531. Dark Ages!

Viewed : 12 views

“Kegelapan sejati bukanlah tidak adanya terang, melainkan ketika institusi suci merasa berhak memadamkan bintang.”

Boleh jadi, inilah perang paling dahsyat dan panjang dalam panggung sejarah peradaban manusia. Sebuah pertempuran paling sengit demi menggenggam kemudi arah kebudayaan—pergulatan tiada henti yang telah berkecamuk sejak 16 abad silam, bahkan hingga abad ke-21!

Ini bukanlah bentrokan fisik antarnegara, golongan, apalagi antaragama. Ini perseteruan senyap di relung pemikiran manusia. Sebuah pertarungan cara pandang dan penguasaan worldview, yang kelak secara nyata menuntun derap langkah peradaban.

Lembaga gereja menguasai worldview peradaban Abad Pertengahan, antara tahun 500 hingga 1500. Kendati pilar intelektual Kekristenan dipancang secara sistematis di era ini hingga kelak menopang peradaban Barat, masa tersebut justru terlanjur dijuluki “Abad Kegelapan” (Dark Ages)!

Dalam bentang waktu ini, teologi tak sekadar dipandang sebagai sepetak disiplin, melainkan kerangka agung yang menaungi seluruh cabang pengetahuan. Maka, ia dinobatkan sebagai “Queen of the Sciences”— Ratu segala ilmu. Dari rahim era inilah lahir universitas-universitas ternama yang melintasi zaman hingga hari ini, seperti Oxford dan Cambridge di Inggris.

Di kampus-kampus tersebut, teologi duduk bersisian dengan filsafat, hukum, kedokteran, hingga ilmu alam. Seluruh cabang pengetahuan berteduh di bawah naungan teologi—terikat dalam satu kesatuan utuh demi menyingkap karya Sang Pencipta.

Di era ini, worldview peradaban memandang Sang Pencipta itu maharasional, sehingga karya cipta-Nya pun berhias keteraturan yang sanggup diselami. Maka, mengurai hukum alam bukanlah laku yang berseberangan dengan iman, melainkan wujud penghormatan kepada Sang Pencipta. Cara pandang inilah yang kelak menjadi pilar utama bagi fajar Revolusi Ilmiah.

Lantas, mengapa masa itu tetap dijuluki Abad Kegelapan?

Seiring waktu, lembaga gereja merenggut takhta politik dan ekonomi yang amat besar. Pepatah “power tends to corrupt”, menemukan wujudnya di balik tembok kerohanian. Ketika institusi suci berselingkuh dengan kekuasaan dan politik, akibatnya fatal.

Tak ada mahkota raja yang dipandang sah tanpa urapan gereja. Gereja, secara de facto, bertakhta di atas lembaga pemerintahan. Namun, kala gereja tergiur “bermain” politik, ia kehilangan marwah dan fungsi utamanya. Gelombang kritik pun bergulir deras, hingga akhirnya menyulut fajar Reformasi Protestan pada abad ke-16.

Otoritas tradisi gereja acap didudukkan hampir sejajar dengan Firman Tuhan. Dan tatkala tradisi berbenturan dengan temuan ilmu pengetahuan, tradisi dipertahankan mati-matian—sementara sains dicap sebagai bentuk pembangkangan terhadap Tuhan.

Kendati tak sedikit ilmuwan ulung lahir dari kalangan rohaniwan dan perguruan tinggi berakar dari lingkungan gereja, relasi gereja dan sains tak luput dari kerikil tajam. Peristiwa paling masyhur yang senantiasa digaungkan tak lain adalah kisah sang astronom: Galileo Galilei.

Galileo membela teori heliosentris— gagasan bahwa mataharilah pusat tata surya—yang dirintis oleh Nicolaus Copernicus (1473–1543). Copernicus memahatkan pemikiran revolusioner itu dalam karya utamanya, De revolutionibus orbium coelestium, yang terbit pada tahun 1543, persis di ambang senja hayatnya.

Sementara itu, otoritas gereja kukuh membela kosmologi geosentris Ptolemaios—keyakinan bahwa Bumilah pusat alam semesta—yang bertolak belakang dengan pandangan heliosentris. Puncaknya, pada tahun 1616, karya yang memuat gagasan heliosentris resmi dilarang. Buku tersebut dimasukkan ke dalam Index Librorum Prohibitorum— daftar resmi buku-buku terlarang.

Kurang lebih 70 tahun selepas wafatnya Copernicus, Galileo membuktikan kebenaran gagasan sang pendahulu. Langkah ini membuatnya dituduh membangkang terhadap tradisi gereja. Pada tahun 1633, Galileo diseret ke hadapan Inkuisisi Roma, dipaksa mencabut keyakinan ilmiahnya, lalu dijatuhi hukuman tahanan rumah hingga akhir hayat.

Peristiwa ini menorehkan noda hitam dalam sejarah relasi gereja dan sains. Akhirnya tak terelakkan, perseteruan tersebut dianggap masyarakat umum sebagai benturan antara iman vs sains!

Gesekan tajam inilah yang kelak menjadi lahan subur bagi bertunasnya teologi liberal—aliran pemikiran yang merevolusi lanskap doktrin di berbagai denominasi gereja hingga hari ini.

Dan…aaahhh, tanpa sadar, worldview itu telah turut juga mempengaruhi cara daku beribadah bahkan hingga mengerti isi Alkitab! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments