Penjelasan Kerajaan Allah (KA) akan selalu mengelisahkan tokoh-tokoh agama, baik di era dahu kala bahkan hingga nanti berakhirnya masa. Bisa jadi ini juga membuat daku yang aktif dalam pelayanan akan merasa terganggu, dikau pun sebagai pekerja gereja tak terlepas akan termangu-mangu.
Ketika kekristenan lahir, sekitar 2000 tahun yang silam, hingga abad ke 3 berakhir, umat percaya satu-satunya keyakinan yang tidak mengenal adanya tempat beribadah. Walau gerakan baru ini dikelilingi sinagoge tempat ibadah umat Yahudi dan kuil-kuil megah bangsa-bangsa sekitar, namun umat Kristen berbeda dengan yang lainnya.
Pola ibadah jema’at mula-mula menjadi ganjil di tengah berbagai agama. Keyakinan baru ini tercatat dalam sejarah sebagai gerakan satu-satunya di muka bumi yang tidak mendirikan bangunan sakral sebagai tempat ibadah.
Tanpa tempat ibadah, tidak ada tempat khusus untuk menyembah Allah. Tidak terbelenggu dengan tanah suci, tempat kramat yang telah menjadi sumber percekcokkan sejak dulu hingga kini. Bebas dari hari-hari istimewa, lepas dari aturan jangan makan ini jangan jamah itu.
Dapatkah sekarang ini dikau bayangkan? Agama tanpa tempat ibadah, keyakinan tidak ada pantangan. Kehadirannya tidak disertai munculnya tanda-tanda lahiriah yang kelihatan. Membingungkan, bukan?
Dan yang paling mengherankan kalangan ahli strategi militer sekaliber Pontius Pilatus, kerajaan tanpa pasukan. Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, (Yohanes 18:36). Bagaimana mungkin suatu kerajaan tanpa pertahanan, lumpuh tidak ada kekuatan.
Kerajaan tanpa ada usaha perlawanan. Sang Raja alam semesta pun diam kala dilecehkan. Apalagi para pengikut-NYA, sama saja, tidak dianggap oleh anggota Mahkamah Agama. Kaum elite rohani, di masyarakat status itu tinggi. Dalam jenjang rohani, pengikut-NYA orang kebanyakan yang tidak ada arti.
Kerajaan nihil prajurit. Tidak ada heirarki kekuasaan. Asing dengan tingkatan. Terasa aneh dengan pengertian posisi dalam jenjang karier rohani. Ganjil dengan paham label-label kedudukan atau pun status dalam hubungan dengan Sang Ilahi.
Di hadapan dunia yang serba menilai yang hanya kelihatan, kelompok keyakinan ini tidak masuk hitungan karena tidak terlihat ada yang mengkhawatirkan. KA di mana dan kapan pun akan selalu terlihat lemah dan mudah dikalahkan.
KA tidak tertarik dengan angka-angka statistik yang menggembirakan. Jumlah pengikut yang bertambah pesat yang semakin membanggakan. Kegiatan-kegiatan rohani yang keberadaannya semakin kelihatan.
Apalagi semangat menggebu-gebu untuk memperluas wilayah kekuasaan. Menghadirkan tanda-tanda lahiriah di berbagai kawasan. KA tidak ada hubungannya dengan kehadiran tanda-tanda fisik yang kelihatan.
Jika KA disertai dengan kehadiran bangunan, aturan-aturan ibadah bahkan juga perkara makanan, maka KA itu telah berubah menjadi kerajaan agama. Kerajaan dari dunia yang kelihatan. Kerajaan yang lengkap dengan pasukan perlawanan. KA tidaklah demikian.
Mohon dikau tidak salah paham dan cepat-cepat mengambil kesimpulan! KA tidak berperang melawan yang kelihatan. Apa pun yang kelihatan bukankah selama ini telah menjadi sumber perpecahan? Jumlah angka penganut, bangunan ibadah, dan daerah penguasaan, bukankah itu yang membuat agama saling bermusuhan?
Kalau kerajaan agama berlomba memperebutkan tanda-tanda yang kelihatan, KA tidaklah demikian. Kerjaaan agama mengundang perseteruan, sebaliknya KA mendamaikan. Kerajaan agama memutus ikatan persahabatan, KA menyatukan bahkan dari anggota keluarga yang berbeda keyakinan.
Sekarang pilihan ada di tangan Puan dan Tuan! Menjadi anak-anak kerajaan agama yang fokus kepada yang kelihatan ataukah anak-anak KA yang memberi pengharapan bagi dunia yang berantakan? (nsm).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |


