111. ’Hidup Untuk Cinta’

Viewed : 1,232 views

Allah itu kasih, apapun yang dilakukan, DIA kerjakan dengan welas asih (Ef 1:5). Hati-NYA sepenuhnya ada dalam setiap karya-NYA. Jiwa, emosi, dan keseluruhan diri ALLAH habis tercurah selagi DIA mereka cipta. Emosi dan daya cipta-NYA bersatu padu menghasilkan karya yang agung gemilang nan fenomenal. ALLAH larut dan menyatu dalam setiap pribadi dan sosok hasil karya-NYA. Jika dikau dengan akal budi melihat hasil karya-NYA, jangan terkejut kalau dikau akan ‘melihat’ ALLAH.

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-NYA; (Maz 19:2)

Setiap relasi, tiap² detail, dan interaksi direncanakan dan diwujudkan dengan presisi serta akurasi sempurna. Sekaliber penghulu malaikat sekalipun tak dapat menemukan cacat ataupun memperbaiki apa yang DIA rancang dan ciptakan (Yes 40:14). Urutan dan tahapan kejadian dan hasilnya selalu terbaik dan tak ada opsi lainnya yang lebih menjanjikan. Bukan kodrat-NYA, mengerjakan sesuatu dengan setengah hati, apalagi ceroboh dan gegabah. Mata-NYA terbelalak siuman dan konsentrasi penuh ketika DIA merancang dan mewujudkan ciptaan-NYA. Jauhlah dari jati diri-NYA, DIA iseng² ataupun main² apalagi coba² (trial & error) dalam penciptaan. Pantaslah, DIA puas dan rasa ‘lega’ terpancar dari wajah-NYA se-olah² terlepas napas sesak tertahan selama ini saat akhirnya selesai juga penciptaan.

God looked over everything he had made; it was so good, so very good! (Kej 1:31, the Message: ALLAH mengamati semua detail dan tahapan yang telah DIA ciptakan; mantap, lengkap, sangat baik, yes begitu sempurna!)

Lima hari telah berlalu, sampailah hari penentu keberadaanku dan dikau. Dibutuhkan selama 5 hari menyelesaikan segala sesuatu sehingga dikau siap dihadirkan di muka bumi. Se-akan² tak ada lagi tersisa ‘kemampuan’ dalam diri-NYA ketika DIA mewujudkan kehadiran dikau di abad ke 21 ini. Dalam keabadian, diputuskan mewujudkan puncak karya masterpiece SANG PENCIPTA. Sepertinya, ALLAH berbicara kepada diri-NYA sendiri dalam persekutuan TRI TUNGGAL yang Maha Kudus nan abadi.

“Let US make human beings in OUR image, make them reflecting OUR nature. (Kej 1:26, the Message: Baiklah KITA menjadikan manusia menurut jati diri KITA, sehingga mereka memantulkan kodrat KITA.)

Sejatinya, dikau itu diciptakan dengan cinta, dalam cinta, dan untuk cinta. Hasil karya cinta, dikau, memang selalu monumental, tak ada duanya. Dikau tercipta tak lain tak bukan hanya untuk cinta. Mentari malu² muncul dari ufuk Timur, walau hanya ada dua insan di seantero buana, terasa alam semesta ikut gembira. Hari² pertama di Taman Nirwana, berdua mereka saling mencinta berpeluk erat nan mesra. Langit bersorak sorai, gunung² hutan segala pohon turut menari bersenandung ceria (Yes 44:23).

Ini maksud dari semula sejak alam tercipta, dua insan saling mencinta. Aku dikau tercipta untuk saling mencinta. Hidupmu untuk cinta. Betapa indahnya alam semesta jika kita saling mencinta. Ritual ibadah jadi bosan, kewajiban agama jadi beban tak tertahan, dan misi agama mengancan? Saatnya berpaling ke SANG PENCIPTA yang bersabda: “Kasihilah sesamamu manusia.” Karena untuk itulah dikau ada, untuk saling mencinta. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Comments

comments