176. ’Divine Reality’

Viewed : 541 views

Allah memandang manusia begitu spesial. Cinta-Nya bersifat individual. Walau penduduk dunia lebih 7 milyar, namun hanya dikau seorang sepertinya yang ada di hati-Nya. Perhatian-Nya tercurah habis kepada dikau saja. Seakan apa pun yang Dia lakukan. Segala yang Dia pikirkan. Semua yang Dia rencanakan. Itu tak lain tak bukan. Semata-mata hanya untuk dikau seorang.

Begitulah cinta-Nya kepada Adinda. Cinta yang penuh. Tak terbagi. Bulat. Tidak berubah. Tetap hingga melewati akhir masa. Dan istimewa bak cinta pertama. Dari dulu begitu. Hingga sekarang tak lekang dilibas waktu. Hingga nanti tetap terus seperti itu.

Tak tahulah!

Akan tetapi! Dikau itu semacam ada tempat khusus yang tak tergantikan. Tiada duanya. Hanya dikau satu-satunya. Itu laksana sebuah keping dalam permainan ’Puzzle Games.’ Tanpa dikau maka gambarnya tak utuh. Tak lengkap. Kurang sempurna. Ada yang kurang. Walau semuanya sudah pada tempatnya, tanpa dikau permaianan tidak akan penah terselesaikan. Kehadiranmu begitu signifikan. Begitulah keberadaan dikau di hati-Nya. Adinda memang kekasih spesial. Kisah cinta yang fenomenal.

Dalam realita keseharian. Sejauh dapat dimengerti oleh seorang insan. Semampu panca indra bisa menerima pesan. Keberadaan dikau itu, seumpama sejoli terjerat cinta yang membara. Cinta pertama yang tak terduga. Engkaulah cintanya satu-satunya. Belahan jiwanya. Rindu dendamnya. Begitulah berartinya dikau dalam hidupnya. Begitu ‘kan realita dalam dunia nyata? Dunia muda mudi yang lagi dimabuk asamara.

Demikianlah juga! Engkau begitu istimewa. Bukan saja kekasih-Nya. Jauh lebih dari itu. Engkau itu bak tunangan! Kekasih yang telah dipinang. Seakan sejoli yang siap menuju pelaminan. Tak pelak lagi. Dikau itu penganten perumpuan dan Dia penganten laki-laki (Yohanes 3:29).

Dikau itu tunangan Sang Firman.

2The thing that has me so upset is that I care about you so much—this is the passion of God burning inside me! I promised your hand in marriage to Christ, presented you as a pure virgin to her husband.

3And now I’m afraid that exactly as the Snake seduced Eve with his smooth patter, you are being lured away from the simple purity of your love for Christ. (2 Korintus 11:2,3 bahasa Inggris versi the Message)

Terjemahan bebas dan paraphrasing:

2Sungguh sangat menyesal. Sepertinya sia-sia cinta-Nya yang berapi-api membara kepada dikau. Tadinya begitu berharap didapati dikau setia. Seloyal cinta murni seorang perawan untuk suaminya. Dan melihat itu di hari pernikahan. Itu dirayakan besar-besaran. Dikau bergandengan tangan dengan Kristus di pelaminan.

3Dan sekarang? Persisi seperti Hawa dirayu untuk tidak setia. Dikau tergoda. Menyeleweng. Main mata. Selingkuh. Setali dua uang. Engkau dan Hawa tidak beda. Adinda mengkhianati cinta mula-mula. Cinta sederhana kepada kekasih jiwa. Cinta pertama sirna entah ke mana. Engkau tidak setia. Dan Dia sangat kecewa.

Apa kata?

Di Eden Hawa tergoda. Dia berubah setia. Tidak bisa pegang kata. Termakan bujuk rayu Sang Pendusta. Si ular kobra. Umat di era Perjanjian Baru juga sama. Sekarang, bagaimana? Itupun tidak berbeda. Semua keturanan Adam sejak dulu kala. Hingga nanti di sana. Semuanya sama saja. Tunangan yang berubah setia. Bukankah itu dikau dapat rasa?

Daku dan dikau itu tunangan yang tidak setia!

Dan seperti kepingan puzzle games, Dia kehilangan Adinda. Sebuah kepingan yang begitu berharga. Itu tak dapat diganti dengan harta benda. Bahkan Adinda tak dapat dibeli dengan alam semesta (Markus 6:36). Bagi yang sedang jatuh cinta, pasti dapat rasa. Karena dikaulah segala-galanya.

Tetapi Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” (Kejadian 3:9)

Ini fakta. Bukan reka-reka. Ini realita. Realita Ilahi, Divine reality! Allah kehilangan! Berawal di Kitab Kejadian hingga yang penghabisan. Dari kisah keluarga hingga sejarah kerajaan. Baik di Kidung Agung hingga berbagai perumpamaan. Isinya tidak lain tidak bukan. Berceritera tentang gelisahnya hati. Usaha tak kenal lelah untuk terus mencari. Tak akan pernah diam hingga Dia mendapati. Kepingan yang ada tempat khusus di hati. Hati-Nya yang kehilangan.

Allah kehilangan!

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? (Lukas 15:8)

Allah kehilangan! Yang bener? Yes yes yes. Kehilangan daku dan dikau!

Di Eden Dia berseru: ‘Dimanakah dikau?’ Suara itu bergema terus melintasi waktu. Dia kehilangan keping yang mengisi kalbu. Di era Perjanjian Baru begitu. Walau keping itu hanya satu. Tidak lelah. Tak pernah henti. Walau dikau tak peduli. Dia akan terus mencari. Hingga nanti.

Adakah yang dapat merasakan kegelisahan hati-Nya?

Hiruk pikuknya kehidupan. Beratnya beban pekerjaan. Waktu dan kegiatan saling kejar-kejaran. Persaingan karier semakin gila-gilan. Dunia pekerjaan yang lumrah sikut-sikutan. Hidup penuh kebisingan. Bagaimana dapat momen untuk mendengarkan? Waktu jedah untuk merasakan.

Maaf, aku tak rasa apa-apa! Tak dengar Dia menyapa. Aaahhh, moga dikau masih bisa tertawa. Senyum di tengah dengar akan ada PHK. Tabah walau harus menderita. Sumringah karena tahu di depan sana. Menanti tak putus asa. Seakan Dia berkata: ‘Ngak Ada Loe Ngak Rame!’ (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Comments

comments