Jalan ini jarang dilalui, yang sebelah ramai sekali. Hasrat hati menapaki walau sering merasa sendiri. Jalan panjang nan sepi, semak duri sering melukai. Siapa nanya, jalan sepi merubah mimpi. Fakta ataukah fiksi? Aaahhh, siapa yang akan peduli. Walau sepi dan berduri, senang sahabat setia turut serta menyertai. Kendati sulit dimengerti, kiranya dikau dapat menikmati.
Perjalanan ini seumpama minum secangkir kopi pahit, baru terasa jika diminum sedikit demi sedikit. Ini jalan tanpa gula, tak ada bumbu penghilang rasa. Setiap tegukkan terasa, masing² kata bermakna. Sadar tidak semua ada waktu untuk ‘bertapa’, di tengah gaduh dunia maya. Masihkah tersisa masa hanya sekadar untuk ‘bertanya’?
Ini bukan jalan raya, tidak pula rintisan biasa. Beranikah dikau bertanya atau berlalu diam begitu saja? Mengapa dikau dan aku ada? Apakah yang ada di ‘benak’ Sang Kuasa, ketika dikau tercipta?
TUHAN ALLAH membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kej 2:7)
Bagaikan penjunan, tukang keramik, mengambil sebongkah tanah liat. Lantas, diremas, dibanting, dan di-injak². Selepas matang, kemudian tangan yang Selfless Love itu memotong dan membengkokkan serta mengukir dengan kecermatan tiada tara. Masing² lekukan, setiap sayatan, dan tiap² irisan dikerjakan dengan sentuhan Alturistic Love. Akhirnya, DIA tersenyum, jadilah dikau yang unik tiada duanya seperti yang DIA idamkan! ALLAH puas, DIA senang, apa yang DIA pikirkan terwujud dalam dikau seorang (Yer 18:4).
Sang Penjunan belum selesai, sang ‘tanah liat’ perlu sentuhan akhir. Sentuhan yang membedakannya dengan binatang (Kej 2:19). Ini serupa dengan penyetelan piano agar setiap tuts dapat mengeluarkan nada yang seperti yang diharapkan. Ibarat mengencangkan senar gitar, agar bila dipetik terdengar bunyi khas dari setiap dawai yang selaras dan harmonis satu dengan yang lainnya.
Penyetelan akhir, ‘fine tunning’, penyelarasan frekwensi agar rupa dan gambar ALLAH terwujud dalam dikau. ALLAH menghela nafas dalam² dan meniupkan nafas hidup, nafas cinta. Eureka.., jadilah makhluk hidup yang memantulkan wajah Sang Penjunan. Sejatinya dikau itu manusia karena memancar kasih tanpa pamrih, selfless love, tak egois.
Cinta tanpa pamrih, tanpa berharap balasan. Cinta tulus dan murni, tanpa agenda tersembunyi. Cinta yang se-mata² menghendaki kebaikan. Secuilpun tak ada niat jahat terselubung, Love thinks no evil. Oops, jangan salah sangka, usah dikau curiga. Sang Penjunan masih bekerja hingga sekarang (Yoh 5:17).
Tiap² sayatan hidupmu bukanlah untuk menyakiti. Setiap tusukan, tak dimaksud untuk menghancurkan. Masing² irisan dimaksudkan untuk fine tunning kehidupan.
Maaf ya, apakah kegagalan, impian jauh dari kenyataan, sakit hati karena tertipu, berbaring karena infeksi kronis, bisnis suram, ‘nasib’ malang, itu bagian dari sayatan? Bagaimana dengan kelemahan dan kelainan bawaan, apakah itu juga termasuk ke dalam seni ukiran Sang Penjunan? Sayatan dan ukiran finishing touches yang tiada akhir selama hayat dikandung badan, selama nafas cinta masih ada di dada.
Jangan terkejut, tak usah berprasangka buruk, tanah liat tengah dibentuk. Sehingga buluh yang patah terkulai kembali tegak. Lampu yang memudar kembali bersinar. Untuk apa? Agar dikau menjadi pantulan selfless love. Kasih tanpa pamrih ke semua insan di tengah dunia yang ganas, rakus, egois, dan rasialis. Dikau itu harapan dunia ini. Tidakkah dikau menyadari? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. |




