445. Corporeal

Viewed : 222 views

Malaikat-malaikat pun berbuat dosa tidaklah begitu sulit diterima logika. Makhluk-makhluk dari dunia sana juga tidak sempurna. Bukankah si ular pun sejak semula, dari halaman-halaman pertama Alkitab sudah terang benderang melawan Sang Maha Kuasa?

Namun, makhluk lain dimensi mengambil rupa sebagai manusia dan berasimilasi dengan manusia sehingga lahir keturunan anomali, ini perkara yang sulit dimengerti. Jangankan bagi daku yang awam, mereka yang pakar teologia pun dibuatnya harus berpikir dalam-dalam.

Di satu sisi, tidak ada kawin mengawinkan di dunia yang akan datang. Setelah kebangkitan, manusia akan hidup seperti malaikat di sorga (Matius 22: 23-33). Kalau begitu, bagaimanakah narasi Kejadian 6:1-4 dimaknai sehingga koheren dengan cerita lainnya?

Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. (Matius 22:30)

Jika saja daku membaca ayat 30 di atas dalam konteksnya (ayat 23-33), dan membiarkan naskah ini bercerita apa adanya. Maka tampaklah, ayat 30 ada dalam bingkai isu keberlanjutan keturunan (ayat 24). Di alam sini, dibutuhkan keturunan berlipatganda agar dapat memenuhi bumi.

Di alam sana, perkara keberlanjutan keturunan tidak lagi diperlukan. Mengapa? Karena Adinda akan hidup seperti malaikat yang tidak membutuhkan menambah jumlah dengan menambah keturunan. Jadi, di alam tak kasat mata tidak ada lagi isu berkembang biak.

Di Taman Eden yang baru tidak akan dibutuhkan lagi regenerasi. Bukankah semua akan hidup abadi? Kematian telah ditaklukkan, maut telah ditelan dalam kekalahan (1 Korintus 15: 54). Wajar sekali, di Yerusalem baru tidak akan ada lagi kawin-mengawinkan seperti di bumi.

Jadi Matius 22:30 tidak menutup kemungkinan untuk malaikat bercampur dengan manusia dan menghasilkan keturunan. Apalagi drama Kejadian 6:1-4 tidak terjadi di alam setelah kebangkitan, peristiwa ini terjadi di bumi. Jadi ke dua bagian Alkitab tersebut tidaklah berlawanan.

Walaupun demikian, segerombolan malaikat menembus batas tabu hingga lahir generasi anomali masih sulit diterima secara akal. Namun sesungguhnya, drama Kejadian 6:1-4 masih belum terlalu misterius dibandingkan dengan peristiwa inkarnasi Sang Firman menjadi manusia (Yohanes 1:1, 14).

Malaikat mengambil bentuk jasmani secara fisik, corporeal, itu cerita nyata yang ditemui di sepanjang Alkitab. Berbagai penampakan malaikat dalam wujud manusia secara fisik merupakan kejadian-kejadian penting nan genting dalam konteks relasi YHWH dengan umatnya. Jika kejadian ini berlangsung berarti ada sesuatu peristiwa yang begitu berarti yang tengah terjadi.

TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon-pohon keramat tempat ibadat di Mamre. Pada waktu itu hari sangat panas, dan Abraham sedang duduk di pintu kemahnya. Ketika ia mengangkat kepalanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. (Kejadian 18:1,2 BIS)

Bukannya hanya malaikat, YHWH [TUHAN]-pun dalam Perjanjian Lama (PL) sering mengambil rupa sebagai manusia untuk berkomunikasi dengan tokoh-tokoh PL. Ke 3 orang yang dilihat oleh bapa Abraham, tentulah tampak sebagai manusia sejati, bukan orang-orangan, apalagi hanya makhluk yang gentayangan!

Abraham begitu semangat membasuh kaki-kaki mereka, tindakkan yang berdasarkan tradisi kala itu sebagai lambang ke 3-nya disambut dengan hangat (ayat 4). Abraham dan Sara buru-buru juga menyiapkan hidangan untuk mereka santap (ayat 8).

Bukankah narasi pertemuan Abraham dengan ke 3 sosok tersebut memperlihatkan secara nyata bagaimana makhluk dari dimensi lain dapat mengambil bentuk seperti manusia sejati? Bisa berkomunikasi, makan, bahkan mandi.

Namun hingga sampai kepada level melewati batas-batas kediaman (Yudas 1:6), apalagi berhubungan intem dengan perempuan-perempuan (Kejadian 6:1-4), ini tentu sulit dimengerti. Lebih-lebih lagi hubungan tabu itu melahirkan generasi anomali. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments