukan untuk dimengerti. Bukan pula untuk dipahami. Tapi untuk dirasakan. Dinikmati. Dihidupi. God’s problem is not that God is not able to do certain things. God’s problem that Gos loves. Love complicates the life of God as it complicates every life….
142. ’Cinta Itu Misterius’
Cinta itu misterius. ‘Semua kejadian di alam ini dapat dibuatkan persamaan mathematisnya. Kecuali cinta!’ Cinta tak dapat diduga. Tak dapat diatur. Menolak untuk diarahkan. Apalagi dipaksakan. Dia bisa datang tiba-tiba bak dapat durian jatuh. Namun juga didapat dengan perjuangan darah dan air mata. Cinta itu dahsyat tak terkira. Si lunglai jadi raksasa. Sakit-sakitan jadi sehat…
141. Edisi Khusus: ’Duka Untuk Palu’
Hati siapa yang tak miris. Ngilu. Bak disayat sembilu. Menyaksikan gelombang laut bak moster sadis tak pandang bulu. Menelan apa saja yang ada di hadapannya. Bangunan beton kokoh, luluh lantak tak berkutik. Alam begitu kejam. Semua bertekuk lutut tak berdaya. Dasar bumi goyang. Bukit runtuh bagai lilin disambar api. Desa-desa hilang ditelan alam. Tak ada…