Memahami si ular dalam kitab Kejadian pasal 3 sebagai perlambang, menuntun pengertian tentang peristiwa di Taman Eden akan lebih berkembang. Paling tidak terhindar dari debat kusir bahwa suatu waktu dulu manusia dapat berkomunikasi bebas dengan binatang.
Tidak ada indikasi sama sekali kejadian tersebut sesuatu yang ganjil, atau berlawanan dengan segala dalil. Sebaliknya, penulis dengan leluasa menggunakan perlambang binatang itu sebagai bagian cara untuk menyampaikan pesan kepada pembaca.
Fakta bahwa Hawa santai saja bertegor sapa dengan si ular mengindikasikan dia mengenal baik lawan bicaranya. Untuk memahami apa yang terjadi, daku dan dikau sebaiknya melangkah melewati pengertian secara harfiah dari konten narasi.
Budaya acient Near Estern(kawasan negara Irak modern) di era Perjanjian Lama, binatang dapat berbicara bukanlah sesuatu yang anomali. Simbol-simbol binatang dipakai sebagai perlambang makhluk adikodrati. Sekarang pun dikau masih dapat temukan patung singa atau bahkan ular sebagai penjaga gerbang masuk ke tempat suci (lihat gambar ilustrasi di bawah).
Kamu adalah kerub penjaga yang diurapi, dan Aku telah menempatkanmu. Kamu ada di gunung kudus Allah; dan kamu berjalan di tengah-tengah batu-batu berapi. (Yehezkiel 28:14 AYT)
You were an anointed guardian cherub. I placed you; you were on the holy mountain of God; in the midst of the stones of fire you walked. (versi ESV)
Dalam cuplikan adegan ratapan tentang kejatuhan raja Sidon (Yehezkiel 28:11-19), terselip rangkaian peristiwa yang terjadi di Taman Sorga. Ini tentang sang Kerub, salah satu dari makhluk supranatural, penjaga tahta Sang Pencipta.
Sang kerub bukanlah makhluk sembarang, secara khusus dinobatkan sebagai body guard Sang Kuasa. Bak sekuriti yang dipercaya untuk berjaga-jaga, mengawasi kesucian siapa saja yang hendak bertemu dengan YAHWEH. Semua yang hendak menghadap Sang Pencipta haruslah melewati sang penjaga.
Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yesaya 6:2,3)
Seperti Serafim dalam penglihatan nabi Yesaya (Yesaya 6:1-7), bertugas untuk menjaga tahta suci Sang Kuasa. Kala nabi Yesaya menyadari bahwa dia tengah berada di hadapan tahta, noda sebagai manusia akan membuatnya binasa. Syukurlah serafim datang membawa bara untuk mentahirkan dia dari dosa (Yesaya 6:7).
Serafim adalah adalah kata jamak dalam bahasa Inggris yang berasal dari kata Iberani, seraph. Seraph berarti makhluk bersayap atau pejaga api. Namun, seraph sebagai kata kerja dapat juga berarti menyala-nyala sebagaimana juga nachash (ular) sebagai kata kerja.
Dengan meletakkan cuplikan adegan-adegan dari kitab Kejadian 3 dan Yesaya 6 pada tempatnya, mulailah terbentuk gambar besar apa yang terjadi di Taman Sorga. Mungkinkah si ular itu makhluk supranatural tingkat tinggi sebagai bagian dari rombongan body guard, penjaga tahta Sang Ilahi?
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. (Kejadian 3:1)
Siapa pun paham, dalam dunia fauna ular bukanlah binatang yang paling cemerlang. Simpanse jauh di depan dalam kecerdikan menggunakan akal. Namun, jika ular sebagai perlambang makhluk dari alam sana, jelaslah Hawa berhadapan dengan makhluk dengan intelegensi yang cemerlang.
Makhluk supranatural yang berbincang dengan Hawa mempunyai kedudukan begitu mulia. Layaknya paspampres, body guard barisan paling akhir dalam menjaga pintu masuk ke tahta Sang Kuasa. Makhluk yang dipercaya, bak tangan kanan Sang Pencipta!
Dan… itulah yang memperdaya Hawa! Apakah ada pemberontakan di Taman Sorga dan Hawa menjadi korbannya? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
