Ikatan cinta manusia pertama, terjalin demikian dalam tak terduga. Betapa bahagia dan harmonis mereka. Taman sorga, semua serba ada dan cinta mereka senantiasa membara. Tidak ada yang kurang, mereka kenyang. Mata, telinga, emosi, luar dalam semuanya terpuaskan. Cinta kasih TUHAN, selfless love, menari ria di antara dedaunan. Mereka menghirup suasana cinta yang demikian. Siapakah yang dapat membayangkan? Imajinasi yang paling liarpun angkat tangan.
Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. (Kej 2:23)
Itulah kalimat pertama yang diucapkan Adam kepada Hawa, kekasihnya. Rasanya, dikau tak perlu menguasai bahasa Iberani untuk tahu arti yang tersembunyi. Terlalu berlebihan juga jika dikau harus habis tahunan untuk belajar dulu di perguruan tinggi. Mungkin juga mubazir untuk mengusahakan puluhan buku referensi untuk menyimak komentar para ahli. Bisa jadi dikau akan lebih bingung jika bersandar kepada fatwa kaum elite rohani. Ini ungkapan anak manusia yang lagi jatuh cinta. Andalkan hati dengarkan nurani maka dikau akan mengerti!
Jangan mendekatiku,
jika tak ingin jatuh cinta.
Jangan menjauhiku,
jika tak ingin jatuh rindu. (by CM)
Ini jatuh bukan karena gaya gravitasi, bukan pula karena beda tinggi. Ini jatuh cinta, cinta ilahi nan abadi. Cakapkah dikau merasakan debaran dada Adam selagi Hawa mendekat (Kej 2:22)? Dapatkah dikau bayangkan kikuknya Adam ketika cinta bergelora? Semasa cinta merengut rasa. Kala api asmara membakar sanubari, bibir kaku lidah kelu, kata² tak terkendali mengalir begitu saja berlalu.
Itu kisah cinta, api asmara yang membakar hati dua insan di taman sorgawi. Kata² yang keluar dari hati terdalam. Bahasa tubuhnya melengkapi kata yang tak terucapkan. Setiap orang boleh menafsirkan, lainnya beda juga silakan. Namun, dikau sila bayangkan!
Dan dari rusuk yang diambil TUHAN ALLAH dari manusia itu, dibangun-NYAlah seorang perempuan, lalu dibawa-NYA kepada manusia itu. (Kej 2:22)
Hooorrreee, telah tiba hari yang Adam tunggu². Angin sepoi², kicauan burung Nuri berpadu serasi dengan suara jangkrik bak lantunan musik klasik iringi langkah Hawa. Sementara Adam sudah lama menunggu di altar di depan ‘pendeta’. Bukan saja ‘jemaat’ terpukau diam kaku di bangku menyaksikan adegan ini. Juga tak terbilang lagi jumlah bilangan malaikat, yang tak dapat tempat duduk. Mata mereka tak berkedip dan dada berdebar setiap kali Hawa melangkahkan kaki lebih dekat lagi ke altar. Mungkinkah jemaat bagaikan awan mengelilingi mereka (Ibr 12:1) dapat merasakan akibat dari adegan ini? Semesta mencekam! Siapa sangka, kelak kisah cinta Adam Hawa ternyata akan mempengaruhi ‘nasib’ dunia nyata dan tak kasat mata!
Apapun makna ucapan perdana Adam, terasa ada dua batin melebur jadi satu. Tanpa sedikitpun ragu. Percaya selalu. Dua hati berpadu. Cinta mereka meng-gebu². Tak perlu waktu, spontan Adam berseru: “Tulangku, dagingku! Cocok! Pas! O, gadis idaman, seperti impianku!” Cinta sejoli seputih salju. Ini true story yang telah lama berlalu. Ini hakikat cinta, Trusts God always(The Message, 1 Co13:7). Percaya Tuhan selalu! Itukah sebabnya Adam dapat berkata seperti itu? Oops, bukan percaya kepada dikau apalagi aku! Dijamin, kalau begitu, akan kecewa dan malu. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. |




