Senang! Anda menjadi teman perjalanan menuju alam pikir yang tidak biasa. “Sebuah jalan bercabang dua di hutan belantara. Jalan yang ke kanan jarang dilalui!” Petualangan ini akan menempuh jalur yang jarang dijelajahi. Bersiaplah untuk menghadapi berbagai kejutan, karena tidak ada petunjuk yang jelas mengenai apa yang ada di depan.
Untuk sementara waktu, lupakan apa yang dulu-dulu. Hadapi fakta, meski terasa ngilu. Ini kisah yang melesat di luar nalar, bagai gema masa lalu yang kembali bergetar. Bukan sekadar cerita—ini irama dari alam maya yang beresonansi hingga ke dunia nyata.
Meskipun tak ada yang baru di bawah matahari (Pengkhotbah 1:10), drama ini tetap mengundang keheranan sekaligus merebut hati yang rindu akan Sang Kekasih. Seperti legenda yang tampak tak masuk akal, kisahnya terasa janggal. Namun bagi jiwa yang terpesona, narasinya justru menguak kebenaran yang nyaris sulit dipercaya!
Let us celebrate, let us rejoice, let us give him the glory! The Marriage of the Lamb has come; his Wife has made herself ready. (Wahyu 19:7 M)
Ini puncak sukacita! Perayaan besar-besaran, sorak-sorai menggema ke seluruh dimensi alam. Suasana yang sulit diungkapkan—kata-kata pun tak cukup untuk melukiskannya. Alam semesta turut berdendang, segenap makhluk dari alam yang tak biasa bertempik sorak, menari sambil bergandengan tangan. Keceriaan tiada tara, karena apa yang YHWH rindukan sejak semula kini telah terwujud!
Rasul Yohanes pun tak kuasa menyaksikan penglihatan luar biasa ini. Sampai-sampai ia khilaf, tersungkur menyembah malaikat yang memperlihatkan peristiwa akbar perkawinan Anak Domba (Wahyu 19:10). Bersyukur, malaikat itu tahu dirinya bukan siapa-siapa.
Dapatkah dirangkum dalam satu kesimpulan? Benang merah yang menyatukan keseluruhan isi Alkitab. Tepatkah kalau dikatakan?
Alkitab adalah kisah romantis abadi —endless love— dengan narasi yang bermula sebelum segala sesuatu tercipta dan berlanjut melewati zaman dan terus berlangsung walau peradaban ini sirna. Drama cinta tak berujung yang melampaui dimensi waktu, terus berlanjut tanpa henti hingga ke dalam keabadian.
Kisah cinta ini berawal dari hati Sang BAPA (1 Yohanes 4:8). Kemudian, ritmenya bergetar, merambat saat alam semesta tercipta. Puncaknya terjadi ketika Adam dan Hawa ada—berdua mereka menjadi cikal bakal tunangan ilahi. Dari dua insan ini, diberi mandat untuk berlipat ganda hingga memenuhi bumi (Kejadian 1:28).
Meski drama di Taman Eden berakhir dengan cinta duka, YHWH tetap setia pada impian-NYA sejak semula. Apa boleh buat—kisah cinta kedua pun bernasib sama, melukai hati-NYA (Kejadian 6:6-7). Nuh dan keturunannya menjadi harapan-NYA yang ketiga!
Bagai anak laki-laki satu-satunya—Tongat sebutan dalam logat Karo—pembawa nama marga dalam tradisi berbagai suku di Indonesia. Keluarga, terutama sang ayah, merindukan agar si Tongat segera mendapatkan jodoh. Kadang, orang tua terlalu maju, mengambil inisiatif mencarikan pasangan bagi anaknya!
Mungkinkah demikian kerinduan Sang BAPA—agar Anak Tunggal-NYA menemukan kekasih hati? Kerinduan inilah yang mendorong-NYA menciptakan alam semesta dan manusia menurut gambar dan rupa-NYA. Tanpa motivasi perjodohan ini, DIA akan tetap menjadi misteri yang tak terhampiri!
Jika saja Adam dan Hawa tetap setia, keturunan mereka akan segera berkembang biak berlipat kali ganda dan memenuhi bumi—sesuai mandat utama dan pertama (Kejadian 1:28; 9:7). Maka, pesta perkawinan Anak Domba pun cepat terwujud. Sejarah tak perlu diwarnai bencana air bah, dan peradaban tak harus dilalui dengan air mata dan darah.
Namun sejarah berkata lain!
Sebagaimana dulu, kini pun seperti itu. DIA rindu Adinda berlipat ganda memenuhi bumi sehingga tunangan-NYA (2 Korintus 11:2) ada di mana-mana. Dengan demikian (Matius 24:14), tercapailah kerinduan Sang BAPA sejak dahulu—Anda dan yang lainnya genap jumlahnya (Roma 11:25) menjadi tunangan Sang Anak! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |

