Amanat bertambah banyak dan beranak cucu bermaksud agar Taman Eden semakin luas. Apa gerangan yang ada di luar Taman? Bumi ditaklukkan dengan kehadiran imago Dei sehingga signal kerajaan-NYA “ON” di seluruh negeri.
Ibarat Proyek Strategis Nasional berskala kosmik, Taman Eden menjadi kantor pusat manajemen ilahi. Proyek besar untuk meluaskan taman hingga meliputi seluruh negeri. Kerinduan-NYA agar tak ada sejengkal pun lahan yang luput dari pengaruh Eden. Di kantor ini, anak-anak-NYA dari alam adi-kodrati dan ranah insani bersatu padu mengeksekusi rencana-NYA, menghadirkan kerajaan-NYA di muka bumi.
Wajar bila penulis Kitab Kejadian pasal 3 melukiskan dialog antara Hawa dan si ular layaknya percakapan dalam sebuah temu kerja (Kejadian 3:1–5). Dapat diduga, ini bukanlah dialog pertama antara makhluk dari alam yang berbeda. Kesan bak kolega terasa, sebab Hawa tidak canggung, apalagi takut atau terkejut, berdiskusi dengan si ular—yang ternyata berasal dari orang dalam. Si ular bak dari pasukan elite, ring-1 Paspampres, sang kerub penjaga tahta suci Sang RAJA (Yehezkiel 28:14).
Taman Eden, gunung kudus-NYA, gunung yang menyiratkan makna sebagai markas komando, tempat kehadiran tahta Sang RAJA. Sang RAJA menyerahkan pelaksanaan proyek kepada para pelaksana lapangan. Scope of Work proyek sangat jelas: “Penuhi bumi dan taklukkan!” Dengan Adam dan Hawa beranak cucu dan bertambah banyak, mereka memenuhi setiap negeri serta menguasainya, sehingga seluruh bumi dihuni. Maka tercapailah tujuan semula: kerajaan-NYA hadir di seluruh bumi, pemerintahan-NYA meliputi segala negeri (Kejadian 1:28; Matius 6:10).
Sulit dibayangkan, dan karena itu wajar bila daku—mungkin juga dikau—bertanya: apa gerangan yang ada di luar Taman Eden?
Satu hal sudah pasti: kawasan di luar taman termasuk wilayah yang belum ditaklukkan di bawah pemerintahan Sang RAJA. Dalam perspektif budaya ANE (Ancient Near East), taman adalah lukisan keteraturan, relasi harmonis antara alam supranatural dan alam natural, dan tempat kehadiran Sang RAJA.
Dengan kata lain, Taman Eden adalah wilayah kudus, sacred space, karena di sanalah tahta Sang RAJA hadir. Taman ini menjadi semacam Bait Allah pertama di muka bumi. Sacred space itu akan meluas seiring bertambahnya keturunan Adam yang mendiami wilayah di luar Eden. Perluasan taman mengikuti langkah kaki anak cucu Adam yang menapaki bumi, hingga akhirnya seluruh bumi menjelma menjadi Global Eden.
Dengan kata lain, tugas utama Adam adalah meluaskan “kemah bait suci” hingga melingkupi seluruh bumi (Yesaya 54:2). Perluasan wilayah kudus ini menjadi mandat utama bagi makhluk ciptaan yang memancarkan imago Dei, HIS image. Di mana keturunan Adam hadir, di situlah Eden dan wilayah kerajaan-NYA menjelma (Lukas 17:21).
Boleh jadi, pengertian “penaklukan” bumi bukanlah memerangi alam yang jahat untuk menghancurkan musuh, melainkan mengolah potensi tersembunyi yang belum tergarap. Dari sudut pandang lain, penaklukan juga berarti mengalirkan kekudusan dari dalam taman ke luar taman. Hal ini hanya mungkin terjadi bila manusia, sebagai pembawa kehadiran YHWH, hadir di wilayah baru tersebut. Penaklukan (subduing) adalah proses mengubah potensi alam menjadi ruang hunian ilahi melalui kehadiran makhluk yang memancarkan imago Dei.
Peran imago Dei dalam meluaskan Taman Eden dapat diibaratkan dengan teknologi WIFI. Eden bak hotspot di mana sinyal langit dan bumi bertumpang tindih dalam harmoni sempurna. Tugas imago Dei serupa fungsi sebuah router, memperluas jangkauan sinyal kerajaan surgawi. Di mana pun manusia pembawa citra ilahi hadir, di situlah sinyal Kehadiran Kerajaan-NYA menjadi aktif.
Dengan demikian, dapat dipahami mengapa amanat yang sama, meski dalam bentuk berbeda, diperintahkan Sang FIRMAN menjelang akhir misi-NYA di bumi sebelum kembali ke alam adi-kodrati: “Pergi…pergi…pergi!” (Matius 28:19). Pergilah ke seluruh negeri, hadirkan kerajaan-NYA di segenap muka bumi, agar Eden kosmik menjelma di setiap sisi kehidupan insani.
Aaahhh…misteri Babel masih menjalar dari ribuan tahun silam hingga kini: daku lebih senang berkumpul dengan saudara sendiri. Lalai akan fungsiku sebagai router ilahi.
Moga Puan dan Tuan tidak demikian, melainkan siap hadir di mana-mana, agar sinyal kerajaan-NYA menyala, ON di tiap suku, bahasa, kaum, dan bangsa. Semoga..!(nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
