“Sejarah ditulis oleh sisa-sisa jiwa yang setia. Di atas pundak the survivors, puing-puing dunia disusun kembali menjadi Global Eden yang merangkul seluruh cakrawala.”
Apa hendak dikata? Prahara telah nyata di depan mata. Sesuatu yang tampak memikat indra, siapa sangka menyimpan racun maut bagi jiwa. The first rebellion telah pecah. Adam dan Hawa terusir dari taman surga. Putus sudah akses menuju Pohon Kehidupan, mata air keabadian bagi makhluk fisik, manusia.
Adam dan Hawa terusir dari Eden. Mereka kehilangan kompas menuju teknologi kekekalan. Kematian bukan sekadar berhentinya detak jantung biologis, namun terputusnya relasi dengan Sang Sumber Hidup. Bumi yang mulanya harus ditaklukkan, kini berbalik rupa. Dari tempat kehidupan menjadi hamparan jagad pembantaian. Setiap hari bergelimpangan tubuh tak bernyawa siap dikebumikan.
Bagaimanapun Adinda memandangnya, dari sudut mana pun meliriknya, satu hal tak terbantahkan! Rancang Agung Global Eden kandas di langkah perdana. Namun, DIA tak mengenal plan B, rencana cadangan. Tiada kamus untuk kegagalan. DIA tetap tegak dengan niat hati-NYA semula. Mewujudkan global Eden melalui silsilah Adam-Hawa.
Belum sempat napas terhela, the second rebellion sudah di depan mata. Pemberontakan di Eden masih sulit dicerna, namun pembangkangan selanjutnya sudah siap meluluhlantakkan niat-NYA. Entah bagaimana mengurainya. Tiada jejak asal-usul yang benderang, apalagi ia pecah di alam seberang. Sayangnya, narasinya terlampau singkat. Seolah Kitab Suci hemat berkisah lebih jauh tentang peradaban yang begitu bejat.
Di alam adi-kodrati, segerombolan anak-anak Allah bermufakat. Mereka bersiasat untuk melahirkan makhluk yang segambar dengan rupa mereka (Kejadian 6:2). Sebuah upaya lancang meniru Sang KHALIK. Namun, yang lahir justru kengerian: generasi Nephilim. Sang raksasa, kaum blasteran dua alam yang ganjil. Kecenderungan hati mereka hanya berbuat jahat semata-mata (Kejadian 6:4-5).
Kaum hybrid ini membawa petaka. Kerusakan peradaban meledak, begitu parah hingga DIA pun dirundung lara. Hati-NYA pedih dan menyesal telah menitipkan napas pada manusia (Kejadian 6:6). Begitu kronis borok moral kala itu hingga satu-satunya jalan pembersihan hanyalah dengan membasuhnya dengan air bah. Memusnahkan segalanya demi sebuah awal yang baru.
Di tengah hamparan berlaksa-laksa jiwa, mata-NYA masih menemukan setitik cahaya, sebuah keluarga, Nuh dengan tujuh anggota keluarga. Hanya delapan jiwa yang berbeda dengan arus utama peradaban, mereka berdiri tegak saat seluruh dunia rebah dalam dosa. Inilah barisan survivors yang lolos dari murka air bah. Kala semesta ditelan bahtera maut, delapan jiwa ini melaju menembus kabut.
Syukurlah, celah itu masih ada untuk merajut kembali niat-NYA, meski terasa bak lolos dari lubang jarum. Secara statistik, rencana-NYA nyaris karam bak bunga layu sebelum berkembang. Kini, beban sejarah berpindah tangan. Perwujudan Global Eden terletak di pundak delapan orang. Di atas bahu yang rapuh, misi agung ini dibangun kembali.
’Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.’ (Kejadian 9:1)
Hati-NYA masygul melihat satu peradaban harus lumat oleh kebebalan. Ulah anak-anak langit yang melangkahi batas kudus, berbaur dengan raga fana, dan melahirkan generasi ganjil (Yudas 1:6). Namun, DIA bukanlah insan yang dirundung sesal tanpa daya (Bilangan 23:19). Tidak! DIA tetap setia pada janji-NYA. Konsisten merajut mimpi semula: Global Eden yang merangkul seluruh cakrawala.
Panggung peradaban pun berganti rupa. Lembaran baru terbentang bersih. The survivors menjadi hulu bagi seluruh suku di muka bumi. Secara ajaib, kedelapan insan ini berdiri sebagai saksi hidup. Mereka merekam kedahsyatan mahaprahara yang melumat dunia, sekaligus mengecap pengenalan akan YHWH secara karib dan nyata.
Kini, dakulah dan dikaulah the suvivors itu, sisa-sisa jiwa yang terluput dari amukan gelombang peradaban yang melumat siapa saja yang mengikuti tariannya. Adinda yang termasuk bukan fasih hanya mengucap: ’Tuhan Tuhan…’ namun juga mengecap pengenalan akan DIA melalui pengalaman di dalam bahtera kehidupan (Matius 7:21-23).
Di atas pundak Puan-Tuanlah, the survivors, amanat Global Eden kini diletakkan. Agar melalui langkah hidup Adinda walau tertatih-tatih, kehendak-NYA tegak di bumi, seindah bertahta di surga.
Selamat berjuang, kawan, Anda tidak sendirian! Masih ada “7000 teman seperjalanan” (Roma 11:4,5). (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
