506. Cinta Tanpa Suara

Viewed : 321 views

“Pemberontakan di Taman Eden seakan meruntuhkan semua impian-NYA, namun hati Sang BAPA tak pernah berubah. Bulan memeluk malam, bintang berbisik lembut, angin membawa pesan tanpa suara. Hanya hati yang merindu yang mampu memeluk cinta tanpa kata-kata.”

The first rebellion terjadi di dalam rumah-NYA, bagai pemberontakan anak-anak terhadap Sang Kepala Keluarga. Kehadiran mereka di tengah rumah yang dibangun dengan susah payah, menyalakan seribu satu impian sang bapa tentang masa depan. Cita-cita itu membuat hidup bergairah.

Mungkin begitulah Sang BAPA yang dapat kurasa. Kehadiran Adam dan Hawa, pancaran jiwa-NYA, menyalakan sejuta kerinduan masa depan bagi rumah tangga ilahi. Sebuah keluarga yang akan memenuhi bumi dengan aroma semerbak kasih, mewarnai interaksi insani dan harmoni dengan alam bumi (Habakuk 2:14; Yesaya 65:25).

Bekerja tanpa kenal waktu hingga larut malam, keringat menetes di bawah teriknya mentari. Tak ada gunung terlalu tinggi untuk didaki, samudera luas pun sanggup diseberangi. Demi masa depan anak-anak yang dikasihi, nyawa sendiri pun tak lagi peduli.

Entah berapa laksa masa diperlukan untuk merancang, menyiapkan bahan, dan membangunnya hingga Taman Eden siap dihuni. Dibutuhkan akurasi sempurna, agar reaksi kimia, fisika, dan biologi berlangsung tanpa cacat demi kenyamanan si buah hati. Tak ada ruang bagi kesalahan sekecil apapun agar keturunan Adam dan Hawa berlipat ganda, memenuhi bumi (Kejadian 1:28).

Aaahhh… tatkala impian sudah tergenggam, cita-cita tinggal sejengkal lagi menuju kenyataan. Tiba-tiba, di siang bolong, sang anak pergi meninggalkan rumah tanpa sempat say good bye. Betapa hancurnya hati, tak terkatakan… runtuhlah segala cita-cita yang telah diusahakan selama ini.

“Di tengah malam nan sunyi menyayat hati, aku berjalan sendiri mengikuti jejakmu yang sering kau lalui. Yang lain boleh melihat langkahku masih gagah, namun nurani berbisik aku sejatinya telah kalah. Anak yang kubesarkan di rumah dengan susah payah, segalanya telah kuberikan layaknya sebagai seorang ayah. Anak yang menjadi tumpuan masa depan cerah kini telah pergi… meninggalkan hidupku, meninggalkan rumah.”

“Biarlah senandung lara ini suatu hari sampai kepadamu. Angin akan membawa jeritan cinta seorang bapa tanpa suara. Lagu tanpa nada mengalun dalam tarian kehidupan yang penuh makna. Malam menyampaikan berita tanpa kata kepada siang, namun gaungnya terasa di seluruh dunia… gema cinta tanpa suara.”

…hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. (Mazmur 19:2-4)

Tatkala DIA berjalan di keheningan sejuk pagi (Kejadian 3:8), sekadar mengingat kembali memori yang takkan pernah kembali. Masih terngiang canda Adam dan Hawa di bawah pohon kenari. “Langkah-KU terhenti, teringat si buah hati!” Bagaimana mungkin seorang ayah melupakan anaknya sendiri, apalagi Sang BAPA surgawi.

Adam dan Hawa telah meninggalkan Taman Eden, setiap langkah menjauh menyayat hati-NYA. Bulan masih menghias hening malam, sang surya di ufuk Timur bangkit bagaikan pengantin menyambut pagi. Burung, sungai, dan panorama alam tetap mempesona, namun tanpa mereka segalanya terasa dingin… kehilangan rasa.

Hati-NYA tak pernah berubah, meski aku sering tak memperhatikan-NYA. Getaran asmara terus beresonansi dalam gelapnya malam, gema cinta-NYA diteruskan siang kepada generasi mendatang.

Bulan dan taburan bintang, alunan suara alam, desahan air terjun, hingga rayuan angin malam, semua seia sekata menyampaikan berita kasih-NYA kepada peradaban. Tanpa kata, tanpa nada, hanya hati yang rindu mampu mencerna irama cinta tanpa suara. Cinta Sang BAPA! (nsm)

Note: artikel ini terinspirasi dari musik berirama slow rock dengan petikan gitar melengking yang menyayat hati yang disenandungkan oleh Michael Bennet dalam lagu “Shadows of the Father”

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments