Eden tidak hilang; ia hanya pindah ke dalam rahim ketidakmungkinan, menanti hati yang tulus untuk memanggilnya pulang.”
Ini perjalanan di luar nalar. Sebuah petualangan menembus cakrawala. Belum ada kaki fana yang pernah menapak ke sana. Pengembaraan ini merupakan suatu usaha melangkah kembali menuju taman sorga dengan menembus barisan penjaga dengan pedang yang menyala-nyala (Kejadian 3:24).
Bak bocah di pesisir yang sedang menggenggam ember kecil yang rapuh. Bolak-balik menimba air laut dan menuangkannya ke lubang pasir yang sempit. Seorang pemuda menatapnya seraya merasa itu kerja sia-sia. Tak tahan, ia pun bertanya: “Sedang apa di sana?” Si bocah berpaling tersenyum dan menjawab dengan tenang: “Mengeringkan samudera!”
Tawa pemuda itu meledak. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil sinis menghina impian si bocah. Namun, kenyataan bicara lain. Justru jiwa kanak-kanak inilah kuncinya. Dialah yang sanggup melintasi barisan para penjaga taman sorga (Matius 19:14). Ketulusan adalah paspor utamanya. Kepolosan adalah modal menghadap Sang RAJA. Kala kemustahilan tak lagi terurai oleh logika, biarlah batin yang mulai mencernanya.
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, (Kejadian 1:28)
’Penuhilah bumi..,’ menjadi mandat utama Adam dan Hawa. Inilah alasan mendasar eksistensi mereka. Dari mereka, lahirlah generasi demi generasi. Mereka diutus mendiami setiap jengkal negeri. Tak boleh ada tanah yang sunyi. Tiada satu pun sudut bumi yang luput dari hembusan napas insani.
Seiring jumlah insan bertambah, Eden pun merekah. Ia mengembang ke segala arah, di mana pun kaki menapak, di sana Kerajaan-NYA tegak. Inilah Rancang Agung sejak awal mula, agar kehendak-NYA nyata di seluruh buana. Saat bumi dipenuhi napas manusia, seluruh negeri pun berubah rupa menjadi taman sorga. Maka genaplah keinginan-NYA sejak semula, seluruh bumi menjadi Global Eden, sorga di bumi!
Adakah hamparan taman itu yang menjadi pusat pandangan-NYA ataukah sosok Adam dan Hawa berikut keturunannya?
Eden meluas mengikuti jejak peradaban, setiap tapak kaki insan adalah tanda. Sebuah tanda relasi yang harmoni antara alam, manusia, dan Sang KHALIK. Di mana pun Adam dan keturunannya berpijak, di sana Takhta-NYA bertahta dengan pemerintahan yang berlimpah suasana damai sejahtera. Sejatinya, Adam, Hawa, dan generasinyalah yang menyulap setiap jengkal tanah menjadi taman sorga!
Eden sebagai rumah pilihan-NYA di bumi dan sebagai gunung kudus menjadi simbol kosmik bagi pusat takhta dan kemudi pemerintahan-NYA. Di sana, dimensi adi-kodrati bertemu dengan ranah dunia. Dua alam yang berbeda kodrat, namun menyatu dalam pelukan yang erat. Sebuah titik temu nan agung, di mana alam langit dan ranah bumi tumpang tindih secara sempurna.
Adam dan Hawa adalah wakil-NYA di dimensi bumi. Bersama para penghuni samawi, mereka menjalin persekutuan, saling bergandeng tangan meluaskan kerajaan-NYA. Eden menjadi poros kosmik. Dari sana, otoritas-NYA mengalir ke seluruh muka bumi. Inilah kerinduan-NYA yang terdalam. Agar kehendak-NYA tegak sempurna di bumi sama seperti di sorga (Matius 6:10). Dua alam bersatu, harmonis dalam pelukan kedaulatan yang satu.
Sayang, akibat pandangan mata telah merenggut segalanya (Kejadian 3:6). Eden pun raib, entah ke mana. Kala manusia berpaling pada pilihan yang fana, taman surga luluh menjadi malapetaka. Manusia tetap ada, namun jejaknya tak lagi menghadirkan sorga. Alih-alih meluaskan taman sorga, justru terbukanya gerbang durhaka yang merusak tatanan semesta.
Buntukah Rancang Agung itu? Apakah mimpi tentang Global Eden telah pupus? Sepintas rencana itu putus. Sang KHALIK pun seakan terdesak untuk ‘hengkang’ dari bumi.
Aaahhh… inilah misteri yang paling sulit kucerna! Sebuah mission impossible untuk membangkitkan kembali Rencana Agung: Global Eden. Mengapa? Karena kini keberhasilan misi itu digantungkan pada pundak Adinda (Efesus 2:22).
Dan Ini bagian paling megah. Bak hikayat si bocah di tepi pantai. DIA selalu bekerja melampaui batas nalar. DIA menenun keajaiban di atas ketidakmungkinan. Agar kelak, saat fajar itu nyata menyingsing, siapapun tahu: itu bukan karena hebatku dan karyamu! (nsm).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
