“Tiga kali peradaban purba mendobrak takdir, tiga kali pula Langit turun menginterupsi keangkuhan debu pasir. Dan ketika abad modern mengira telah berhasil mengurung-NYA dalam paham materialisme, debu Qumran bangkit mendikte kembali arah sejarah.”
Kisah the third rebellion dalam Kejadian 11 bergaung dengan angkuh: “…supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” Narasi ini menyingkapkan makar total peradaban terhadap the original plan. Sebuah penolakan mentah-mentah atas maksud eksistensi manusia sejak semula: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi…” (Kejadian 1:28).
Sungguh pelik menyelami apa yang sejatinya bergejolak di era Babel. Ideologi apa yang begitu mencengkeram, hingga seluruh peradaban bersepakat mutlak melawan-NYA? Mungkinkah benturan sejarah di sana jauh lebih tragis dari sekadar kisah yang didengar selama ini?
6Lalu Ia berkata, “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa, dan ini baru permulaan dari rencana-rencana mereka. Tak lama lagi mereka akan sanggup melakukan apa saja yang mereka kehendaki. (Kejadian 11 BIS)
Kala manusia bersatu dalam tekad yang padu, Sang Maha KUASA pun seakan dibuat-NYA bisu. Sebab membiarkan nafsu peradaban berjalan liar tanpa batas, ujung-ujungnya sesama akan saling tebas.
Namun, syukurlah, begitu besar kasih-NYA terhadap makhluk yang dipahat menurut gambar dan rupa-NYA. Pada sebuah titik krusial dalam sejarah peradaban, DIA turun tangan mengintervensi secara nyata!
Dalam the first rebellion, DIA mengambil jalan tegas dengan mengusir manusia pertama dari Taman Surga. Tak terbayangkan nestapa sesesak ‘sakit bersalin’ yang akan dialami insan selama-lamanya, andai manusia tetap memiliki akses ke Pohon Kehidupan (Kejadian 3:22).
Pada narasi the second rebellion, DIA seakan ‘terpojok’ oleh ulah makhluk dari alam lain yang berasimilasi dengan insan. Inilah untuk pertama kalinya dalam Alkitab, DIA merasakan sakitnya ‘dizalimi’. Peristiwa makar kosmis ini membuat hati-NYA pilu, sebuah duka yang mengiris bak disayat sembilu (Kejadian 6:6).
Bagaimana mungkin makhluk ciptaan sanggup membuat DIA merasa seakan lepas kendali? DIA menyesal telah menciptakan mereka untuk hidup di bumi—sebuah penyesalan tulus dari Satu PRIBADI yang teramat mengasihi mahakarya tangan-NYA sendiri.
Asimilasi dua dimensi yang berlainan melahirkan generasi anomali. Adakah jalan lain yang lebih manusiawi untuk menyelamatkan the survivors: delapan jiwa yang masih loyal kepada-NYA? Satu-satunya pilihan hanyalah menggelar air bah, melenyapkan peradaban sungsang itu. Tragisnya, benih durjana ini di kemudian era masih terus berikhtiar menghambat the original plan (Bilangan 13:33).
Sementara dalam drama the third rebellion, tak tersisa lagi satu pun jiwa yang loyal kepada-NYA. Semua telah menyimpang, bersikeras membatalkan ‘takdir’. Sebuah makar kolektif yang diwujudkan lewat pembangunan menara Babel: kemajuan teknologi justru menjadi senjata untuk melawan kehendak-NYA!
Intervensi ILAHI yang terakhir ini membekas begitu unik: mengacaukan gerak lidah manusia! Secara alamiah, peradaban pun terserak mengikuti rumpun tutur masing-masing. Walhasil, beragamnya bahasa di bawah matahari sejatinya merupakan tindakan ILAHI—sebuah paksaan suci agar manusia bergerak bertebaran memenuhi bumi.
Table of Nations dalam Kejadian 10 disebutkan ada 70 bangsa dari silsilah Sem, Ham, dan Yafet. Daftar bangsa inilah yang kelak menjadi acuan untuk menunjuk dunia non-Yahudi dalam bentang narasi Alkitab selanjutnya. Sebuah makro-kosmos riwayat yang pada akhirnya bermuara di hadapan takhta Sang RAJA, di mana akan berhimpun segala suku, bahasa, kaum, dan bangsa (Wahyu 5:9).
Seluruh paparan di atas adalah pemahaman baku yang umum dipahami hingga kini. Memang tak ada bentangan penjelasan lanjutan perihal riwayat Babel dalam lembar kitab Kejadian. Seakan prahara kosmis itu terkunci, selesai di pasal 11 saja.
Namun, penemuan Dead Sea Scrolls di gua Qumran di pertengahan abad 20 mendobrak mapannya doktrin yang lebih 1000 tahun mendominasi dunia teologi. Sebuah lanskap pemahaman baru yang radikal, memaksa para pakar paling piawai pun tertegun takjub kehabisan akal…!
Aaahhh… mungkinkah singkapan arkeologi di abad 20 itu merupakan wujud intervensi ILAHI di era digital? Sebuah teguran senyap di tengah kepungan dunia modern yang kian materialistis? Entahlah…! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
