152. ’Selamat Datang Cinta!’

Viewed : 897 views

Sahabat! Sejatinya, aku dan dikau tercipta karena cinta. Sebab cinta-Nya, maka dari semula dikau didisain tinggal di taman Nirwana. Metabolisme dan fisiologi tubuh diciptakan tepat sesuai dengan atmosfir nirwana. Jadi, dari awal memang dikau itu cocoknya tinggal di taman sorga. Taman diciptakan khusus untuk dikau dan hamba. Taman semua serba ada. Bekerja karena hobi semata-mata. Yang sakit tidak ada. Penuh sukacita. Gembira. Kerabat saling tegur sapa. Akur dan tentram senantiasa.

Hidup di taman Eden, O alangkah indahnya. Sanak saudara hidup rukun bertetangga. Yang satu menyapa. Yang lain menyambut gembira. Setiap hari berkat Tuhan turun tak pernan sela. Berkat kehidupan selama-lamanya (Mazmur 133). Itulah tempat hidup manusia pertama. Taman sorga nan bahagia.

Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, (Yeremia 31:34)

Di taman sorga, besar kecil semua kenal Yang Maha Kuasa. Tak perlu ke gereja untuk beribadah kepada-Nya. Tidak harus sarjana teologia untuk menafsirkan firman-Nya. Tak butuh lagi khotbah karena semua kenal Dia. Sekolah Minggu-pun tak dibutuhkan anak-anak. Tak perlu ada pendeta maupun hamba Tuhan. Peran tokon agama, apalagi kaum elit rohani telah tiada. Sekaliannya adalah imam-imam. Tak ada pengantara. Semuanya, besar kecil. Berpendidikan ataupun tidak. Setiap insan ada akses yang sama. Akses untuk mengenal Tuhan Yang Maha Ada.

Semisal, hidup di taman sorga begitu. ‘Mengapa hati Adam masih ragu-ragu?’ Mengharap yang lain pemuas hati rindu. Maaf! Jangan tanya aku. Manalah aku tahu. Hamba Tuhan. Tokoh agama. Kaum elit rohani. Bisa jadi semuanya akan membisu. Mengapa? Jangan-jangan jawabannya di hatiku dan di hatimu!

Cinta itu pilihan. Kebebasan tentukan ritme dan ketukkan. Pilih dendang tarian kehidupan. Dan Adam telah tentukan jenis tarian. Pilihan hati. Pilihan cinta. Pilihan seantero umat manusia. Aku dan dikau telah turut serta dalam lenggang lenggok tarian kehidupan. Tak ada yang terkecuali. Dari dulu begitu. Sekarangppun seperti itu. Dan yang akan datang itupun tetap berlaku.

Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden.. Ia menghalau manusia itu… (Kejadian 3:23,24)

Adam diusir? Aaahhh! Dia ditolak menetap di nirwana. Bak penjaja asongan liar yang dikejar-kejar Satpol PP. Begitulah Adam dihalau dari taman sorga. Ini nyata. Ini fakta. Tercatat dengan air mata di halaman-halaman pertama kitab asal mula.

Jangan lagi bertanya: ‘Mengapa Adam makan buah itu? Mengapa dia tak menjaga Hawa? Mengapa dia abai pesan Yang Maha Kuasa?’ Itu tak berguna! Sudahlah! Peluh telah menjadi realita. Sakit penyakit telah menjelma. Untuk hidup, semua harus berusaha. Jangan berharap damai di dunia.

Selamat datang di dunia nyata!

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kejadian 3:15, versi The Message: I’m declaring war between… Aku menyatakan perang antara…)

Selamat datang di dunia cinta. Cinta versi pilihan Adam dahulu kala. Alam buas di luar taman sorga. Menyambut Adam dengan gembira. Selamat datang kawan! Rasakan panasnya suasana. Situasi ibarat perang dunia. Pembantaian dan darah berceceran di mana-mana!

Ini bukan perang pura-pura. Ini serius, bukan ecek-ecek, kata orang Medan. Tidak juga kontak senjata setingkat bambu runcing. Ini permusuhan all out, habis-habisan. Bentrok lebih dari sekedar hanya antar negara. Ini perseteruan semesta. Konflik kosmik, jagat raya. Pertempuran di dunia nyata dan alam tak kasat mata.

karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. (Efesus 6:12)

Bagaikan konflik sesama saudara. Kejam. Sadis. Tak kenal belas kasihan. No mercy. Saling meremukkan. Tak ada damai. Hilang sejahtera. Ibarat kota dalam keadaan siaga. Darurat bencana. Jam malam senantiasa. Bahaya mengancam tak terduga. Waspada! Musuh ada di mana-mana.

Begitulah hidup di luar sana. Di luar taman sorga!

Tak ada yang luput dari ganasnya. Perang sudah begitu lama. Berlangsung sejak purbakala. Kini belum juga gencatatan senjata. Itu terjadi sepanjang masa. Semasa era Adam begitu. Aku dan dikau juga alami seperti itu. Dan akan tetap begitu hingga waktu berlalu. Entah dikau sadar atau gimana, gitu!

Perang untuk apa?

Ups! Pertempuran untuk memperebutkan hati Adinda seorang! Subhanallah, Maha suci Allah!

Demikian berhargakah hatiku? Begitu unikkah cintaku?

Celaka! Gawat! Maaf! Aku tak merasa ada apa-apa. Semuanya biasa-biasa saja. Semuanya kok rasanya damai sejahtera. Memangnya ada apa? Masihkah ada yang peka? Moga dikau cakap rasakan perang di dada! Pertempuran merampas cinta!

Bukankah karena itu Dia datang dari sorga? Untuk merenggut cinta Adinda. Dia menghampirimu bukan sebagai pahlawan gagah perkasa. Tidak juga sebagai jagoan ‘seng ada lawan.’ Jauh dari kesan ‘We are the champions.’ Sebaliknya, Dia datang sebagai bayi papa tak berdaya. Boleh jadi, itu lambang bahwa cinta itu pilihan. Kerelaan. Tak ada paksaan. Apalagi iming-iming dengan rayuan. Apalah yang dapat dilakukan bayi dalam pangkuan? Moga kali ini dikau merayakan natal berbeda. Selamat Natal, 25 Desember 2018 dan Selamat Tahun Baru, 01 Januari 2019. Salam dari kami sekeluarga. Untuk Sahabat dan teman semuanya. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments