116. ’Cinta di Taman’

Viewed : 1,153 views

Sebelum dikau ada, sebelum ada yang tercipta. Ini kisah baka lebih tua dari masa. Sang ADA saling mengasihi lestari sepanjang masa. ALLAH Abraham, ALLAH Ishak, ALLAH Yakup dalam persekutuan BAPA, ANAK, dan ROH KUDUS ke TIGA yang ESA. Hakikinya ALLAH adalah kasih, kasih kekal nan abadi. Setiap PRIBADI dalam kesatuan utuh tak terbagi, saling mengasihi tanpa pamrih -selfless love- kasih yang memberi. Dalam kekekalan, sepanjang zaman, tetap tiada akhir, SANG ADA saling mengasihi tanpa interes pribadi atupun cari untung sendiri.

Pada mulanya ALLAH menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan ROH ALLAH melayang-layang di atas permukaan air. Ber- FIRMAN-lah ALLAH: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. (Kej 1:1-3)

Cinta itu relasi, ALLAH yang relational. Sejak awal dari halaman pertama di ayat² pemula, hubungan ketiga-NYA yang kudus tak terputus terlihat jelas. Saling kerjasama, saling mengasihi, saling memuliakan, saling melayani, saling memberi dalam keharmonisan tiada terperi dari dulu hingga kini tak henti hingga nanti.

BAPA mengasihi ANAK dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-NYA. (Yoh 3:35) Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana IA [ANAK] menyerahkan Kerajaan kepada ALLAH BAPA, (1Kor 15:24)

ALLAH yang relational (Sang BAPA – Sang ANAK) dan selfless love. DIA tak ambil untung secuilpun, tidak pula mengharapkan balasan apapun ketika dikau tercipta. Selfless love, cinta tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri apalagi menuntut balas jasa. Alturistic love, cinta yang tidak memperdulikan diri sendiri demi yang lain senang. Tidak memaksakan kehendak dengan memanipulasi, apalagi meng-akal²i.

Wow, dikau tercipta dari kasih seperti itu! Dikau tercipta segambar serupa dengan itu. Atau lebih klopnya dikau itu mahkluk yang merefleksikan kasih tanpa pamrih itu (Kej 1:26,27). Aslinya, sejak awal dikau itu dirancang sebagai makhluk ‘selfless’, tak memikirkan diri sendiri. Orisinalnya, dikau itu insan yang tidak mementingkan diri sendiri. Singkatnya, dikau lebih senang buntung asal yang lain untung.

Imajinasi yang terliarpun sulit membayangkan, ketika cinta itu menari ria diantara dedaunan di taman bunga anyelir. Kuhirup dalam² udara segar yang penuh aroma selfless love di taman Eden yang indah nan asri. Gemercik air mengalir, buah²an ranum di tepinya, semua kebutuhanku tersedia. Tarian kilauan sinar mentari yang terpantul dari air sungai jernih, menyambutku untuk mulai lagi hari yang baru.

Maaf sobat, berharap dikau turut serta ada di taman bunga matahari. Di taman itu, bekerja bukan untuk sesuap nasi. Bukan pula untuk mengejar posisi apalagi takut company di likuidasi. Jangankan mengejar omzet akhir tahun yang terus meninggi, bekerja disitu bahkan bukan untuk memenuhi KPI yang senantiasa menghantui. Pandaikah dikau membayangkannya, saat induk serigala tiduran dengan anak domba? Tatkala naluri untung-rugi dan gigi ganti gigi belum ada?

Sejatinya dikau tercipta dengan cinta, dalam cinta, dan untuk cinta yang selfless itu. Insan seharusnyalah mengasihi tanpa harapkan balasan, karena itulah yang membuat dikau sebagai manusia. Namun jika mengasihi untuk memuaskan ego, itu sangkali kemanusiaan yang hakiki. Gawat, ego-ku bak ular kobra yang mudah berdesis! Biar saja yang lain jeblok asal aku berkokok. Moga dikau tidak begitu. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

 

Comments

comments