Para sahabat terkasih,
Hidup ini harus dijalani di dalam anugrah.
“Sudahlah, lupakan segala komitmenmu itu, dan terimalah (sebuah fakta) bahwa kamu dikasihi Allah apa adanya.”
Demikian kataku pada sahabatku.
Ada mekanisme kompensasi yang didasarkan ego kedagingan kita, kita baru layak dikasihi, kalau kita sudah memenuhi standart etika, moral, norma, atau komitmen tertentu.
Hal ini secara alamiah mendarah daging di dalam hidup kita. Ketika hal itu diterapkan di dalam hubungan dengan Allah, yang penuh kasih karunia dan kebenaran, hubungan kita menjadi manipulatif dan legalistik. Titik gravitasi adalah pada diri kita, ego kita, yang ditantang, dipacu, adalah pencapaian aktualisasi diri kita.
Jikalau berhasil, berdasarkan standart yang kita tetapkan, kita jatuh dalam kesombongan (rohani), dan supaya berhasil, kita menjadi manipulatif dan legalistik. Jikalau gagal, kita terus berusaha mengkompensasinya dengan berbagai komitmen yang baru (yang legalistik juga), dan atau kita menjadi frustasi, kosong, lelah atau terbeban berat. Hidup kita menjadi hambar. Dua-duanya menyangkali kebutuhan akan anugrah Allah.
Bukan demikian caranya kita berelasi dengan Allah.
Padahal, hidup di dalam anugrah, adalah hidup tentang kasih, sukacita, damai sejahtera, ucapan syukur karena Dia beserta, manunggal, dengan kita. Mengalami persekutuan dan perjumpaan dengan Allah setiap saat lebih berharga dari ada segala pembuktian yang kita tunjukkan, bahwa kita layak “lebih” dikasihi. Bukan kebenaran kita yang dikejar tetapi Sang Kebenaran yang ingin mengejawantah di dalam hidup kita.
Bayangkanlah jikalau pribadi yang berada sangat dekat, intim dengan para Sahabat adalah pribadi yang penuh kasih yang demikian?
Wow, bukan?
Karena yang diminta Allah adalah sederhana, seperti kata Rasul Paulus, yang aku kehendaki adalah mengenal dan mengalami persekutuan dengan Dia sepenuhnya.
Terima kasih Tuhan, karena Engkau mengasihi saya apa adanya. Saya orang berdosa tetapi dikasihi dengan sempurna.
Karena dari kepenuhan Nya, kita menerima kasih karunia demi kasih karunia. (Yoh 1:16)
Salam
Teja – 14/6/2019
![]() |
Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah. |
Image by janwardenbach from Pixabay




