Tidak terasa, namun fakta. Tidak ada seorang pun yang dapat hidup di luar kerangkeng masa, waktu yang membelenggu manusia. Dia tidak peduli dikau siapa. Tanpa kenal ragu, tidak tergoda bujuk rayu, kaku, dan sang waktu terus laju maju.
Tidak pernah ada kesempatan untuk meminta, dikau dipaksa begitu saja hadir dalam babak drama di setiap masa. Di setiap era ada keunikan cerita, duka nan nestapa silih berganti dengan sukaria. Rangkaian romantika sambung menyambung membentuk sejarah dunia.
Jika saja dikau hadir di era kompeni, terlahir di masa kuda gigit besi. Belum ada isu polusi, apalagi krisis energi. Namun, dikau dapat turut merasakan pahit getirnya hidup di bawah cengkeraman era kolonisasi. Orang asing yang menguras hasil alam ibu pertiwi, dan anggap rendah penduduk pribumi.
Apa hendak dikata, pas pula di masa itu kekristenan datang ke Nusantara. Mereka yang hatinya menyala-nyala, oleh kasih-Nya yang membakar dada, datang dengan memanfaatkan jalur transportasi yang tersedia. Rela meninggalkan sanak saudara bahkan hingga tak segan menyerahkan nyawa.
Walau tidak begitu keseluruhan alur cerita, namun itulahlah yang tertanam di benak banyak suku di Nusantara. Pengalaman pahit dengan penjajah, bukankah semua itu tercatat dalam sejarah?
Memang begitu adanya, ini fakta yang harus diterima. Kerajaan Allah (KA) datang dalam bungkus penjajahan. Jika daku antusias menyambut KA, pelan tapi pasti akan berubah tampilan. Budaya lokal berubah meniru kebiasaan kaum kolonial.
Jika daku ada peran di ibadah suci, pakaiannya mirip-miriplah dengan di ibadah saudara seiman yang dibenci kaum pribumi. Ritual setiap hari Minggu pun setali tiga uang dengan yang ada di belahan dunia yang begitu berharganya sinar mentari.
Tidak dapat disalahkan, jika budaya KA semacam itu dianggap budaya penjajah. Itu agama penjajah. Ini bukan saja perkara iman, namun juga dianggap misi penjajahan kebudayaan, westernisasi. Begitulah yang didengung- dengungkan yang, sejatinya, tidak jauh dari kenyataan.
Itu terjadi beberapa abad lalu, sayangnya sekarang pun anggapan itu masih berlaku. KA diidentikan dengan budaya agama tertentu. Sudah belasan abad KA dijerat dalam bingkai kerajaan agama yang kaku.
Pas pula daku ada dalam era seperti itu! Peran dan pemahaman dikau bisa menjadi penentu. Membalikkan arah sejarah, bahwa KA tidak ada hubungannya dengan agama kolonial bahkan bentuk ritual.
Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!”.” (Markus 5:19)
Dikau akan dipertimbangkan untuk dapat peran jika sudah menjalani berbagai tahapan pertumbuhan spiritual. Terbukti setia dalam berbagai kegiatan ritual. Trampil bicara di depan. Sempurna jika ada pendidikan. Posisi lebih cemerlang sudah ada di tangan.
KA tidaklah demikian! Tak tertarik dengan isu doktrinal, apalagi tampilan. KA fokus kepada perubahan kehidupan. Bagi orang Gerasa yang kerasukan, tidak berguna menjalani semua tahapan pertumbuhan iman.
Bagi dia, kembali ke rumah, ke sanak saudara artinya menjalin lagi talisilaturahmi yang sudah berantakan. Tidak perlu mengutip ayat Firman Tuhan. Bahkan dia tidak perlu berkata apa-apa, kehidupannya sudah menjadi saksi nyata.
Ayo ayo ayo, balikkan arah sejarah! KA tidak ada sangkutpautnya dengan agama kolonial. Jalin kembali talisilaturahmi dengan lingkungan sendiri. Fokus kepada apa yang ada di hati. Di tempat kerja, tetangga, bahkan dengan sanak saudara, mereka sudah begitu lama menanti.
Ibarat peran orang Gerasa di antara saudara-saudara, keberadaanmu pun tidak ada yang dapat mengganti! Hidupmu sangat berarti karena itulah sebabnya dikau ada di era ini. (nsm).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |




