Pemahaman keterkaitan God’s sovereingnity, predestination, dan free will, serta tanggungjawab manusia sebagai makhluk bermoral menjadi terang dari drama di kota Kahila dan respon rasul Paulus di antara kaum filosof di gelanggang debat Areopagus. Begitulah prinsip keterkaitannya yang termuat dalam Alkitab.
Kaidah bagaimana DIA bersikap dalam memerintah ciptaan-NYA, baik di alam nyata maupun makhluk di alam sana. Begitulah keputusan-NYA tatkala DIA berinteraksi dengan insan maupun dengan makhluk non-insan. Itu bak benang merah yang merajut seluk beluk sejarah, jatuh bangunnya kebudayaan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Fondamental idea yang menjadi dasar bagaimana Alkitab mengisahkan cerita pilu peradaban, mulai dari drama di Taman Sorga hingga merajalelanya kejahatan ke seluruh sudut alam ciptaan. Pola sejak awal penciptaan insan hingga sekarang, bahkan itu akan terus demikian ke masa-masa yang akan datang.
Teka teki apa yang terjadi di Taman Eden mulai tersingkap. Si ular (salah satu dari anggota ring-1 penjaga tahta Sang Kuasa) unjuk sikap. Asal mula dosa terungkap, cikal bakal kerusakan moral terus bertumbuh berlipat-lipat.
Dari mana datangnya dosa dan kejahatan di muka bumi? Ini sudah menjadi hot issues sejak purba hingga kini. Masyarakat awam hingga kaum pakar, terus menerus bertengkar, bertanya-tanya hingga berbantah-bantah tak kelar-kelar.
Jelaslah DIA bukanlah sumber kejahatan, biang keladi munculnya kebiadaban. Tidak ada dasar Alkitab yang sahih bahwa the fall di Taman Sorga sudah ditentukan terjadi sebelumnya. Benar! DIA tahu apa yang akan berlaku. Namun, pengetahuan-NYA itu tidak mendorong peristiwa itu terwujud dan terlebih lagi itu sudah dipastikan sebelumnya.
Menyimpang! Jauh panggang dari api! Jika dikatakan semua peristiwa dalam sejarah peradaban manusia telah ditentukan sebelumnya, layaknya daku dan dikau hanya tinggal mengikuti skenario Sang Sutradara. Hanya karena DIA mengetahui mana-mana peristiwa yang akan terjadi dari berbagai kemungkinan yang ada, tidak berarti itu telah ditentukan sebelumnya.
Juga tidak dapat diterima secara moral akan gagasan bahwa DIA memanfaatkan tindakan-tindakan bejat menjadi bagian dari rancangan besar-NYA. Seakan-akan kejahatan diperlukan untuk mewujudkan kehendak hati-NYA.
Bagaimanakah dengan peristiwa ini?
Pembantaian, pelecehan, dan penculikan warga dari salah satu wilayah selatan Kibbuzt Beeri, Israel pada tanggal 7 Oktober lalu. Kelak mungkin ini akan dijuluki sebagai holocaust jilid 2 dalam sejarah paradaban modern. Kisah pilu tragedi kemanusiaan. Kebringasan, kebencian, dan dendam kesumat antar tetangga. Ini bukan sekadar cerita apalagi drama Korea, ini terjadi di depan mata!
Apakah DIA membutuhkan kebiadaban tersebut agar rencana-NYA bagi bangsa Israel terlaksana? Seakan-akan rencana-NYA yang sempurna membutuhkan peristiwa-peristiwa semacam itu sebagai tumbalnya. Seolah-olah DIA memerlukan kejahatan untuk merealisasikan maksud-NYA.
Maka aku bertanya: Adakah mereka [Israel] tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu. Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka. (Roma 11:11,12)
DIA tidak membutuhkan ketidaktaatan umat Israel, apalagi malapetaka, agar keselamatan-NYA sampai kepada bangsa-bangsa lain! Bayangkan saja! Jika pelanggaran saja sudah mendatangkan berkat bagi yang lainnya, apalagi kesempurnaan bangsa Israel!
DIA tidaklah menginisiasi munculnya kejahatan, namun kejahatan menjelma sebagai akibat penyimpangan penggunaan anugerah mulia, free will. DIA sama sekali tidak membutuhkan bencana sebagai sarana untuk mencapai tujuan-NYA! Kejahatan lahir dari pilihan sendiri Adam Hawa.
DIA tidak memerlukan kejahatan!
Namun entah bagaimana, misteri bagi hikmah dunia. Dalam kuasa dan kebijaksanaan-NYA, DIA dapat menggunakan kebejatan moral dan kelicikan hati manusia untuk menghasilkan kebaikan bagi sesama dan kemulian bagi nama-NYA melalui ketaatan anak-anak-NYA (Kejadian 50:20; Roma 8:28).
Holocaust di era digital sudah berlangsung. Air mata dan derita warga Israel dan juga warga Gaza hari demi hari jumlahnya semakin membumbung. Namun karena kebaikan hati-NYA yang tiada tara, peristiwa berdarah-darah itupun akan dapat digunakan untuk turut meluaskan kabar baik tentang Kerajaan-NYA! Semoga! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |



