“Ketika mitos purba memahat takdir manusia sekadar sebagai budak dari sisa darah konflik antardewa, sebuah kebenaran radikal mendobrak: Sang PENCIPTA justru dengan sukarela mengikatkan diri-NYA pada insan dalam keabadian komitmen cinta!”
Tentu bukan Alkitab satu-satunya yang melantunkan riwayat Penciptaan Manusia (Kejadian 1), prahara Air Bah (Kejadian 6), dan drama Menara Babel (Kejadian 11). Lembaran sastra yang jauh lebih purba telah mengabadikan kisah serupa. Narasi Alkitab tidaklah hadir di ruang hampa; penulisnya menganyam budaya yang dipahami kala itu, lalu membingkainya untuk menegaskan kedaulatan YHWH.
Riwayat purba tentang ketiga peristiwa epik itu beredar luas di seantero Timur Dekat Kuno (Ancient Near East, ANE), kawasan Irak modern kini. Seakan penulis kitab Kejadian dengan leluasa meminjam literatur tersebut; menjadikannya kerangka dialog untuk menyingkapkan perspektif wahyu Ilahi.
Kisah penciptaan Kejadian pasal 1 dan 2 hadir untuk meluruskan carut-marut pandangan purba dalam narasi Enuma Elish (EE). Epos kosmologi ini dipahat di atas lempengan tanah liat; dituturkan dalam bahasa Akkadia melalui guratan cuneiform—aksara paku.
Kontras dengan Alkitab, EE mengisahkan drama penciptaan yang lahir dari rahim peperangan antardewa. Manusia kemudian dirajut dari anyaman darah dewa pemberontak. Tugas purba mereka hanyalah menyuapi rasa lapar para sesembahan melalui ritus makanan dan korban. Pada hakikatnya, manusia sengaja dihadirkan sekadar untuk menjadi budak para dewa.
Sementara itu, Epic of Gilgamesh turut melukiskan pertengkaran para dewa dan petaka air bah yang sekilas serupa dengan penuturan Alkitab. Namun, celah pemisah utamanya terletak pada alasan di balik terjadinya bencana. Dari sudut teologis, dunia kuno justru memuja Gilgamesh sebagai pahlawan meski ia sesosok keturunan sungsang (hybrid). Sebaliknya, Alkitab mengunci drama kolosal ini dengan keanggunan berbeda: DIA mengikat perjanjian sakral dengan Nuh dan seluruh keturunannya.
Sementara itu, prasasti kuno Sumerian King List mencatat kisah peradaban sebelum dan sesudah air bah. Di sana, takhta raja merajai poros sejarah; para penguasa diagungkan sebagai titisan dewa. Namun, baik lembaran King List maupun Alkitab sepakat menjadikan air bah sebagai peristiwa penting yang mengubah sejarah peradaban.
Bagi para cendekiawan, penulis Kejadian bukanlah sedang merajut mitologi tandingan. Penulis justru sedang menafsir ulang seluruh cara pandang (worldview) peradaban ANE. Menggunakan ranah tema yang karib di telinga zaman—kejadian semesta, amukan air bah, dan silsilah bangsa—mereka membelokkan kiblatnya demi menggemakan pengenalan akan YHWH: Yang Esa, Kudus, Mahaberdaulat, dan karib dalam ikatan perjanjian.
Maka, kemiripan riwayat seputar penciptaan, prahara air bah, dan kemelut Babel di antara peradaban kuno Mesopotamia, Mesir, hingga Kanaan tidaklah mengejutkan. Peradaban yang saling bersentuhan geografis dan bernapas dalam rahim zaman yang sama, niscaya meraba kegelisahan filosofis abadi yang serupa: Mengapa kita ada di sini? Bagaimana kita bisa sampai di titik ini? Serta siapa—atau apa—yang sesungguhnya mengendalikan roda semesta?
Walhasil, The Hebrew Bible (Perjanjian Lama) bukanlah sekadar lembaran purba biasa di kawasan ANE, melainkan sebuah ajakan berdialog —sebuah penyingkapan sejarah eksistensi manusia yang keunikan maknanya tak dijumpai dalam narasi kuno mana pun.
Perjanjian Lama menyingkapkan terobosan radikal bagi dunia purba: sebuah konsep relasi kasih yang karib antara YHWH dengan manusia. Bentuk ikatan setulus ini tak pernah berjejak dalam narasi-narasi kuno mana pun di seantero ANE.
Jalinan cinta antara YHWH dan insan menjadi segel khas yang mengikat seluruh narasi Alkitab, baik dalam lembaran Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Kisah pertalian cinta bak pengalaman sesama dalam relasi romantisme kehidupan.
Kontras dengan jajaran dewa purba yang membelenggu manusia dalam perbudakan, YHWH justru dengan sukarela mengikatkan diri-NYA pada insan lewat suatu janji. Sebuah komitmen agung yang seakan membatasi kebebasan mutlak diri-NYA untuk bertindak kalau sudah berhubungan dengan manusia!
Ini letak pembeda paling radikal dari konten warisan literatur purba: narasi Alkitab mengubah kehidupan pembacanya! Dan… aaahhh… dewa mana di seantero jagat purba yang sudi berkorban demi manusia..? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
