515. Forbidden Knowledge

Viewed : 59 views

“Dahulu, cawan forbidden knowledge menumpahkan darah; kini, di era digital peradaban begitu mudah dapat punah. Waspadalah, sebab sejarah era Nuh dapat kembali mewabah dari segala arah!”

Bagi Israel kuno, narasi Kejadian 6 adalah pilar krusial dalam memahami rapuhnya tatanan dunia. Jika the first rebellion di Kejadian 3 menitikberatkan pada pilihan manusia melawan titah-NYA, maka narasi the second rebellion berfokus pada kelancangan makhluk supernatural. Mereka melewati batas tabu yang telah ditetapkan (Yudas 1:6).

Ikhtiar tabu ini melahirkan makhluk yang segambar dengan ambisi mereka. Sebuah gagasan lancang yang melangkahi batas, persetubuhan dua alam yang melahirkan generasi sungsang. Keturunan raksasa yang jiwanya telah cacat sejak mula; generasi yang kecenderungan hatinya hanya membuahkan kejahatan semata (Kejadian 6:4-5).

Sulit membayangkan satu peradaban yang begitu bejat berlaksa-laksa tahun silam. Penjelasan lebih panjang dari Kejadian 6 dapat ditemukan dalam dokumen extra biblical yang lahir di era the second temple period seperti Kitab Enok. Dokumen ini memikat perhatian para pakar karena tersingkap dalam ekspedisi arkeologi the Dead Sea Scrolls pada pertengahan abad ke-20.

Walau Kitab Enok bukanlah bagian dari kanon Alkitab, ia tetap menjadi cermin bagaimana umat Yahudi kuno menafsir Kejadian 6. Bahkan Rasul Petrus dan Yudas, dalam surat penggembalaannya, tidak canggung mengutip narasi dari 1 Enok, khususnya pasal 6 hingga 16 (bandingkan dengan 2 Petrus 2:4-5; Yudas 1:6).

Dalam kisah 1 Enok, diceritakan bahwa anak-anak Allah yang mbalelo itu adalah para Watchers—sang malaikat penjaga. Istilah Watchers di sepanjang Alkitab hanya ditemukan dalam Kitab Daniel (4:13, 17, 23), meski hadir dalam panggung kisah yang berbeda.

Dalam Kitab Daniel, para penjaga yang setia memikul tugas luhur: menyampaikan dan menunaikan titah YHWH (Daniel 4:13). Selaras namanya, makhluk adikodrati ini memantau dan berjaga atas langkah-langkah manusia. Namun dalam Kitab Enok, para penjaga ini justru mbalelo. Mereka melampaui wewenang, tergiur keindahan fana, lalu mengambil putri-putri manusia—persis seperti yang tersirat dalam Kejadian 6.

“Maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri… siapa saja yang disukai mereka” (Kejadian 6:2).

Besar kemungkinan, para penjaga yang mulanya setia dalam Kitab Daniel, di kemudian hari goyah oleh godaan pandangan mata. Mereka terpikat moleknya rupa, hingga menerjang batas kodrat yang telah ditempa. Hal ini diperkuat fakta bahwa narasi Daniel memiliki akar yang lebih tua dibanding drama serupa dalam Kitab Enok.

Kitab Enok menyingkap tabir lebih dalam! Para penjaga tidak hanya melahirkan generasi hybrid yang ganjil, tetapi juga menyemaikan forbidden knowledge—pengetahuan terlarang—ke dalam benak manusia (1 Enok 8).

Ilmu terlarang ini antara lain menyelinap ke ke-4 penjuru kegelapan.

Pertama, seni menempa pedang dan belati; alat bengis yang melipatgandakan hasrat bunuh-membunuh.

Kedua, rahasia moleknya rupa dan sensualitas; pemicu kilat bagi runtuhnya pagar moral.

Ketiga, magis dan ilmu gaib; yang menjerat sukma dalam persekutuan dengan alam gelap.

Terakhir, astronomi semu; upaya lancang manusia untuk menyingkap dan mengendalikan garis nasib.

Syahdan, Kitab Enok hadir sebagai tafsir purba atas peristiwa Kejadian 6. Sebuah narasi yang mengurai lebih rinci: mengapa di era Nuh kejahatan manusia begitu raksasa di bumi. Mengapa pula segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kejadian 6:5).

Mengapa disebut forbidden knowledge? Sejatinya, bukan ilmu itu sendiri yang menjadi noda, melainkan sumbernya: ia disulut oleh makhluk adikodrati yang memberontak. Celakanya, api itu jatuh ke tangan manusia yang hatinya telah karatan. Akibatnya fatal! Sebuah peradaban terpaksa dilenyapkan; saat kejahatan merajalela, moralitas runtuh.

Aaahhh… bukankah Anda dapat mengendus aroma serupa di era digital ini? Kemajuan ilmu yang melesat pesat, namun itu jatuh di tangan insan yang ingin mengambil alih posisi TUHAN!

Akibatnya akan fatal! Namun, bukankah itu cerita masa lalu? Tidak! Sekarang pun bukankah sedang menuju ke arah situ? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments