174. ‘Divine Dilemma’

Viewed : 834 views

Selingkuh cinta di Taman Eden adalah narasi hidup di luar Taman Sorga. Penyelewengan itu tertanam dalam setiap jiwa. Sekalian yang lahir ke dunia terjebak dalam kisah cinta. Cinta sudah ternodai. Itu berbekas dalam sanubari.

Saling percaya turut terciderai. Ragu dan sak wasangka menjadi bumbu sehari-hari. Tingkah laku insani dibingkai dalam narasi ini. Adam dan Hawa mengalami. Generasi berikutnya juga tak terkecuali. Generasi kini, sama saja.

Semua turunan Adam adalah si pengkhianat cinta. Di Taman Eden itu terjadi. Sekarangpun itupun terbukti. Itulah cerita hidup manusia hingga nanti.

Manusia [Adam] itu menjawab: “Perempuan [Hawa] yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (Kejadian 3:12)

Tadinya pasangan menjadi penolong. Setelahnya menjelma menjadi perongrong. Seterusnya tak segan saling berbohong. Mulanya dia sangat dibutuhkan. Dia didamba-dambakan. Yang diimpikan. Diharapkan.

Selanjutnya saling sikut-sikutan. Silih berganti menyalahkan. Cari selamat sendiri. Berlindung dari tuduhan. Dan tega si dia dijadikan korban. Tumbal karena perbuatan sendiri.

Semula dialah tulang dari tulangku. Daging dari dagingku. Kesatuan yang tiada henti. Serasa. Sepenanggungan. Senasib seperjuangan. Sehidup semati. Yang membuat hidup jadi berarti. Hanya maut yang dapat memisahkan.

Berikutnya saling menjerumuskan. Bak musuh dalam selimut. Kekasih hati ibarat duri dalam daging. Dibenci sekaligus dinanti. Dan dan dan. Daku dan dikau hidup dalam selimut dan dengan duri.

Runyam!

Adam sendirian. Lantas, muncul Hawa yang dirindukan. Sejoli yang saling mengimpikan. Akhirnya berpadu satu dalam pelaminan.

Seakan jika itu zaman sekarang, orangtuapun pasti senang. Undangan segera dicetak untuk disebar ke handai tolan. Tetangga juga turut riang. Berita rencana pernikahan itu bergaung gegap gempita di seluruh alam. Bukan hanya manusia, alampun ikut bersenandung.

Janur kuning telah terjurai. Di ujung gang, itu telah melambai-lambai. Seakan Penghulu sudah siap datang ke kondangan. Dia menjadi saksi dalam pernikahan. Semua kebutuhan prosesi telah disediakan. Penganten wanita didandani dengan hiasan-hiasan. Itu hadiah dari kekasih pilihan. Demi cinta, jangankan permata, nyawapun diserahkan. Begitulah cinta-Nya yang agung bagi dikau yang begitu Dia istemewakan.

Siapa nyana?

Dia terhenti di depan pintu. Mulut-Nya kelu. Dia terpaku. Seolah Dia gagap dan kaku. Dan berseru: ‘Sampai hati dikau mimilih bersanding dengan seteru-Ku!’

Didapati kekasih-Nya bersanding dengan yang lainnya. Hati-Nya pilu. Sakitnya bak disayat sembilu. Janur kuning saksi bisu. Di Taman Eden begitu. Sekarangpun seperti itu. Hati-Nya dikhianati selalu! Dan Dia diam membisu.

Seakan para undangan juga turut sedih dan gagu. Apalagi orang tua harus menanggung malu. Tak sangka dikau berbuat begitu.

Dia tertunduk mengeluh: ‘Apa salah-Ku?’ Melihat adengan itu, alampun tersipu-sipu. Daku dan dikau pengkhianat. Allah berduka. Alampun turut menjerit-jerit. Semuanya mengeluh sakit.

Kita tahu bahwa sampai saat ini seluruh alam mengeluh karena menderita seperti seorang ibu menderita pada waktu melahirkan bayi. Dan bukannya seluruh alam saja yang mengeluh; kita sendiri pun mengeluh di dalam batin kita. (Roma 8: 22,23 versi BIS)

Sudah kodratnya, hidup ini berpeluh. Wajar kalau mengeluh. Perselingkungan dimanapun, kapanpun, membawa bencana. Malapetaka yang menjalar ke mana-mana. Alampun turut menderita. Dunia tidak seperti yang dikendaki dulu. Daku yang menyeleweng, alampun ikut sendu. Eden telah berlalu. Selamat datang di tanah penuh onak dan batu.

Namun! Akan tetapi.

Dikau pasti dapat rasa. Jika hatimu tertambat kepada seseorang. Bukankah dikau hanya memikirkan yang terbaik bagi dia? Sudah fitrahnya, cinta akan selalu menginginkan yang terbaik bagi kekasihnya. Direncanakan dengan segala kemampuan, agar terjadi yang sempurna. Apapun dilakukan agar si dia senang selama-lamanya. Melihat dia tersenyum adalah rindu dendamnya.

Bagi Dia, dikau adalah diri-Nya!

Cinta membuat Dia bertindak. Tidak mungkin Dia tinggal diam! Sebab bagi Dia, tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran-Nya agar dikau menderita. Tidak pernah ada dalam hati-Nya agar dikau hidup di dunia. Dunia di luar Taman Sorga. Dari dulu, sekarang, hingga nanti, dan selama-selamanya tempatmu sangat istimewa. Taman Eden yang tiada dua.

Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. (Yohanes 17:14, 15)

Ups! Tempatmu bukan di dunia! Dunia penuh ular kobra. Marabahaya dan celaka.

Hati kekasih siapa yang tega. Melihat si jantung hati ada dalam bahaya. Begitu rindu Dia mengambil daku dan dikau dari dunia.

Tetapi entah mengapa. Ini dilema. Disatu sisi, Dia rindu dikau luput dari kekejaman dunia. Sisi lainnya, Dia rela membiarkan dikau melalui semuanya. Hidup di dunia yang fana. Jatuh bangun menggapai-Nya. Sampai nanti berjumpa di alam baka. Apakah itu lebih berguna? Tak tahulah!

Allah-pun mengalami dilema. Dilematis. Yang bener?

Jika dikau berhadapan dengan dilema kehidupan. Ingatlah! Divine dilemma! Kala kasih-Nya diperhadapkan dengan penderitaan. Jika kemahaan-Nya tak terlihat dalam kenyataan. Dan semuanya serba kontradiktif antara realita dan pengharapan. Iman menjadi dilema kehidupan. Jalani walaupun dek-dekkan. Moga setia hingga ‘hari’ perkawinan! Perjamuan kawin Anak Domba Allah nan agung. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Capri23auto from Pixabay

Comments

comments