‘Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah!’ (Lukas 17:20) respon Mesias tegas. Jawaban singkat itu membingungkan kaum cerdik pandai agama sekelas golongan Farisi. Mungkinkah suatu kerajaan kehadirannya tidak disertai tanda-tanda fisik yang terlihat?
Jika dikau memperhatikan selembar KTP (Kartu Tanda Penduduk), terlihat jelas identitas fisik dari pemegangnya. Di situ tercantun data yang berhubungan dengan nama, tempat dan tanggal lahir, tempat tinggal, maupun agama. Identitas diri ini menggambarkan siapa seseorang dalam kaitannya dengan administrasi kepemerintahan.
Dan KA tidak ada relasinya dengan tanda fisik.
Tidak terbayangkan bagaimana suatu pemerintahan dapat dijalankan tanpa identitas lahiriah dari warganya. Tanda penduduk ini sebagai penyataan yang bersangkutan warga negara yang sah. Setiap negara ada cara tersendiri untuk memastikan siapa warganya. Bukankah demikian pula dengan semua agama?
Apakah dengan demikian, KA tidak ada hubungannya dengan identitas seperti nama seseorang? Dari nama orang dapat diduga kuat asal daerah ataupun suku bahkan agama yang bersangkutan. Apalagi dari logat bicara, dapat ditebak asal dari mana.
Dan KA tidak ada relasinya dengan sebuah nama.
Nama dalam konteks kerajaan agama menjadi sandi utama. Jangan heran, jika perpindahan antar agama disertai juga dengan perubahan nama yang bersangkutan. Nama menjadi sakral, suci karena itu sebagai tanda iman. Dan nama seseorang tidak ada kaitannya dengan KA.
Logat bicara ataupun dialek tak dapat dipungkuri sebagai ciri unik asal seseorang. Demikian pula ucapan atau pun ungkapan tertentu tak pelak menjadi tanda jitu seseorang dari penganut taat agama itu.
Seruan semacam haleluya, alhamdulilah, ataupun amitabha, bahkan sapaan salam kebajikan dengan mudah yang bersangkutan ditebak penganut agama yang mana. Apalagi dengan memperhatikan postur tubuh kala berdoa ataupun sembahyang, itu penganut dari agama apa dengan segera sudah terbayang.
Dan KA tidak ada kait mengkait dengan kata-kata apalagi dengan cara bertapa.
Di nusantara, identitas penganut agama yang mana menjadi suatu keharusan. Karena ini bersangkutan dengan aspek administrasi yang mengatur kehidupan. Itu penting kala dikau lahir, menikah, bahkan hingga menuju liang lahat pun agama menjadi identitas yang perlu pasti.
Di tanah air, kala seorang anak lahir, agama bukanlah pilihan. Anak secara otomatis akan mengikuti keyakinan orangtua. Jika dikau lahir di tanah Karo, kemungkinan dikau lahir dan dibesarkan dengan budaya Gereja Batak Karo Protestan (GBKP).
Demikian juga jikalau daku lahir di Teluk Bayur, sejak dalam kandungan, dibesarkan, hingga tutup mata nanti, kemungkinan akan hidup dalam lingkungan yang kental dengan budaya ritual ibadah. Cara berpakaian hingga bagaimana tegor sapa sesama insan pun diatur ketat sesuai dengan keyakinan.
Begitu pula bila dikau lahir di Ubud, dikau akan dibesarkan dalam atmosfir keseniaan yang mendalam. Alam menjadi panorama kehidupan yang dipelihara sebagai the mother nature. Hidup menyatu dengan lingkungan. Sawah dan pegunungan bak menari turut menyambut dikau terlahir lagi dengan senyuman.
Dan KA pun tidak ada hubungan dengan agama seseorang.
Apakah ini berarti, siapa saja, terlahir di mana, hingga penganut dari agama yang manapun, ada kesempatan untuk menjadi warga kerajaan-NYA? Dikau tidak harus ganti nama dan daku tidak perlu pindah agama agar menjadi bagian KA! Ini berita sukacita bagi dunia yang tak habis-habisnya bertikai karena persoalan agama.
Namun demikian, pada saat yang bersamaan berita sukacita itu sekaligus membuat sesak dada tokoh-tokoh agama. Kaum elite rohani, pejabat yang mengeluarkan fatwa merasa dilecehkan. Pilatus pun kebingungan menginterogasi Sang Raja. ‘Ini kerajaan macam mana,’ pikirnya.
Dengan nada datar, DIA buat seistana Pilatus menjadi gempar: Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini, (Yohanes 18:36). Kontan interogasi henti sampai di sini. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |

