171. ’Divine Software’

Viewed : 647 views

Betapa uniknya manusia. Setiap orang khas dan berbeda. Bahkan si kembarpun tidak sama. Abang adik perangai tak serupa. Warna kulit, rambut, semua beragam rupa. Lebih dari 10 milyar manusia yang pernah ada, tak satupun yang mempunyai sidik jari yang sama. Keragaman yang begitu tak terkira.

Itu seumpama Sang Maestro membubuhi warna dan goresan yang khas untuk setiap karya. Begitulah setiap manusia, tidak ada yang sama. Setiap insan adalah hasil maha karya, masterpiece, Sang Pencipta (Efesus 2:10, bahasa Inggris versi NLT). Wow, manusia memang hasil karya luar biasa!

Begitupun dengan cara berpikir. Setiap individu punya sudut pandang sendiri hingga sampai pada kesimpulan akhir. Dalam melihat suatu peristiwa, tidak heran ada beragam tafsir. Yang seorang bisa saja mengatakan itu hemat, namun siapa sangka yang sebagiannya dapat menyimpulkan itu tindakan kikir. Setiap individu istimewa. Luar dalam, yang terlihat dan yang tak kasat mata, kita semua beraneka.

Dalam bingkai keunikan di atas. Goresan warna dan lengkungan garis. Setiap detail hasil karya masterpiece. Tak ada yang serupa, Adinda satu-satunya yang pernah ada di dunia. Dan tak ada yang serupa sejak dulu kala, maupun yang kelak akan ada. Mantap, bukan?

Untuk apa?

Untuk melakukan keinginan dan rencana-Nya bagi dunia dan alam semesta. Baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Itulah kehendak-Nya dari semula. Maksud abadi-Nya sebelum ada apa-apa (Efesus 3:11). Sebelum ada yang tercipta. Itu telah diputusakan dalam sidang ilahi sejak purba kala (Mazmur 82:1). Dan dan dan, Anda diikutkan dalam agenda-Nya. Punya peran penting yang tiada duanya.

So, keberadaan Anda bukan percuma. Tidak sia-sia. Peran Anda ditunggu oleh semua. Bahkan para malaikatpun heran dan bertanya-tanya (1 Petrus 2:12). Sssttt, diam dan tak harus itu digembar-gemborkan ke sini dan ke sana! Itu rahasia. Itu eksklusif untuk Anda. Karena hanya Adinda yang dapat melakukan dan mewujudkan kemauan-Nya dengan sempurna. Sang Pencipta begitu percaya dan pasrah kepada Adinda. Sebab Adinda itu kekasih-Nya.

Ups! Tunggu dulu!

Namun! Anda bukanlah patung. Patung kayu yang kaku. Bukan juga bagai arca batu. Kayu dan batu yang tak bernyawa, dingin membeku. Anda tidaklah bak orang-orangan di sawah yang bergerak kian kemari ikuti angin yang menerpa. Seakan seperti wayang yang menari turuti saja keinginan si dalang. Ataupun menyanyi sesuai dengan narasi bak aktris di atas panggung. Bukan!

Anda tidak pula serupa dengan robot. Gerak mulut, suara, dan mimik muka boleh sempurna berperangai bak manusia sejati. Segala tindak tanduk dan prilaku turut penuh selaras dengan keinginan yang mendesain. Tak ada inisiatif. Patuh mutlak kepada Sang Pembuat. Itu seperti makhluk robot yang di- install perangkat lunak ilahi (Divine Software). Tinggal ikuti kendali. Tak ada kemampuan untuk mengingkari. Semua jadi serasi. Begitu saja mengikuti gerak tari ilahi. Sayang, itu bukan yang Dia kehendaki.

Walupun tidak menggambarkan sepenuhnya. Namun, mungkinkah kita lebih kepada makhluk yang diinstall perangkat lunak Open Source?’ Software yang membebaskan pengguna menyusun ulang sekehendak hati. Seturut dengan kenyaman pribadi. Mengikuti hasrat nurani. Ataupun tersedianya fasilitas yang membiarkan pemakai mengembangkan sesuai selera sendiri. Itulah ciri kodrat insani.

Bukankah itu semacam anugerah ’free will’ (kehendak bebas)? Itulah yang menjadikan kita sebagai manusia. Insan yang ada kapasitas menentukan pilihan sendiri. Kreatifitas untuk merusak ataupun memperbaiki. Dan kemampuan untuk menulis software yang dikehendaki. Bukankah dengan demikian, setiap insan menanggung bebannya sendiri-sendiri?

Sejujurnya, manusia cenderung menghindar risiko. Karena itu tentu lebih gandrung kepada pendapat bahwa ‘Divine Software’-lah yang ambil komando. Manusia menari tinggal ikuti tempo. Irama dangdut ataukah poco-poco. Sehingga, dapat lepas dari akibat. Dan menuduh yang lain yang terlibat. Di Taman Sorga begitu. Sekarangpun tak beda, masih seperti itu.

“Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” (Kejadian 3:1-3)

Sejatinya, kemampuan memilihlah yang membuat kita manusia. Pilihan didasari dengan upaya analisa dengan bertanya. Jangan segan bertanya. Walau itu menyangkut yang paling tabu dari iman kita. Karena itulah sebabnya Adinda dicipta. Dirancang agar menjadi kekasih-Nya.

Aaahhh! Berharap masih ada yang berani bertanya. Bisa jadi kemungkinan jawabannya tidak ada. Di keadaan serba tak pasti masih ada yang rela. Ambil langkah irama ikut tarian ilahi yang mahamulia. Itulah yang Dia cari dari dahulu kala. Kendati gelap gulita. Berjalan dengan meraba-raba. Masa depan kelihatannya tidak ada. Akan tetapi rela pilih Dia yang setia dengan kata. Menjadi kekasih-Nya karena percaya. Moga kita termasuk bilangan yang rela! Semoga. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Comments

comments