281. Legalistic

Viewed : 519 views

Masa pandemi seperti sekarang ini, sungguh masa-masa yang sangat sulit bagi mereka yang taat beragama. Mereka yang begitu memelihara urutan ibadah dengan teliti, ketaatan mengikuti urutan ritual sebagai bukti, bahwa ibadah telah berjalan sesuai aturan ilahi.

Sah tidaknya ibadah di hadapan ilahi bergantung sejauh mana tata ibadah diikuti. Kesalahan kecil dalam mentaati urutan, membuat hati mereka tidak tentram. Urutan ritual menjadi hukum yang harus diutamakan, itu sebagai tanda sayang Tuhan.

Kesungguhan dalam beriman, dilihat dari sejauh mana kesediaan mengikuti tata cara kebaktian. Ketundukan kepada Sang Pencipta, itu sama saja dengan kerelaan mengikuti pedoman yang sudah ditentukan. Kesopanan berpakaian dalam beribadah, itu sebagai ekspresi ketulusan dalam menyembah Allah.

So, wajar-wajar saja, jika dalam ibadah on line, ada himbauan agar umat berpakain rapi lengkap dengan sepatu. Jauhkan makanan dan minuman kala ibadah sedang berlaku. Duduk berdiri harap di tempat masing-masing sesuai dengan arahan yang memandu. Orang tua diminta untuk menertibkan anak-anak agar tidak mengganggu.

Bukan saja di seputar kebaktian, bahkan aturan itu pun sudah melebar dalam berbagai bidang kehidupan. Sulit mereka menerima, jika hidup tidak sesuai dengan adat kebiasaan yang sudah begitu lama. Mata terasa tidak enak, melihat jema’at melanggar adat istiadat.

Mereka ibarat polisi agama yang dengan sekuat tenaga menegakkan hukum Sang Kuasa, memastikan umat ikuti perintah agama. Ke mana dan di mana pun, mata mereka liar melirik ke kiri ke kanan dan jika umat lalai maka akan ditegor keras tanpa ampun.

PADA suatu hari beberapa orang pemimpin agama Yahudi datang dari Yerusalem untuk mengamat-amati Yesus. (Markus 7:1 FAYH)

Apalagi jika dikau termasuk ‘anak kemarin sore’, namun sudah terbilang tokoh populer, maka dikau akan diintai. Mereka tidak bisa santai, hati terus was-was layaknya seperti pengawas. Yesus dan murid-murid tidak luput dari radar. Mata curiga, bagaimana mungkin DIA bisa jadi begitu tenar.

Mereka begitu memegang kaidah ’anak tangga,’ senioritas penentu tingkat iman. Jenjang karier kerohanian sebagai penentu siapa diakau di hadapan Tuhan. Naik kelas rohani berarti satu tingkat anak tangga dilangkahi lagi. Semakin tinggi anak tangga dikau capai, semakin wibawa dikau secara rohani.

Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. (Markus 7:2)

Bangsa Yahudi, terutama orang-orang Farisi, tidak akan makan sebelum mereka membasuh tangan sampai ke siku, sesuai dengan adat istiadat mereka. (Markus 7:3 FAYH)

Golongan Farisi, kaum legalistic, yaitu mereka yang begitu memegang urutan. Najis tidaknya dikau dan daku di hadapan Tuhan, itu bergantung kepada urutan tahapan kegiatan. Kebenaran itu jika dilakukan A terlebih dahulu. Lalu B, kemudian C, dan akhirnya D, itu adalah formula yang pantang dipertanyakan. Urutan menjadi pedoman kehidupan dalam mengikut Tuhan. Ini tradisi baik yang telah berubah menjadi tradisionalisme.

Kalau saja dilakukan sesuai urutan, maka hati jadi nyaman karena sudah merasa membuat DIA senang. Namun, jika saja dikau abai berdoa sebelum makan. Maka mata Farisi terbelalak, menuduh dikau yang bukan-bukan, umat yang tidak tahu bersyukur kepada Tuhan. Doa sebelum makan menjadi hukum yang tidak dapat diabaikan, itu kebiasaan baik yang telah berubah menjadi kebenaran.

Era si Corona telah menjungkirbalikan semua urutan yang selama ini itu sudah dianggap sebagai suatu kebenaran. Mungkinkah daku dan dikau sudah menjadi budak aturan? Periksa hati kala tidak melakukan kebiasaan, nyaman ataukah gelagapan? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Joshua Eckstein on Unsplash

Comments

comments