348. A Black Hole

Viewed : 633 views

Perbedaan ini sangat mendasar. Untuk dapat merasakannya dikau tidaklah harus terpelajar, apalagi dituntut untuk menjadi pakar. Yang tidak mengecap sekolah dasar pun tahu kalau kenyataan ini benar. Tidaklah sulit jika bersedia jujur kepada diri sendiri, rela dengar kanan kiri. Perkara yang dulu-dulu tersembunyi, sekarang terbuka lebar.

Kalau…

Agama itu sibuk mengatur bagaimana umat dalam menghadap Tuhan. Memastikan urutan-urutan tindakan agar ibadah sesuai dengan kebiasaan. Jika dikau gagal mengikuti akidah, terasa ada yang kurang dalam beribadah.

Tidaklah heran, jika tokoh-tokoh agama menaruh perhatian penuh, bagaimana umat melakukan tahapan ritual secara utuh. Karena urutan walau kelihatan tidak signifikan, namun merupakan rangkaian akidah penyempurna kebaktian.

Bukan saja dalam perkara relasi jema’at dengan Sang Kuasa, agama juga ketat dalam mengatur apa yang wajib, agar hidup tertib. Ketakwaan diukur sejauh mana dikau taat mengikuti semua syariat.

Merayakan bulan baru, beribadah pada hari-hari dan waktu-waktu tertentu. Sibuk degan perayaan yang ini dan yang itu. Persekutuan di hari Rabu, jangan lagi tanya kesibukan di hari Sabtu dan Minggu.

Dikau dianggap mengasihi Tuhan, jika senantiasa ambil peran di setiap kegiatan. Dikatagorikan ke dalam kelompok elite rohaniawan jika siap memikul beban tanggung jawab pelayanan. Dan itulah cirinya kalau dikau dianggap sudah rela memikul salib Tuhan.

Belum lagi kalau dikau getol di persekutuan, semacam kelompok pemuridan. Terlibat intens di lembaga keagamaan. Organisasi yang tidak segan-segan menuntut penyerahan total kehidupan. Bukan saja tenaga, waktu, dana, bahkan tak jarang juga keluarga pun dikorbankan demi dianggap setia ikut Tuhan.

Dari satu kegiatan ke giatan, belum selesai urusan ini sudah antri acara itu. Tidak ketinggalan untuk terus didorongan agar bergairah belajar firman Tuhan dan sekaligus mengulang-ulang ayat hafalan.

Mulailah terampil menguasai metoda-metoda dalam menyampaikan firman Tuhan. Di luar kepala mengutip dan piawai mengurai rahasia firman Tuhan. Jika sudah begitu, maka sudah saatnya dikau dianggap layak berdiri di atas mimbar, dan menjadi pengkhotbah tenar.

Tidak terasa, dikau akhirnya didesak untuk menomorduakan lainnya. Rela mengabaikan teman-teman dan handaitolan demi hadir dalam persekutuan. Dan klimaksnya, siapa saja yang bersedia meninggalkan pekerjaan untuk duduk di lembaga keagamaan dianggap sebagai puncak penyerahan hidup kepada Tuhan.

Bagaikan black hole di alam semesta, kerajaan agama itu seperti lobang hitam yang menyerap semua benda di sekitarnya. Tidak pernah puas, bahkan cahaya pun dilalap habis tidak berbekas.

Dia tidak peduli keruwetan keluarga, tekanan di dunia usaha, dikau sakit apa, atau pun besok makan apa. Semakin banyak bertanya, kerajaan agama semakin menuntut: ’Apalagi yang dapat dikau korbankan! Apalagi yang dapat diberikan!’ Karena dengan demikian, Allah akan bereskan semua kesulitan.

Kerajaan Allah (KA) tidaklah demikian!

Jesus said, “What can I do for you?” The blind man said, “Rabbi, I want to see.” (Markus 10:51, the Message)

Kalau kerajaan agama fokus kepada kegiatan, menuntut apa yang dapat dikau berikan. Sebaliknya KA fokus ke manusia, Adinda! What can I do for you. Sang Raja datang untuk memenuhi apa yang daku dan dikau perlu. Walau sekitar jumlah orang beribu ribu, tetap saja perhatian-NYA terpusat ke pada kebutuhan setiap individu.

Kerajaan agama ibarat black hole yang menuntut tak henti-henti. Sebaliknya KA laksana matahari, terus memberi beri dan beri. Yang satu mendesak Adinda untuk terus berkorban. Yang lain, Sang Rajalah yang rela mati untuk Adinda, kekasih hati-NYA.

Semoga hidup daku dan dikau, sebagai warga KA, bak mentari yang memberi kehangatan di tengah-tengah pengap dan lembabnya kehidupan. Cahaya yang terus memancar, memberi pengharapan bagi semangat yang pudar. Semoga! (nsm).

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments