416. Gemoy

Viewed : 319 views

Adam Hawa diusir secara kasar dari Eden. Dengan terburu-buru peradaban menyimpang ke kiri ke kanan, mengarah kepada berantakan. Bak akibat nila setitik, rusak susu sebelanga. Adinda bisa saja geleng-geleng kepala dan anggap: ”Masa hanya memakan buah, akibatnya dapat begitu parah.”

Nasi telah menjadi bubur! Itulah masa depan setiap insan, selangkah demi selangkah pasti menuju liang kubur. Jarun jam tidak mungkin lagi diputar mundur. Adinda, sedulur semua rapi antri teratur, dari takdir Adinda tidak bisa lagi kabur. Ini realita hidup di bawah surya yang tidak dapat lagi digusur.

Di balik layar, di alam sana, dunia yang tidak kelihatan. Jauh sebelum terjadi peristiwa trailer di Taman Eden, ada indikasi kuat, satu makhluk supernatural tergoda untuk bertindak di luar komando. Bertindak atas kehendak, keinginan dari diri sendiri untuk melawan.

Kamu adalah kerub penjaga yang diurapi, dan Aku telah menempatkanmu. Kamu ada di gunung kudus Allah; dan kamu berjalan di tengah-tengah batu-batu berapi. (Yehezkiel 28:14 AYT)

Si ular, sang cherub, bukanlah sejenis binatang, namun perlambang makhluk adi kodrati yang tidak sembarang. Dia sebagai bak orang kepercayaan dan menjadi salah satu penjaga tahta Sang Raja di Taman Sorga! Ibarat paspampres, dia berasal dari pasukan khusus yang mendapat tugas istimewa untuk berada di sekitar DIA.

DIA salah satu anggota terdekat untuk mengawal Sang Raja, anggota pasukan elite yang selalu berada di ring-1 istana. Dia bukanlah pribadi yang main-main, dia layaknya top of the top makhluk dari dunia sana.

Begitu spesialnya si ular, sang penjaga bak body guard, untuk sampai kepada status itu Alkitab memberi indikasi bahwa yang bersangkutan haruslah mendapat penugasan khusus, diurapi! Posisi yang begitu tinggi karena ada akses khusus di gunung Allah yang kudus!

Bagi bangsa Israel kuno yang turut merasakan pahit getir hidup di era pembuangan selama sekitar 70 tahun di Babel, istilah kerub dalam konteks peradaban Babelonia punya makna khas yang sudah menempel. Itu layaknya istilah gemoy bagi dikau yang hidup dan melek politik di perioda pilpres 2024!

Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan. (Kejadian 3:24)

Ibarat makna gemoy yang beraneka ragam, begitulah istilah kerub bagi kebudayaan di era raja Nebukadnezar di kawasan Mesopotamia, sekitar negara Irak sekarang. Ingat kerub, terbayang tugasnya sebagai penjaga sumber kehidupan! Tugas yang bukan sembarangan.

Ia mengendarai kerub, lalu terbang dan melayang di atas sayap angin. (Mazmur 18:10)

Ingat kerub, terlintas makhluk bak paspampres yang sibuk menjaga kiri kanan mengelilingi mobil yang dikendarai dan sekaligus sebagai sopir pribadi pilihan sang presiden. Demikianlah yang terlukis tugas khusus kelompok sang ular, menarik kereta yang dikendarai Sang Raja Semesta (2 Samuel 22:11; Yehezkiel 10:1-22).

Kemudian imam-imam membawa tabut perjanjian TUHAN itu ke tempatnya, di ruang belakang rumah itu, di tempat maha kudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub; (1 Raja Raja 8:6, sila lihat ayat 6-8)

Ingat kerub, terkenang-kenang 2 makhluk bersayap di Tabut Perjanjian yang secara khusus siang malam melayani DIA yang duduk di tahta! Kedudukan yang tiada duanya, selama-lamanya memandang muka-NYA.

Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! (Yesaya 14:13,14)

Aaahhh! Hingga di suatu masa entah berantah, kedudukan begitu spesial pun belum juga cukup. Si ular mengambil sikap sungsang, hendak menyamai DIA! Kekuasaan memang menggoda! Bukankah Adinda dapat merasakan bayangannya di era gemoy sekarang? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments