531. Organik ke Organisasi

Viewed : 19 views

“Bermula dari gerakan rohani yang membara; lantas berubah menjadi organisasi yang tinggal menyimpan abu dari api yang pernah menyala.”

Awalnya, persekutuan umat percaya hanyalah komunitas organik—terikat erat oleh keserupaan jalan hidup. Tanpa kekangan struktur yang kaku, mereka mengalir bebas menghidupi tradisi. Sebuah pergerakan yang melebur hangat ke dalam urat nadi sosial masyarakat.

Mereka hadir tepat di jantung masyarakat, sebab mereka bagian utuh dari warga setempat. Pembeda utamanya terletak pada corak hidup: mereka saling menopang dan bergotong royong dengan sesama. Tak heran bila mereka disukai semua orang, sebab kasih persaudaraan menjadi napas hidup mereka (Kisah Para Rasul/ KPR 2:47; Yohanes 13:34–35).

Keperluan internal komunitas dikelola seturut kebutuhan yang timbul. Para pengurus dibentuk layaknya panitia ad hoc— hadir untuk merespons isu seketika (KPR 6:1–7), lalu purna tugas tatkala pelayanan usai, seirama dengan ritme geraknya yang organik.

Kepemimpinan dan tata hidup komunitas ini tumbuh secara alamiah di tiap kelompok. Para pemimpin—yang karib disapa sebagai tua-tua jemaat—lahir dari rahim komunitasnya sendiri berdasarkan kematangan usia dan keluhuran karakter.

Mereka komunitas yang self-supporting dan self-governing—mandiri menata diri serta menopang kehidupan. Hubungan dengan jemaat di wilayah lain terajut lewat semangat kebersamaan: yang berkecukupan menopang yang berkekurangan (1 Korintus 16:3). Di tengah keterbatasan sarana komunikasi, jalinan persaudaraan ini dirawat melalui utusan atau tim terpercaya yang mereka kenal dekat.

Relasi antaranggota dalam komunitas ini sejatinya layaknya persekutuan sebuah keluarga—yang dilukiskan secara anggun sebagai satu tubuh (1 Korintus 12:12-27). Jika ada satu bagian yang menderita sakit, umpamanya sebatang gigi, maka seluruh anggota tubuh turut merasakan perihnya.

Di tengah situasi politik yang serba menekan, komunitas ini bergerak di bawah radar penguasa. Kehadiran mereka senyap, namun getarannya nyata terasa—hingga dianggap sebagai ancaman serius bagi otoritas para Penjaga Kursi Musa (PKM, Matius 23:2). Seiring pesatnya pertumbuhan mereka, kecemasan penguasa memuncak: gerakan ini mulai diburu dan diseret ke balik jeruji (KPR 8:1-3).

Komunitas organik ini berawal di Yerusalem. Terpikat oleh kesaksian hidup mereka, jumlah umat melipat ganda dengan pesat hingga memenuhi penjuru kota (Kisah Para Rasul 2:47; 5:28). Pertumbuhan masif ini dipandang sebagai ancaman, memicu amarah kelompok PKM. Gelombang pemburuan pun berkecamuk: tua, muda, laki-laki, hingga perempuan diseret dari rumah ke rumah, ditangkap, bahkan dibantai (Kisah Para Rasul 8:3).

Persekusi itu sedemikian dahsyat hingga umat percaya lari tunggang-langgang meninggalkan Yerusalem demi menyelamatkan jiwa. Namun, alih-alih padam, benih komunitas ini justru bertunas pesat dan melipat ganda di kota-kota pengungsian. Niat para PKM untuk melenyapkannya malah memicu nyala penyebaran yang meluas ke hampir seluruh pelosok Kekaisaran Romawi.

Namun, tak sampai 2 abad berselang, riwayat komunitas organik itu berbalik total. Terlepas dari apa pun motif di baliknya, Maklumat Milan (Edict of Milan) yang dicanangkan Kaisar Konstantinus pada tahun 313 M mengubah peradaban. Gerakan awal yang tadinya mengalir organik mendadak menjelma lembaga resmi kekaisaran. Dari pergerakan sunyi di bawah tanah, ia melangkah naik menuju panggung utama kekuasaan.

Memasuki abad ke-6, institusi gereja telah berdiri kokoh—menjelma bak PKM di abad pertama, dengan Paus di Roma sebagai poros tunggal otoritas. Gereja bukan lagi sekadar persekutuan rohani, melainkan pengarah utama hajat hidup umat. Ia menjelma raksasa politik, ekonomi, dan budaya yang mendominasi panggung Eropa di era Abad Kegelapan.

Dari pergerakan organik, alamiah, dan menyatu di tengah warga, seiring bergulirnya waktu persekutuan umat percaya menjelma organisasi raksasa nan berkuasa. Para pemimpin gereja kerap menjadi penasihat utama para penguasa, bahkan takhta Paus berdiri lebih tinggi—melampaui wewenang pemerintah lokal.

Dan… aaahhh, dari hegemoni PKM di abad pertama hingga Edict of Milan di awal abad ke-4, bukankah jejaknya masih nyata Anda saksikan dan rasakan dewasa ini?

Baik itu dalam pengaturan tata cara ibadah umat maupun menyangkut penetapan ‘apa yang boleh dan tidak’ di ranah kehidupan pribadi Puan dan Tuan tidak luput dari pengaruhnya. Bahkan sampai di pusaran gejolak politik global berada di bawah bayang-bayangnya! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments