Melihat ke dalam hati, memang sulit. Menilai diri sendiri, itu terlebih sakit. Hidup dalam era pandemi, seyogianya daku dan dikau didorong untuk refleksi. Si virus bulanan memaksa semua henti, berdiam diri untuk berkontemplasi.
Apakah yang tengah terjadi? Belum jugakah daku mengerti? Walau semua berlangsung terang benderang, namun kelihatannya belum jugakah ada titik terang? Betapa telinga begitu tebal ataukah memang daku bebal? Hati sudah kebal, tidak lagi peka. Akal tidak jalan, daku diam menduga-duga.
Kenyataan timbul, sering menyulitkan. Kebenaran muncul, acap kali menyakitkan. Walau obat terasa pahit, itu satu-satunya jalan membuat daku fit. Untuk terlepas dari belenggu tradisi, melangkah ke yang sejati. Menemukan kembali, esensi hidup di muka bumi. Bukankah itu journey tak ternilai sebelum semua akan terhenti?
Lega, terpana, ataukah tak tahu harus bagaimana? Baru di era ini tahu ada, perintah untuk jema’at dibebaskan dari keharusan melakukan kebiasaan sakral agama! Waktu lalu-lalu, kejadian seperti ini tidak terlintas dalam kalbu. Umat dilarang beribadah di hari Minggu! Dalam perjalanan iman, ini betul-betul pengalaman baru.
Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, (Yesaya 29:13)
Mungkinkah apa yang daku lakukan selama ini hanyalah buatan sendiri? Urut-urutan ibadah yang membuat itu terasa akan diterima Sang Ilahi? Rangkain sikap, tindakan, dan ucapan yang otomatis mengalir begitu saja. Bentuk ibadah yang sangat lazim dalam semua domain agama.
Begitu ‘kan keunikan umat masing-masing agama, nyata dari bagaimana postur tubuh warganya dalam datang ke hadirat Sang Pencipta. Demikian juga, cara melafalkan kalimat sakral yang sudah dihafal. Dengan melihat bagaimana daku melakukan syariat agama, jelaslah dikau tahu daku berasal dari agama yang mana.
Setiap agama bak mempunyai pemerintahan sendiri, aturan suci yang harus ditaati. Begitu pula, lengkap dengan pejabat rohani, kalangan elite yang berkuasa karena punya kendali. Golongan elite ini pun ada hirarki, semakin tinggi kedudukan semakin berkuasa yang bersangkutan.
‘Nasib’ umat ada di tangan pejabat. Jema’at tinggal taat, ikuti keputusan yang telah dibuat. Bahkan bagaimana urutan cara datang ke hadirat Allah pun menjadi wewenang kaum ahli Taurat. Lebih lagi, aparat itulah yang menentukan warga dari agama ini atau itu yang kelak diterima di sisi Sang Ilahi!
Agama menjadi mirip dengan suatu kerajaan, aturan-aturan dalam pemerintahan. Kerajaan agama menguasai hajat hidup rohani umat. Pejabatnya senantiasa memonitor warga agar taat melakukan apa yang telah dibuat. Dengan alasan demi pertumbuhan iman, penguasa memastikan jema’at rajin membaca Firman Tuhan.
Lalu keluarlah Lazarus — terbalut kain kafan, mukanya terselubung kain pembalut kepala. Yesus berkata kepada mereka, “Lepaskanlah pembalutnya dan biarkan dia pergi!” (Yohanes 11:24)
Dua tahun terakhir ini, tiba-tiba daku dan dikau terlepas dari aturan kaum elite rohani. Bak jenazah Lazarus mati, sekonyong-konyong hidup kembali. Kerajaan agama kehilangan kendali. Jemaat seakan-akan lepas dari ikatan kain kafan, lalu berdiri dan harus melangkah pergi!
Perubahan di era pandemi, secara rohani, sesengguhnya sangatlah dahsyat! Selama 17 abad terkurung, sekarang bebas terbang bak burung. Aaahhh malahan daku jadi bingung! Kemanakah kaki ini harus melangkah, kalau ratusan tahun tidak pernah berubah?
Baru di era ini Kerajaan Agama terbukti goyah! Berbeda dengan Kerajaan Allah, tak goyang karena wabah. Sebelum segalanya akan berlalu, kembali lagi seperti yang dulu-dulu, tiliklah kalbu.
’Biarkan dia pergi,’ walau pahit lebih baik dari pada hidup dalam ilusi. Moga daku dan dikau paham apa arti semua ini. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
Image by Dorothée QUENNESSON from Pixabay



