Menuliskan fakta dalam rangkaian kata, jauh lebih mudah dari pada menghadapi realita. Walau enggan, namun kenyataan lebih baik dianggap sebagai teman ketimbang lawan. Ada yang menyebut itu sebagai takdir, atau pun garis tangan yang sudah terlanjur terukir. Tidak dapat diubah, itu sudah bagian dari sejarah.
Tidak ada guna menyalahkan masa lalu, kecewa dengan yang dulu-dulu. Lebih berguna sambut itu sebagai bagian dari rangkaian peristiwa yang turut membentuk kehidupan. Kehidupan yang, kemungkinan besar, membuat daku dan dikau menjadi ‘orang’.
Boleh dikau tidak setuju, atau pun daku ragu-ragu, namun itu sudah bagian dari sejarah masa lalu. Kerajaan Allah (KA) telah memilih hadir di muka bumi dalam konteks budaya Yahudi. Ribuan tahun KA mengalir deras melalui keturunan bapak-bapak leluhur bangsa Israel.
Sejarah panjang bangsa yang tidak ada habis-habisnya mengalami aniaya. Digempur dari semua sisi bahkan hingga dijadikan budak berulang kali. Suatu masa hampir seluruh penduduk diangkut dari negeri, puluhan tahun kemudian hampir-hampir tidak ada lagi yang berhasil kembali.
Bangsa yang unik, satu-satunya umat di mana Sang Pencipta berkenan menyatakan diri-NYA secara fisik. Bukankah itu narasi yang memenuhi kisah di 39 buku yang pertama? Kitab suci yang isinya semata-mata mengisahkan jatuh bangun relasi bangsa pilihan dengan Sang Kuasa.
Tidaklah kelewatan, jika dikatakan Sang Pencipta telah bertekad menyatakan DIA siapa melalui sebuah bangsa yang jumlahnya tidak seberapa. Bangsa keras kepala, selama berabad-abad tersebar di seluruh dunia. Dari sejak purbakala sampai sekarang juga hingga masa berganti era, kehadirannya selalu membuat geger tetangga bahkan dunia.
Di manakah ada Sang Pencipta alam semesta mengikatkan diri dengan satu bangsa? Ikatan berupa pernjanjian yang diungkapkan dalam aturuan ritual, kebiasaan yang fenomenal. Tradisi yang penuh makna, kebiasaan yang asing bagi tetangga. Suatu tanda yang menyatakan bahwa umat pilihan memang berbeda.
Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. (Kejadian 17:10,11)
Betapa serius pertanda ini! Sekaliber nabi Musa saja yang lalai nyaris mati (Keluaran 4:24-26). Bahkkan Mesias pun tidak terkecuali, tidak dapat dispensasi. Semua anak laki-laki yang lahir bagi umat pilihan tidak luput juga harus menjalani ritual suci, dikhatan di usia dini (Lukas 2:21).
Setelah ribuan tahun berlalu, tradisi fisik ini sudah dianggap sebagai bukti bahwa dikau tergolong umat pilihan. Sunat dan umat pilihan, relasi yang tak perpisahkan. Jika mengaku bagian dari umat pilihan, maka dikau harus dikhatan. Pemahaman dan kebiasaan ini melekat turun temurun, hingga di suatu masa itu menjadi persoalan.
Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 15:1)
Orang-orang Yahudi yang percaya dari Yudea tidak dapat menerima fakta lapangan. Bangsa lain yang percaya didesak untuk harus mengikuti tradisi yang diwariskan. Hanya sebagai pengikut Mesias tidak cukup kriteria untuk diselamatkan, haruslah juga mengikuti kebiasaan.
Perkara ini gawat! Berhari-hari para rasul dan umat berdebat untuk memisahkan mana kebiasaan dan yang mana inti sari dari iman. Bersyukur, jama’at mula-mula dapat sepakat untuk memilah-milah iman dari kebiasaan (Kisah Para Rasul 15:1-21).
Terlepaslah KA dari Yudaisme, setelah puluhan abad tumbuh subur dalam bingkai tradisi. KA bebas meluas ke berbagai negeri, mulai dari Yerusalem hingga ujung bumi. Mungkinkah hal yang sama terjadi? KA keluar dari agama kolonial, sehingga bebas mengalir menembus seluruh pelosok negeri? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |




