144. ’Keindahan Cinta’

on
Viewed : 701 views

Bagaimanakah insan fana ini dapat mengerti? Sulit sekali. Bagaimana dapat memahami. Apalagi untuk dimaklumi. Mengapa Dia sembunyi? Berdiam diri. Seolah-olah Dia menarik diri. Dan membiarkan dikau berjalan sendiri. Tentukan ritme hentakan kaki. Lantas? Dia pergi. Bukanah itu yang dirasakan hidup di bawah sengatan matahari?

Setiap insan. Sepanjang zaman. Tak ada yang dikecualikan. Mau tak mau. Sadar ataupun tidak. Menari di kedua sisi alam. Bengis dan murah hati bersamaan. Tariannya datang bergeliran. Namun? Kadang datang tak beraturan. Bisa jadi juga tidak seimbang. Bahkan mungkin bersamaan. Tak ada pola yang menjadikan patokan. Inilah kehidupan.

ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; (Pengkhotbah 3:4)

Siang malam berganti tak kenal lelah. Setiap insan dilibas monster waktu yang pantang menyerah. Peristiwa dan sejarah. Semuanya ada dalam kendali pergantian waktu searah. Terus maju. Tak kenal jalan buntu.

Menangis – tertawa. Meratap – menari. Unsur yang membentuk sejarah hidup manusia. Sejak dulu. Kini. Hingga nanti.

Bayi Musa lahir dalam situasi politik yang tak menguntungkan. Orangtuapun ambil tindakan yang tak terpikirkan. Buang bayi yang meronta karena kehausan. Suaranya terdengar oleh putri Firaun. Bisa jadi ratusan bayi lainnya alami nasib yang sama. Hanya bayi Musa yang terselamatkan. Dan dibawa ke dalam istana kerajaan.

Namun! Apakah ini dapat disebut suatu kemujuran? Dan bayi-bayi yang lain alami kesialan.

Musa bertumbuh bak dalam impian orangtua zaman now bagi anak-anaknya. Dididik dalam lingkungan top hikmat cendikia kerajaan. Pendidikan terbaik sedunia pada masanya. Cerdas. Mumpuni. Dan ada di seputar ‘ring-1’ istana. Hidup nyaman. Semua tersedia. Bukankah itu yang dicari manusia?

Siang malam berlalu. Dia tersingkir dari kenyamanan. Siapa sangka. Nasib tak terduga. Akhirnya dia menjadi pengembala. Pekerjaan hina bagi lulusan sarjana istana. Bagi anak ingusan yang tumbuh dewasa di istana. Perubahan ini tidaklah sederhana. Ibarat CEO Apple bangkrut menjadi peminta-minta!

Namun! Apakah perubahan ini dapat disebut suatu kemalangan? Dan CEO-CEO yang lain bernasib baik.

Pada umur dinipun dia sudah bisa baca. Terlihat dia lebih maju dari teman-teman sebaya. Orangtua bangga. Tetangga iri tiada tara. Keluarga membusungkan dada. Akhirnya dia diterima di sekolah top pada masanya. Di bawah bimbingan guru besar Gamaliel. Masa depan cerah. Bukankah ini impian bagi putra-putri setiap orangtua?

Namun! Apakah ini dapat disebut suatu keberuntungan? Dan anak-anak yang lain alami kesialan?

Siang malam berlalu. Saulus merubah namanya menjadi Paulus. Jangan berharap masa depan cerah. Dari satu penjara ke penjara lain menantinya. Siksaan dan cercaan. Ketidakadilan. Dirajam. Dicambuk. Kematian senantiasa di depan mata. Semua kesulitan yang terbayangkan menimpanya.

Namun! Apakah ini dapat disebut suatu musibah? Dan teman sebaya yang lain sebagai CEO Apple alami berkah?

Aku tak tahu! Untung rugi. Nasib baik nasib buruk. Sukacita dukacita. Berkah musibah. Siapa yang tahu mana yang perlu untuk ku? Dan mana untuk mu? Sejatinya manusia. Tak ada yang terkecuali. Orang awam maupun setingkat dewa. Berharap sisi pertama: untung lantas nasib baik kemudian sukacita dan akhirnya berkah.

Sebab itu terlebih suka aku [Paulus] bermegah atas kelemahanku, (2 Korintus 12:9)

karena ia [Musa] lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah…(Iberani 11:25)

Aaahhh. Baik Musa maupun Paulus dan semua tokoh-tokoh iman Alkitab justru merindukan sisi kedua! Nasib buruk, dukacita, dan musibah. Aku berusaha sekuat tenaga menjauh dari sisi ke dua. Sementara mereka justru memilihnya. Mengapa? Aku tak tahu! Speechless!

Mungkinkah keindahan tarian cinta ilahi baru terlihat jelas di sisi ke dua? Keindahan Cinta baru nampak dalam penderitaan. Dukacita. Musibah. Nasib buruk. Dan kelemahan. Bisa jadi, dia tertutup dalam kemegahan. Kesempurnaan. Kecukupan. Keberhasilan. Dan kemampuan.

Itukah sebabnya tarian cinta itu lebih banyak bermain di sisi kedua? Apakah dikau dapat rasakan begitu? Kalau begitu, begini! Anggaplah suatu kebahagian jika sisi ke dua menari dalam hidup kita (Yakobus 1:2). Karena Sang Cinta baru terlihat jelas dalam derita! Begitukah? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments