”Ketika bumi bulat bersepakat menendang langit, DIA seakan terjepit. Menantikan langkah-NYA berkelit, membuat penghulu malaikat pun tak kuasa berkedip!”
Rentetan kisah epik—mulai dari Taman Eden, Air Bah, hingga Menara Babel—menjadi kesaksian Alkitab tentang free will. Inilah anugerah istimewa bagi makhluk ciptaan, baik insan maupun entitas tak kelihatan: kebebasan untuk menentukan pilihan. Sebuah karunia untuk menuruti kehendak-NYA secara sukarela, atau justru memilih menantang surga.
Kesanggupan untuk menetapkan pilihan hati ini telah terpahat menjadi fitrah makhluk insani. Ini tidak hanya terbukti lewat riwayat pilu di Taman Eden, melainkan sebuah kebebasan purba yang terus berlanjut—mengalun dengan nada yang sama hingga detik ini.
Namun, sudah fakta bahwa sejarah telanjur diukir dengan tinta darah! Peradaban telah mengambil alih nasib perjalanan hidupnya. Sejak langkah kaki di luar gerbang Eden, tumpahan darah menjelma bumbu utama yang mengiringi jalannya sejarah manusia.
Semula, DIA begitu rindu menyaksikan makhluk dari kedua jenis dimensi diam bersama dengan rukun. Namun, mereka justru bersekutu melawan titah Sang Khalik. Kehangatan keluarga yang diidamkan itu pun akhirnya pupus, melayang bak layang-layang putus.
The first rebellion membuat manusia pertama terusir dari hadirat-NYA, Sang Sumber Hidup. Sebuah keterasingan yang sejatinya berarti kematian. Ikhtiar agung untuk meluaskan Eden ke seluruh penjuru bumi seakan terhenti, bahkan sebelum ayunan langkah pertama usai.
Malangnya, pembangkangan Adam dan Hawa segera disusul oleh tragedi yang tidak kalah menyayat batin: the second rebellion. Lembaran Kejadian 6:1-4 mengisahkan pembauran benih dari ranah tak kasat mata dengan rahim insan—sebuah asimilasi terlarang yang melahirkan generasi sungsang!
Generasi anomali ini membuat peradaban porak-poranda; melahirkan keturunan yang kehendak hatinya semata-mata condong pada kejahatan. Kekelaman zaman inilah yang membuat hati Sang BAPA begitu perih (Kejadian 6:6). Dari balik luka yang menganga, Sang BAPA yang Maha Pengasih akhirnya mengambil tindakan drastis: menyapu bersih seluruh peradaban dengan mega tsunami.
Tersisalah the survivors, hanya delapan jiwa. Begitu tak tega menyaksikan ciptaan-NYA binasa oleh amuk air bah, kemudian DIA mengikrarkan janji sakral: di masa depan, bencana serupa tidak akan pernah melanda lagi—sekalipun peradaban manusia kelak tumbuh kian bejat (Kejadian 9:8-11, 21).
Kendati demikian, DIA tidak pernah surut untuk mewujudkan the original plan. YHWH kembali memandatkan agar the survivors beranak cucu, berlipat ganda, dan memenuhi seluruh bumi (Kejadian 9:1). Namun, generasi berikutnya pun ternyata setali tiga uang dengan pendahulu mereka.
“Yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah.” (G.W.F. Hegel, filsuf Jerman abad ke 19).
Sejatinya, manusia memang enggan memetik hikmat dari masa lalu. Malahan sebaliknya, rekam jejak sejarah justru diramu menjadi siasat untuk meloloskan diri dari ’kungkungan’ Sang ILAHI! Seakan seluruh ikhtiar dan daya semata-mata dikerahkan hanya sebagai upaya untuk menyimpang dari rencana-NYA.
Andai dibiarkan tanpa kendali, manusia niscaya akan saling memusnahkan. Namun, DIA tidak akan pernah menelantarkan buatan tangan-NYA (Mazmur 138:8). DIA tetap setia mendekap the original plan: mengubah wajah bumi menjadi sebuah Eden global!
Memasuki babak drama the third rebellion: alih-alih menyebar untuk memenuhi bumi, peradaban justru berkeras memusatkan diri di satu kawasan (Kejadian 11:4). Lembaran sejarah mereka jadikan modal pengalaman—sebuah siasat kolektif untuk membentengi diri dari ancaman air bah di masa depan.
Sejauh mata memandang, tidak ditemukan satu jiwa pun yang masih hidup selaras di hadirat-NYA. Semuanya telah berkubang dalam pembangkangan; tak tersisa lagi kesetiaan. Seluruh peradaban telah bulat bersepakat untuk melawan kehendak-NYA.
Aaahhh..! DIA terusir dari rumah-NYA sendiri (Yohanes 1:10,11), namun DIA rindu untuk kembali ‘menginjakkan’ kaki di bumi! Romantisme ‘berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk’ (Kejadian 3:8) merupakan memori panjang yang menghiasi seluruh sisa narasi Alkitab!
Di tengah pekatnya pembangkangan semesta pada era itu, bagaimanakah kelanjutan ’permainan catur’ kosmis ini? What’s next? Bahkan entitas sekaliber penghulu malaikat pun dibuat tercengang, ’deg-deggan’ menyaksikan adegan selanjutnya! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
