342. Suatu Tanda

Viewed : 416 views

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, (Lukas 17:20). Kedatangan kerajaan Allah (KA) tanpa tanda-tada lahiriah membingungkan kaum cerdik pandai. Kerajaan macam apakah kehadirannya tidak disertai dengan simbol-simbol fisik yang memadai?

Bagaimana mungkin suatu gerakan, pengajaran, bahkan agama baru tidak ada tanda fisik sebagai lambang kehadirannya? Bukan saja bagi elite rohaniawan pada masa itu, sekarang pun tokoh-tokoh agama bingung dengan pernyataan seperti itu.

Dengan cara apakah KA dapat dikenali jika tidak ada simbol fisik yang menyertai? Lalu bagaimana umatnya hidup jika tidak ada tradisi yang harus ditaati. Tanpa ritual baku dalam ibadah seminggu sekali. Jauh dari bentuk-bentuk yang dikenal selama ini.

Bukankah manusia tidak dapat hidup tanpa bentuk? Tak terbayangkan ada agama tanpa ritual. Keyakinan yang tidak terikat pada bangunan sakral. Iman tanpa ada hubungannya dengan tanah suci, kiblat yang dianggap pedoman arah untuk menyembah Sang Ilahi.

Memang tidak wajar, bagi suatu gerakan yang begitu cepat tenar, tidak disertai tanda-tanda fisik yang juga ikut tersebar. Para pakar agama gelisah, gerakan tidak terlihat namun dapat dirasakan menyebar secepat wabah.

Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.”(Matius 12:38)

Normal sekali tuntutan tokoh agama agar pengajaran baru tersebut disertai dengan tanda. Tidak perlu banyak, cukup satu tanda yang tampak. Permohonan itu dapat berupa jebakkan atau pun kerinduan murni mencari jawaban. Yang mana pun, KA memang membingungkan.

Namun sejarah berbicara, permintaan itu menjadi fakta. Sekitar awal abad ke 4 Masehi, dikisahkan pengalaman pribadi kaisar Konstantinopel dalam mempertahankan negeri. Alkisah, dalam situasi sulit, terinspirasi melalui mimpi, tanda salib dibubuhi di setiap perisai prajurit. Yang tadinya nyaris kalah, berubah menjadi pemenang perang.

Pelan namun pasti, lambang salib menjadi simbol yang sangat berarti. Sudah sekitar 1700 tahun, dari turun temurun, setiap bangunan dengan tanda itu segera dianggap sebagai tempat ibadah bagi umat pengikut Sang Raja.

Mungkinkah dapat disimpulkan? Jika KA dilengkapi dengan bentuk fisik yang seragam maka KA beralih menjadi kerajaan agama. Pengikut Sang Raja menjadi pemeluk agama. Kalau berupa metoda maka KA identik dengan organisasi. Anak-anak kerajaan menjadi anggota lembaga rohani.

Pengkotak-kotakan tak dapat dihindari, memuncak setelah era reformasi. Bahkan di internal agama Nasrani pun umatnya terperangkap dalam kisi-kisi, denominasi yang bertambah terus tak henti-henti. Masing-masing menonjolkan kelebihan diri. Doktrin, ritual, dan metoda, menjadi ciri tersendiri sebagai panji.

Sejak belasan abad itulah KA dianggap diwakili oleh agama Nasrani. Kehadiran bendera kekeristenan sebagai panji kehadiran KA. Tak terhindari mulai terjadi konflik baik intra mau pun antar agama. Perseteruan berdarah-darah, permusuhan antar sesama semakin parah, bukankah itu semua tercatat dalam sejarah?

Kesamaan dan keseragaman memang turut memberi semangat. Semangat yang berkobar-kobarlah yang menjadikan pengikutnya fanatik. Radikal dalam mempetahankan keyakinan atau pun menyebarluaskan simbol-simbol iman. KA tidaklah demikian!

… juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia [KA] ada di sini atau ia ada di sana! (Lukas 17:20,21)

Syukurlah, berbeda dengan semua agama. KA dapt hadir di semua keadaan dan tempat. KA tidak dipenjara oleh: ’ia ada di sini atau ia ada di sana!’ Kalau agama memecah belah umat, KA menyatukan perbedaan pendapat. KA satu-satunya harapan dunia yang sekarat! (nsm).

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments