521. Anti-Eden!

Viewed : 254 views

“Di luar rancangan ILAHI, kemegahan peradaban hanyalah cara manusia merajut kebinasaannya sendiri. Di atas samudera zaman yang memberontak, pilihannya mutlak: rakitlah bahtera, atau karam ditelan arus raksasa.”

Tafsir kuno atas fragmen the second rebellion dalam Kejadian 6 mengisyaratkan jalinan timbal balik antara yang insani dan yang adikodrati. Disembodied spirits— roh-roh dari keturunan hibrida yang binasa—kini menjadi roh-roh yang gentayangan di udara sebagai kuasa gelap. Keberadaan mereka nyata, mengintervensi dan membelokkan arah gerak sejarah dunia (Efesus 2:2).

Alkitab memang tak menguraikan secara eksplisit asal-muasal penguasa kerajaan angkasa itu beserta antek-anteknya. Namun, eksistensi tirani gelap yang melingkupi bumi ini nyata. Kelak, Sang Firman yang berinkarnasi menyebutnya sebagai penguasa dunia (Yohanes 14:30), the prince of this world (versi NIV), sang pangeran kegelapan yang mencengkeram zaman.

Keberadaan kerajaan gelap yang saling kait-mengkait dengan dimensi bumi menjadi worldview yang melandasi seluruh narasi Kitab Suci. Manusia tidak pernah sendiri. Ada alam lain beraroma busuk yang tiada henti menggoda peradaban, menghasut kemanusiaan agar melawan perwujudan the original plan.

Jika YHWH merindukan manusia sebagai cerminan dan pantulan jati diri-NYA (Kejadian 1:26), maka kerajaan angkasa itu justru menghasut manusia menjadi bengis. Mereka membujuk insan bertindak lebih keji dari binatang demi saling memusnahkan. Saat DIA memberi hak istimewa bagi manusia untuk meluaskan Taman Eden, musuh bertindak sebaliknya: si ular dan konco-konconya menggoda peradaban untuk meluaskan anti Eden!

”Beranakcuculah, bertambah banyaklah, dan penuhilah bumi.” (Kejadian 9:1)

Demikian firman-NYA saat memberkati Nuh dan anak-anaknya. Keluar dari dekapan bahtera, Nuh bersama Sem, Ham, dan Yafet menyongsong cakrawala baru yang sarat harapan. Inilah halaman pertama untuk memulai kembali lembaran peradaban. Global resetting ini menjadi ujung tombak demi mewujudkan kembali maksud purba YHWH: memenuhi jagat dengan generasi yang segambar dan serupa dengan Sang PENCIPTA (Kejadian 1:26,28).

Seakan YHWH menaruh harapan yang teramat besar pada pundak Nuh dan keluarganya. Merekalah generasi yang luput dari amukan air bah, penyambung lidah bagi impian-NYA. Mengapa tidak? Mereka adalah saksi hidup yang mengecap sendiri kasih pemeliharan-NYA dan sekaligus saksi mata atas murka-NYA.

Setidaknya, Nuh dapat meraba betapa pilu hati-NYA (Kejadian 6:6) tatkala menyaksikan dengan mata kepala sendiri; tua-muda, besar-kecil, anak-anak hingga kaum jompo, binasa secara menyedihkan. Kedelapan survivor ini mengecap fenomena kasih sekaligus kemurkaan-NYA dalam satu cawan. Sebuah pengalaman dahsyat yang teramat sulit dilukiskan oleh kata.

Nuh tegak sebagai saksi hidup hingga 350 tahun selepas air bah (Kejadian 9:28), mendampingi langkah generasi-generasi penerus. Sepanjang rentang waktu yang panjang itu, fajar peradaban kembali diwarnai oleh optimisme agung: kerinduan bersama untuk mewujudkan kembali rancangan awal-NYA, meluaskan Taman Eden hingga melingkupi seluruh bumi.

Berlaksa masa berselang selepas kepulangan Nuh ke dalam keabadian, gerak peradaban dengan cepat berbalik arah. Mereka beralih loyalitas, menjadi pengikut patuh sang penguasa dunia. Alih-alih menggenapi blue print Sang PENCIPTA, manusia memilih jalannya sendiri—terang-terangan menentang mandat-NYA:

“… supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” (Kejadian 11:4)

Drama perwujudan the original plan melawan rancangan anti-Eden kini menjadi medan laga yang tiada berkesudahan, bahkan hingga akhir zaman! Jangan terkejut apabila mendengar deru perang; bangsa akan bangkit melawan bangsa, suku saling memusnahkan, kelaparan merajalela, dan bencana alam mengguncang di mana-mana. Sungguh, semua ini barulah babak mula dari fajar penggenapan rencana-NYA (Matius 24: 6,7)!

Sebagaimana Nuh dan keluarganya di era purba, Adinda pun mungkin merasa bagai minoritas di tengah derasnya arus peradaban anti-Eden. Namun ingatlah, Puan dan Tuan bak kedelapan jiwa purba itu; dipanggil merajut bahtera iman untuk berlayar menuju pantai rancangan-NYA.

Selamat berlayar, mengarungi samudera zaman. Awas kiri-kanan rayuan maut siap menerkam. Moga daku dan dikau sampai di dermaga tujuan dengan aman²! Aamiin..🙏🏽 (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments