177. ’The Divine Loss’

Viewed : 570 views

Bagaimanakah ini dapat diungkapkan? Dengan apakah dapat dikisahkan? Kosa kata tak cukup banyak untuk merangkai. Deretan kalimat pun angkat tangan walau hanya sekedar menganda-andai. Sekaliber sastrawan William Shakespeare pun kelihatan jadi kurang pandai. Ini tentang hati-Nya yang telah berabad-abad diabai.

Allah Kehilangan!

Walau dikau dapat belajar dari pengalaman orang lain. Sanggup menganalisanya. Memahami secara psikologi dampaknya. Sesungguhnya, perasaan ini tidak dapat diajarkan. Itu tidak didapat di ruang kelas sekolahan. Apalagi di program-program pelatihan. Memang tidaklah mudah memahami perasaan kehilangan.

Bagi mereka yang pernah mengalami sendiri. Merekalah yang dapat merasakan. Betapa sakitnya hati. Merananya sanubari. Jiwa terasa gamang. Seperti ada yang kosong. Hilang gairah. Jauh selera makan. Tidur susah. Akhirnya depresi di depan pintu, sudah! Bahkan tidak sedikit yang nekat “lari.’ Begitulah perasaan jika kehilangan.

Semua pernah alami kehilangan. Sehingga maklum akan rasa kehilangan. Tentu, kehilangan gula-gula tak sebanding dengan kehilangan kunci rumah. Rasa itu memburuk seiring signifikansinya, bukan? Semakin berarti yang hilang. Bertambah parah pula akibatnya.

TUHAN berkata kepada Israel, “Hai umat-Ku, sangkamu Aku mengusir engkau seperti seorang suami mengusir istrinya? Kalau begitu, di mana surat cerainya? (Yesaya 50:1)

Ini bukan sembarangan kehilangan. Bagi-Nya, ini seakan hidup dan mati! Kekasih hati telah pergi. Lama ditunggu tak kembali-kembali. Belahan jiwa sudah tak peduli. Hati-Nya dikadali. Dia kecewa dan ‘gigit jari!’ Dan Allah sakit hati. Sesakit lukanya ikatan suami istri.

Sebegitunyakah?

Begitulah sakitnya Dia rasa. Karena Dia kehilangan daku dan dikau. Itu seumpama cideranya ikatan suami sitri. Relasi Allah dan dikau itu semisal layaknya keinteman suami istri. Kesatuan Allah dan Adinda itu laksana ‘mereka bukan lagi dua, tapi satu’ (Efesus 5: 31,32). Dulu di Eden rasa sakit hati-Nya begitu. Sekarangpun seperti itu. Dan Dia akan tetap merasa kehilangan hingga waktu berlalu. Bak suami ditinggal pergi istri! Sakit sekali.

Aaahhh, masak?

Sang Maha Kuasa mengikatkan diri-Nya dengan dikau. Itu seakan suami istri disahkan di depan penghulu. Petugas sipil memngeluarkan ‘Surat Nikah.’ Sertifikat tanda janji sehidup semati. Tak terpisahkan. Tidak dapat diceraikan. Betapa ikatan yang begitu dalam dan langgeng. Sekali untuk selamanya.

Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” (Kejadian 2:23)

Kedekatan-Nya dengan dikau itu seumpana ‘inilah dia, tulang dari tulangku. Daging dari dagingku!’ Adakah arti lain dari ungkapan itu, selain kesatuan tak terpisahkan? Jiwa dan raga melebur padu jadi satu. Ikatan bathin serasa dan sepenanggungan. Satu sakit, yang lain ikut menjerit. Dikau pilu, bukankah Dia juga sendu?

Adakah gambaran lain? Ungkapan yang lebih pas. Simbol yang lebih jitu. Untuk menjelaskan. Mengungkapkan. Rahasia yang tersembunyi. Bahwa dikau itu begitu sepesial di hati-Nya. Dan dan dan.

Dia kehilangan dikau.

Adinda ada tempat istimewa di hati-Nya. Tempat yang tersembunyi dalam jati diri-Nya. Tak tergantikan. Satu-satunya. Dikau itu menyatu dengan diri-Nya. Berpadu dengan sanubari. Seakan hati-Nya habis tuntas terpaut kepada Adinda seorang diri. Dikau itu memenuhi hati-Nya! Seolah tak ada lagi tempat bagi yang lainnya. Tidakkah dikau sadari?

Tak tahunya. Siapa sangka. Itu diluar perkiraan. Tak masuk dalam hitungan. Apalagi dalam perencanaan. Cinta-Nya bertepuk sebelah tangan. Betapa sakitnya cinta ditolak tanpa alasan. Kesungguhan hati-Nya tak dapat balasan. Dikau menolak dengan memalingkan muka ke kiri ke kanan. Dan pergi begitu saja dengan yang baru kenalan.

Perasaan-Nya tersakiti. Dia meratap sendiri. Dan Dia sabar menanti. Kapankah dikau akan kembali? Sejatinya, oleh-Nya-lah hidup jadi berarti. Tentang nasib-Nya, siapa peduli.

Sesudah penahanan dan penghukuman ia [Sang Firman] terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. (Yesaya 53:8)

Siapakah yang peduli ‘nasib’-Nya?

Apakah itu sebabnya? Cepat atau lambat daku dan dikau akan alami. Bagian hidup yang tak dapat dihindari. Tak ada yang terkecuali. Semua yang hidup pasti akan menjalani. Agar dikau dapat mengerti. Betapa sakitnya kehilangan yang dikasihi. Jantung hati untuk selamanya pergi. Belahan jiwa mangkat dan tak mungkin kembali.

Betapa pedihnya hati ketika kehilangan suami, istri, atau orang yang dicintai. Dikau akan rasa jika sudah mengalami.

Dan aku terdiam. Mata terpejam. Kelu. Kaku. Satu saat nanti pasti akan dilalui. Kekasih hati selamanya pergi. Itu bagaikan mencicipi divine loss. Merasakan kehilangan ilahi. Mungkinkah itu suatu pengalaman berharga yang hanya terjadi kini? Untuk dapat mengerti rasa kehilangan ilahi.

Apakah seperti itu juga Dia alami? Rasakan. Pedihnya hati ditinggal pergi. Sedari zaman Adam hingga kini. Allah merasakan apa arti kehilangan. Moga masih ada yang memikirkan nasib-Nya! Dan segera kembali ke kasih hati. Semoga! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by PublicDomainPictures from Pixabay

Comments

comments